Kamis, 21 Agustus 2008 | 09:30 WIBSebagai langkah pertolongan pertama,
obat tradisional dapat diandalkan untuk mengatasi demam.

BANYAK orangtua panik bila mendapati suhu tubuh anaknya di atas
rata-rata atau sering disebut demam. Sebagai pertolongan pertama,
umumnya diberikan obat penurun panas yang berbahan dasar kimia seperti
golongan parasetamol, asam salisilat, ibuprofen, dan lain-lain. Jarang
sekali orangtua yang langsung teringat  memberikan obat-obatan
tradisional.

Padahal, obat-obatan tradisional yang berasal dari tanaman obat ini
tak kalah ampuhnya sebagai pengusir demam. Malah, obat-obatan
tradisional memiliki kelebihan, yaitu toksisitasnya relatif lebih
rendah dibanding obat-obatan kimia. Jadi, relatif lebih aman, bahkan
tidak ada efek samping bila penggunaannya benar. Soalnya, kandungan
tanaman obat bersifat kompleks dan organis sehingga dapat disetarakan
dengan makanan, suatu bahan yang dikonsumsi dengan maksud
merekonstruksi organ atau sistem yang rusak. Selain itu, harganya pun
lebih murah.

Tiga Jenis Demam

Namun, sebelum mengenal lebih jauh tentang tanaman obat penurun panas,
perlu dipahami lebih dulu pengertian demam. Demam pada anak dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Demam karena infeksi yang suhunya bisa mencapai lebih dari 380°C.
Penyebabnya beragam, yakni infeksi virus (seperti flu, cacar, campak,
SARS, flu burung, demam berdarah, dan lain-lain) dan bakteri (tifus,
radang tenggorokan, dan lain-lain).

2. Demam noninfeksi, seperti kanker, tumor, atau adanya penyakit
autoimun seseorang (rematik, lupus, dan lain-lain).

3. Demam fisiologis, seperti kekurangan cairan (dehidrasi), suhu udara
yang terlalu panas, dan lain-lain.

Nah, dari ketiganya, hanya demam yang disebabkan oleh infeksi dan
noninfeksi sajalah yang memerlukan obat penurun panas. Untuk
mempercepat proses penurunan panasnya, selain ramuan tradisional yang
diminum, dapat juga diberikan baluran atau kompres untuk membantu.

Akan halnya demam fisiologis, tak diperlukan obat-obatan penurun panas
karena umumnya jarang melebihi 380°C. Untuk menurunkan suhu tubuh,
cukup diberikan minum yang banyak dan diusahakan berada dalam ruangan
berventilasi baik atau berpendingin.

Aneka Obat Tradisional Penurun Panas

Inilah beberapa pilihan obat penurun panas tradisional yang dapat
dicoba. Penting diperhatikan, dosis yang tercantum pada ramuan berikut
adalah dosis untuk orang dewasa. Bila ingin diberikan kepada anak,
bacalah aturan dosis bagi anak dan sesuaikan dengan tingkatan usianya.
(Lihat boks: Dosis Aman untuk Anak.)

1. Lempuyang Emprit (Zingiber amaricans)

Memiliki kandungan senyawa minyak atsiri, yaitu sekuiterpenketon yang
bermanfaat untuk menurunkan panas. Umumnya yang digunakan adalah
rimpangnya; warnanya putih kekuningan dan rasanya pahit.

Caranya: Cuci bersih 10 gram umbi lempuyang emprit. Parut dan
tambahkan 1/2 gelas air panas, aduk rata. Setelah dingin, peras, ambil
sarinya. Campur dengan 2 sendok makan (sdm) madu bunga kapuk, aduk
rata. Berikan 3 kali sehari.

2. Kunyit (Curcuma longa)

Memiliki kandungan minyak atsiri, curcumin, turmeron dan zingiberen
yang dapat bermanfaat sebagai antibakteri, antioksidan, dan
antiinflamasi (anti-peradangan). Selain sebagai penurun panas,
campuran ini juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Umumnya yang
digunakan adalah rimpangnya; warnanya oranye.

Caranya: Cuci bersih 10 gram umbi kunyit. Parut dan tambahkan 1/2
gelas air panas, aduk rata. Setelah dingin, peras, ambil sarinya.
Tambahkan dengan perasan 1/2 buah jeruk nipis. Campur dengan 2 sdm
madu bunga kapuk, aduk rata. Bagi menjadi 3 bagian campuran madu dan
kunyit ini, kemudian berikan 3 kali sehari.

3. Sambiloto (Andrographis paniculata)

Seluruh bagian tanamannya dapat digunakan. Memiliki kandungan
andrografolid lactones (zat pahit), diterpene, glucosides dan
flavonoid yang dapat menurunkan panas. Bahkan pada tahun 1991 pernah
diadakan penelitian di Thailand bahwa 6 g sambiloto per hari sama
efektifnya dengan parasetamol.

Caranya: Rebus 10 gram daun sambiloto kering, 25 g umbi kunyit kering
(2,5 ibu jari), dan 200 cc air. Rebus hingga mendidih dan airnya
tinggal 100 cc, kemudian saring. Setelah hangat, tambahkan 100 cc madu
bunga kapuk atau mahoni, aduk rata. Bagi menjadi 3 bagian, berikan 3
kali sehari.

4. Pegagan (Centella asiatica L.)

Tumbuhan yang dikenal pula dengan nama daun kaki kuda ini tumbuh
merayap menutupi tanah. Daunnya berwarna hijau dan berbentuk seperti
kipas ginjal. Memiliki kandungan triterpenoid, saponin, hydrocotyline,
dan vellarine. Bermanfaat untuk menurunkan panas, revitalisasi tubuh
dan pembuluh darah serta mampu memperkuat struktur jaringan tubuh.
Pegagan juga bersifat menyejukkan atau mendinginkan, menambah tenaga
dan menimbulkan selera makan.

Caranya : Rebus 1 genggam pegagan segar dengan 2 gelas air hingga
mendidih dan airnya tinggal 1 gelas. Bagi menjadi 3 bagian dan diminum
3 kali sehari.

5. Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.)

Penampilan temulawak menyerupai temu putih, hanya warna bunga dan
rimpangnya berbeda. Bunga temulawak berwarna putih kuning atau kuning
muda, sedangkan temu putih berwarna putih dengan tepi merah. Rimpang
temulawak berwarna jingga kecokelatan, sedangkan rimpang bagian dalam
temu putih berwarna kuning muda.

Temulawak memiliki zat aktif germacrene, xanthorrhizol, alpha betha
curcumena, dan lain-lain. Manfaatnya sebagai antiinflamasi
(antiperandangan), antibiotik, serta meningkatkan produksi dan sekresi
empedu. Temulawak sejak dahulu banyak digunakan sebagai obat penurun
panas, merangsang nafsu makan, mengobati sakit kuning, diare, mag,
perut kembung dan pegal-pegal.

Caranya : Cuci bersih 10 gram rimpang temulawak. Parut dan tambahkan
1/2 gelas air panas, aduk rata. Setelah dingin, peras, ambil sarinya.
Campur dengan 2 sdm madu bunga kapuk, aduk rata. Bagi menjadi 3
campuran madu dan temulawak, kemudian berikan 3 kali sehari.

6. Bawang merah (Allium cepa L.)

Bawang merah sering digunakan sebagai bumbu dapur. Memiliki kandungan
minyak atsiri, sikloaliin, metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan
floroglusin.

Caranya: Kupas 5 butir bawang merah. Parut kasar dan tambahkan dengan
minyak kelapa secukupnya, lalu balurkan ke ubun-ubun dan seluruh tubuh.

7. Daun kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis)

Selain daun kembang sepatu, Anda juga dapat memanfaatkan daun kapuk
atau daun sirih. Kembang sepatu mengandung flavonoida, saponin dan
polifenol. Daun kapuk mengandung flavonoida, saponin dan tanin. Daun
sirih mengandung flavonoida, saponin, polifenol, dan minyak atsiri.

Caranya: Cuci bersih daunnya, keringkan dengan lap bersih, panaskan
sebentar di atas api agar lemas. Remas-remas sehingga lemas, olesi
dengan minyak kelapa, kompreskan pada perut dan kepala.

8. Meniran (Phyllanthus niruri L.)

Tinggi tanamannya mencapai 1 meter, tumbuh liar, daunnya berbentuk
bulat tergolong daun majemuk bersirip genap. Seluruh bagian tanaman
ini dapat digunakan. Memiliki kandungan lignan, flavonoid, alkaloid,
triterpenoid, tanin, vitamin C, dan lain-lain. Bermanfaat untuk
menurunkan panas dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Caranya: Rebus 1 genggam meniran segar dengan 2 gelas air hingga
mendidih dan airnya tinggal 1 gelas. Bagi menjadi 3 bagian dan diminum
3 kali sehari.

9. Air kelapa muda

Air kelapa muda banyak mengandung mineral, antara lain kalium. Pada
saat panas, tubuh akan mengeluarkan banyak keringat untuk menurunkan
suhu tubuh. Nah, untuk menggantikan keringat yang keluar, perbanyaklah
minum air kelapa.

Dosis Aman untuk Anak

Penggunaan tanaman obat dengan dosis yang tepat tidak akan menimbulkan
efek samping dan aman. Berikut dosis yang direkomendasikan untuk anak: 

Usia                       Dosis  

Bayi                       1/8 dosis dewasa

2­-5 tahun              1/4 dosis dewasa

6­-9 tahun              1/3 dosis dewasa

10-13 tahun           1/2 dosis dewasa

14-16 tahun          3/4 dosis dewasa

Penulis: Utami Sri Rahayu

Konsultan Ahli: dr Adji Suranto, SpA dari Perhimpunan Dokter Indonesia
Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT DKI Jaya)


Kirim email ke