hi ...
selamat berpuasa semuanya (yang berpuasa tentunya). saya mau bertanya sebelum 
kejadian lagi. ceritanya, hampir seluruh keluarga besar dari suami saya, 
tinggal di JABODETABEK. malah bogor kaya'nya tidak ada. mayoritas di jakarta 
(selatan, utara, pusat, timur, barat). hanya kami yang tinggal jauh. nah, 
keluarga besar ini masing-masing punya tradisi bertemu. 
menurut saya, karena saya paling jauh dan masih punya anak kecil (kalau pergi 
bawaannya buanyak-nyiapinnya perlu waktu-disananya si kecil belum tentu nyaman 
karena buanyak orang), saya menganggap tidak semuanya harus dihadiri. 
saat hamil 9 bulan saya pernah memaksakan diri ikut datang. saya masih tinggal 
di anyer. berangkat pagi, mampir dulu menjemput ipar di bekasi terus arisannya 
di cibubur kota wisata. kebayang berapa jauh kan? badan rasanya nggak keruan. 
duduk berjam-jam di mobil kemudian lesehan di acara. sulit diceritakan tapi 
kapok banget. 
saat lebaran tahun lalu, belum setahun usia si kecil. saya sebelumnya sudah 
berpesan kepada suami, saya tidak ingin mengikuti semua undangan. tolong 
dipilih yang penting saja. jarak dari satu rumah kerumah lain kan lumayan jauh. 
si kecil belum kuat juga jalan sejauh itu dalam sehari. jadi dipilih saja. 
sisanya kalau memang mau datang, silakan datang sendiri. 
betul dugaan saya. dari pagi saya harus menyiapkan makan si kecil untuk 
seharian. lha katanya dekat dan cuma sebentar dan cuma ke sini lha ternyata 
sampai dirumah lagi hampir maghrib. untung saya siapkan ganti si kecil juga. 
dirumah transit masih harus masak dan cuci baju kecil. saya tidak bisa makan 
ketupat dan lontong selama seminggu tiga kali sehari. lha ternyata, kami 
bertemu juga dengan orang dan atau rombongan yang sama bisa 3 kali di tempat 
yang berbeda. dan anehnya, orang sebanyak itu tidak semuanya saling mengenal. 
bahkan suami saya pun tidak terlalu kenal dengan tuan rumahnya. sepertinya si 
tuan rumah open house. begitu yang terjadi selama 3 hari berturut-turut.
saya menyerah hari ketiga dan meledak marah karena sangat amat lelah. memang 
jarak yang jauh, menggendong dan menyusui, si kecil tidak bisa turun bergerak 
khawatir semua dekorasi dan jamuan buyar, plus makan telat karena saya sering 
tidak punya waktu makan. saya sangat menyesal suasana lebaran yang harusnya 
ramah dan damai dan menyenangkan berakhir dengan pertempuran. saya sudah tidak 
kuat. tidak bisa istirahat sama sekali. siang malam. sangat amat lelah sekali.
bunda-bunda, bagaimana sebaiknya? keluarga besar dari pihak saya bertebaran 
hampir di semua pulau. dan tidak semuanya menuntut dikunjungi. mohon saran dan 
sharingnya yah. terima kasih.
salam,


      

Kirim email ke