Dear Moms, Diluar semua pendapat itu, klo menurut saya : ALLAH tidak akan mencelakakan hambanya karena puasa. Baik yang sehat, Ibu hamil, Ibu menyusui dll Semuanya tergantung niat dan keyakinan kita. Dengan berpuasa kita dapat mengajarkan sang janin berpuasa juga, dan memang kita harus mengajarkan ibadah dan hal2 lain waktu masih dalam kandungan agar kelak, si bayi menjadi anak sholeh & sholehah, pintar, berbakti. AMIN Kita harus yakin dengan rahmat Allah, karena Allah tidak akan memerintahkan hambanya untuk bermaksud mencelakannya. Banyak hal2 yang dapat dilakukan pada saat berpuasa, kita bisa mengenalkan puasa, beribadah, berzakat, berdzikir dll. Karena memang pada saat Ramadhan ini semua pintu maghfiroh terbuka, mudah2an anak kita kelak tidak akan terlalu sulit untuk diajarkan beribadah. AMIN. maaf bila tidak berkenan.
MAMA ALYA dulu puasa juga baik waktu hamil dan menyusui --- On Thu, 4/9/08, palupi satya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: palupi satya <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Ayahbunda-Online] Hukum puasa bagi wanita hamil dan menyusui To: "Ayahbunda online" <[email protected]> Date: Thursday, 4 September, 2008, 5:26 PM Diambil dari milis sebelah, semoga bermanfaat.. . Salam, Lupi~Ara's mum~ ------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- -------- assalamualaikum, saya mau bertanya mengenai kewajiban untuk membayar qodho dan bayar fidyah bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak dapat berpuasa pada bulan ramadhan dengan alasan takut membahayakan janin yang ada dalam kandungannya atau juga khawatir terhadap dirinya sendiri, karena ketika saya buka-buka di al-manhaj ternyata terdapat dua pendapat yang membuat saya bingung, yaitu mengqadha puasa atau membayar fidyah. Berikut ini saya singkatkan uraian dari para ulama tersebut sebagai berikut : 1. Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (mengqodho puasa) Wanita menyusui dan wanita hamil ini bisa disamakan atau diartikan sebagai orang sakit, akan tetapi jika udzur kedua wanita itu karena ada rasa khawatir terhadap bayi atau janin yang dalam perut maka di samping mengqadha puasa, kedua wanita itu diharuskan memberi makan kepada seorang miskin setiap harinya berupa makanan pokok, bisa berupa gandum, beras, korma atau lainnya. Sebagian ulama lainnya berpendapat : Tidak ada kewajiban bagi kedua wanita itu kecuali mengqadha puasa, karena tentang memberi makan orang miskin. tidak ada dalilnya dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, ini adalah madzhab Abu Hanifah dan merupakan pendapat yang kuat. 2. Menurut Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta (mengqodho puasa) : ketika beliau ditanya mengenai Wanita yang sedang hamil atau menyusui yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena khawatir pada dirinya atau anaknya, Apakah ia harus mengqadha serta memberi makan pada orang miskin, atau ia harus mengqadha saja tanpa perlu memberi makan kepada orang miskin, ataukah cukup baginya untuk memberi makan tanpa perlu mengqadha puasanya ? Manakah yang benar diantara ketiga hal itu ? Jawaban Jika wanita hamil itu khawatir kepada dirinya atau anaknya jika berpuasa di bulan Ramadhan, maka hendaknya ia tidak berpuasa dan wajib baginya untuk mengqadha puasanya saja. Statusnya saat itu adalah seperti orang yang tidak kuat untuk berpuasa atau takut akan timbulnya bahaya pada dirinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Bagi Siapa Fidyah Itu (hanya membayar fidyah saja) Bagi ibu hamil dan menyusui jika dikhawatirkan keadaan keduanya, maka diperbolehkan berbuka dan memberi makan setiap harinya seorang miskin, dalilnya adalah firman Allah. "Artinya : Dan orang-orang yang tidak mampu berpuasa hendaknya membayar fidyah, dengan memberi makan seorang miskin" [Al-Baqarah : 184] Sisi pendalilannya, bahwasanya ayat ini adalah khusus bagi orang-orang yang sudah tua renta (baik laki-laki maupun perempuan), orang yang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, ibu hamil dan menyusui, jika dikhawatirkan keadaan keduanya, sebagaimana akan datang penjelasannya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma. Wanita Hamil dan Menyusui Gugur Puasanya Keterangan ini menjelaskan makna : "Allah menggugurkan kewajiban puasa dari wanita hamil dan menyusui" yang terdapat dalam hadits Anas yang lalu, yakni dibatasi "Kalau mengkhwatirkan diri dan anaknya" dia bayar fidyah tidak mengqadha "Artinya : Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin" [Al-Baqarah : 184] Maka jelaslah bagi kalian, bahwa wanita hamil dan menyusui termasuk orang yang tercakup dalam ayat ini, bahkan ayat ini adalah khusus untuk mereka. Apakah benar kesimpulan saya bahwa hukum untuk mengqodho puasa berlaku kepada Ibu yang tidak berpuasa karena khawatir terhadap keadaan dia sendiri atau keadaan janin yang dikandungnya? jadi dalam hal ini kesehatan ibu atau anak merupakan alternatif dan bukan merupakan gabungan? misalnya kesehatan ibu sangat baik dan sangat memungkinkan untuk puasa namun karena janin masih membutuhkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan organ terpentingnya, maka ibu memutuskan untuk tidak berpuasa atau sebaliknya, janin sehat tapi ibu sakit maka dokter menyarankan untuk tidak berpuasa. Sedangkan hukum untuk membayar fidyah berlaku jika kesehatan ibu dan anak dikhawatirkan apabila sang ibu menjalankan ibadah puasa, dalam arti syarat untuk memberlakukan hukum fidyah itu jika kondisi ibu dan anak dikhawatirkan terganggu jika menjalankan ibadah puasa? sehingga syarat kesehatan ibu dan anak merupakan kondisi yang tidak terpisahkan. Misalnya kondisi ibu dan janin sama-sama sakit. New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
