mudah-mudahan bermanfaat 

jazakallah bil jannah 

Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh 

Olivia Damarani  

--- On Sun, 10/12/08, Shinta_Angie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Shinta_Angie <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [parentsguide] SAYA INGIN SEPERTI AYAH
To: "Parenting Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>, "Parentsguide" <[EMAIL 
PROTECTED]>
Date: Sunday, October 12, 2008, 10:32 PM






























SAYA INGIN SEPERTI AYAH

Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan 
mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di 
sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu 
sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.

Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, 
mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima 
kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah 
mereka......

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta 
tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah 
anaknya yang bekerja di sana.

Di situlah awal pembicaraan 'menyimpang' dimulai. 
Ia mengeluh, "Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja 
sulitnya bukan main." 
"Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang 
karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya 
bisa lihat cucu."

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. "Kalau Anda jarang bertemu dengan 
anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti," katanya.
"Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau 
ingin bertemu."

"Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya 
jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon."

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak 
laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika. 
Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya, 
"Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?" 
"Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat 
sudah ditanya kapan pulang."
Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan 
kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para 
profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.

Suami saya bertanya, "Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti 
mereka?" Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu 
berjudul Cat's In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair 
tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan 
untuk konteks Indonesia.

Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah.  Aku harus siap 
untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai 'tak ingat kapan pertama 
kali ia belajar melangkah.  Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu 
bertingkah Namun aku tahu betul ia pernah berkata, "Aku akan menjadi seperti 
Ayah kelak"  "Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak"

"Ayah, jam berapa nanti pulang?"
"Aku tak tahu 'Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja 
kita akan mempunyai waktu indah bersama"
Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata, "Terima kasih atas 
hadiah bolanya Ayah, wah ... kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana 
cara melempar bola"

"Tentu saja 'Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang" Ia 
hanya berkata, "Oh ...."
Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, "Aku akan 
seperti ayahku".
"Ya, betul aku akan sepertinya"

"Ayah, jam berapa nanti pulang?"
"Aku tak tahu 'Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja 
kita akan mempunyai waktu indah bersama"
Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah;  Begitu gagahnya ia, dan aku 
memanggilnya, "Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah" 
Dia menengok sebentar sambil tersenyum, "Ayah, yang aku perlu sekarang adalah 
meminjam mobil, mana kuncinya?"  "Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji 
dengan kawan" 
"Nak, jam berapa nanti pulang?" 
"Aku tak tahu 'Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja 
kita akan mempunyai waktu indah bersama"

Aku sudah lama pensiun dan anakku sudah lama pergi dari rumah; Suatu saat aku 
meneleponnya. 
"Aku ingin bertemu denganmu, Nak"  Ia bilang, "Tentu saja aku senang bertemu 
Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu 
menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara 
dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah"

Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis 
seperti aku; Ya betul, ternyata anakku persis seperti aku. Rupanya prinsip 
investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil 
mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang 
diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa 
aslinya,

"I'm gonna be like you, Dad, you know I'm gonna be like you",
kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya.
Ternyata cukup manjur. "Lutfi ... ayo kita kasih makan kelinci," katanya kepada 
anak kami yang berusia 3 tahun. 
  
Prinsip diatas dapat kita terapkan dalam kehidupankita sehari hari maupun dalam 
tugas kerja kita mengembangkan manusia yang menjadi tanggung jawab kita ataupun 
bawahan kita. 
Apabila kita mempunyai bawahan dengan kwalitas kerja yang kurang atau dibawah 
standard maka...... sadarlah bahwa kejadian ini mungkin merupakan refleksi atau 
bentukan dari diri kita sendiri jadi jangan salahkan mereka.... jangan mem 
"vonis" mereka tapi coba cari titik awal timbulnya masalah, dan coba 
introspeksi. 
  
SEMOGA INI BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA.

Cheers, 
Shinta 



 














      

Kirim email ke