hi mbak ati ... kalau saya termasuk saya tidak percaya dengan istilah bau tangan. awalnya dari papa saya yang kalau ke masjid melewati sebuah rumah yang ada toko kecil dengan mesin fotokopi, alat tulis, dan jualan kecil-kecil. terus si pemilik toko, seorang ibu muda. siang, sore, malam hanya ada ibu itu yang melayani pembeli. dan SELALU sambil menggendong bayinya. tidak pernah tidak digendong. dan yang menggendong selalu ibunya. sambil fotokopi, sambil jualan, sambil nyapu, dan sebagainya. sekian lama dengan pemandangan yang sama. satu kali papa saya lewat, si anak sudah lari-lari lagi. papa saya iseng nanya; mbak, kok tidak digendong lagi? si ibu menjawab dengan sederhana ; sudah tidak mau digendong lagi, pak. lalu papa saya berkesimpulan : kalau ibu menggendong bayinya dengan hati yang tulus ikhlas dan penuh kasih sayang, bayinya pasti merasakan itu. dan acara gendong-menggendong itu kan tidak lama. maksimum 2 tahun. setelah dia bisa tengkurap, duduk, merangkak, belajar berdiri dan selanjutnya, bayi sudah sulit digendong. akibatnya, okta dulu selalu digendong sama papa saya sampai umur 40 hari, sebelum saya bawa pulang kerumah. kalau mama saya protes; jangan digendong terus. kasihan mamanya (saya, maksudnya) disana kan tidak ada pembantu tidak ada siapa-siapa. kalau biasa digendong, siapa yang gendong? papa saya menjawab enteng ; ya, mamanya to. akhirnya memang itu yang terjadi. okta selalu saya gendong bahkan sampai sekarang pun, usianya hampir 2 tahun, kalau dia tidak minta turun sendiri, masih digendong. pemandangannya memang jadi lucu. kalau saya belanja ke warung, kalau okta tidak di stroller berarti digendong. okta mau siy jalan. kalau digendong pun seringkali sudah nggak keruan. nggak nurut lagi. pengen turun mberosot-mberosot. begitu turun, dia pasti langsung melesat. yah, itu pengalaman saja yah. sisanya keputusan masing-masing lah yaouw :) salam,
