Sebagai orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk
anak, berharap dapat mempersiapkan anak agar mendapatkan masa depan yang
baik.Berbagai
cara pun ditempuh dari menyiapkan kebutuhan sehari-hari maupun untuk
pendidikannya. Orang tua bersedia melakukan berbagai macam hal agar dapat
memberikan yang terbaik bagi anaknya. Seperti halnya pendidikan yang merupakan
salah satu bekal bagi anak untuk meraih masa depannya.
Tapi terkadang begitu besarnya harapan orang tua sehingga terkadang
melupakan apa yang sebenarnya diinginkan seorang anak. Orang tua begitu
berharap pada prestasi anak baik dalam pendidikan sekolah maupun di luar
sekolah sehingga seringkali memaksakan anak untuk terus belajar dan belajar
sehingga waktu bermainpun tidak ada. Seorang teman pernah bercerita melihat
teman sekelas anaknya menangis di kelas karena ulangannya mendapat nilai 70,saat
ditanya kenapa, anak itu ternyata takut dimarahi oleh orang tua-nya. Begitu
burukkah nilai 70 itu? Bagi saya memang nilai 70 itu tidak istimewa sekali tapi
juga bukan nilai yang buruk (atau saya saja yg terlalu bodoh?). Pernah juga
mendengar cerita tentang anak yang tiba2 tidak mau sekolah lagi. Saat ditanya
ayahnya, dia menjawab aku bosan dipaksa belajar dan belajar terus, biar saja
kalau
ibu mau marah-marah terus.
Begitu banyak orang tua yang mengharapkan anaknya memperoleh
ranking yang baik tanpa melihat seberapa besar kemampuan anak tersebut. Apakah
ranking begitu penting? Tak peduli nantinya anak menjadi tertekan bahkan
stress.Apakah
ranking yang baik pasti menjamin masa depan yang baik? Bukankah pengelolaan
emosi yang baik juga sangat berperan untuk masa depan. Bayangkan jika baru SD
saja anak2 sudah enggan bersekolah karena terlalu banyaknya tuntutan dari orang
tua, padahal masih begitu panjang jenjang sekolah yang masih harus ditempuh
setelah itu. Jangan berpikir bahwa bagi saya belajar itu tidak perlu, dalam
kehidupan ini sampai kapan-pun kita memang harus belajar seperti kita belajar
berteman, belajar berbagi, belajar tentang lingkungan sekitar dan banyak hal
lain. Betul, siapa yang tidak bangga bila anak berprestasi, saya rasa semua
orang tua berharap anaknya dapat berprestasi, dan justru di sinilah orang tua
berperan sebagai pendorong semangat anak untuk terus maju, membangkitkan
semangat anak pada saat2 dia lemah, tidak percaya diri, merasa takut dan lain
sebagainya, bukannya justru menambah tekanan kepada anak.
Alangkah baiknya jika belajar itu karena rasa ingin tahu, ingin
berkembang dan bukan karena terpaksa. Ingin mendapatkan nilai bagus dan
berprestasi karena keinginan si anak. Saya
yakin dengan keinginan dari si anak sendiri untuk berprestasi akan dapat lebih
mengembangkan kemampuannya daripada karena paksaan dari orang tua.Pada saat
kita akan menuntut anak untuk belajar dan belajar terus tanpa
mempedulikan keinginan anak, kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah kita
sedang menyiapkan masa depan mereka
ataukah menghancurkan masa depan mereka.
Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/