Dear Fe...
aku paham sekali apa yg kamu rasakan...bagaimana sedih, gondok, kesal, dan 
betenya menghadapi situasi seperti itu. Ditambah situasi tidak kondusif karena 
tinggal di rumah mertua...oh...bertambahlah rasa tdk nyaman itu.
 
Fe, bukan saya bermaksud membela mertuamu atau tdk memahami posisimu, tapi 
mungkin Fe perlu tahu bahwa anak usia 3 tahun itu memang sedang dalam fase 
egosentris. Sedang dalam puncak-puncaknya. Sedang egois-egoisnya. 
 
Bukan karakter anaknya yg seperti itu, anak seumuran keponakanmu itu memang 
sedang masanya belajar dan mengeksplorasi rasa ego, bekal bagi masa depannya 
kelak. Suatu saat kelak, baby Fe juga akan mengalami hal ini. Bisa sama persis, 
bisa sedikit berbeda. Tapi pada intinya, anak sedang dalam masa di puncak 
eksplorasi ego. Dia belajar mengenal ego, belajar memanipulasi ego, belajar 
mengendalikan ego, belajar mempertahankan ego, belajar mempertahankan hak 
milik, kemauan, ide, dsb.
 
Mungkin saya gak usah berpanjang-panjang menjelaskan, coba kamu baca ini ya
http://bunda2f.multiply.com/journal/item/123
 
Nah, sekarang inti masalahnya, gimana menghadapi balita ini. Oke, kalo boleh 
saya kasih saran, balita seperti ini memang gak akan mempan kalo dibilangin, 
gak akan masuk. Tapi bukan berarti mereka gak bisa diajak kompromi dan diskusi 
lho. Coba deh kamu atau mertua bikin pendekatan ke dia. Ajak ngomong yg santai 
sambil becanda, tanpa emosi.
 
Misalnya gini
"Bagas (asal sebut nama ya), kog bagas pukul-pukul pintu kamar adek sih, kan 
kasihan adek lho, nanti kalo adeknya kebangun Bagas juga lho yg repot, berarti 
nanti Bagas mainnya keganggu adek, semua orang nanti perhatiin adek, bukan 
perhatiin Bagas. "
 
 ato begini, kadang-kadang anak seumur ini haus sekali perhatian dan pujian. 
Gak ada salahnya dia juga selalu dilibatkan dalam berbagai hal menyangkut adik 
sepupunya itu. 
 
Misalnya gini
"Bagas, adiknya nangis tuh, kita liat yuk, wah, adiknya ngompol, kita gantiin 
yuk popoknya, Bagas bisa gak tolong ambilin?"
 
Kalo dia berhasil, jangan lupa puji dia setinggi langit
 
"Wah, kakak Bagas hebat ya, hebat banget, bisa ambilin popok adek, nanti kalo 
adek udah besar, pasti dia bangga banget punya kakak sehebat Bagas"
 
Pokoknya jangan lupa selalu puji dia setinggi langit, ini penting sekali, 
supaya dia mendapat perhatian positif dan perasaan senang karena tdk merasa 
tersisih. 
 
Jadi pujian positif ini penting agar dia tdk menyalurkannya ke energi negatif. 
Lebih baik dia berusaha meraih pujian positif dengan berbuat baik karena sering 
kita puji daripada perhatian negatif dg cara berbuat kasar karena sering 
dimarah-marahi. 
 
Moga-moga membantu ya, maaf kalo kurang berkenan
Maya Siswadi - Bunda 3f
http://bunda3f.multiply.com


      

Kirim email ke