Dear Moms, di atas semua yang telah terjadi di kehidupan saya dan suami, saya mencoba merenung... hasilnya seperti ini ^_^ Saya harap, Moms semua juga bahagia. PERNIKAHAN BAGIKU Apa arti PERNIKAHAN itu? Bagaimana seharusnya SUAMI - ISTRI dalam rumah tangga itu? Kalau sudah berumah tangga, kadang seru membicarakan dua hal ini, disamping hal-hal lainnya. Apalagi masing2 dari kita mempunyai standar untuk sesuatu hal. Kalau secara hukum Islam atau syariatnya, bisa dicari di buku-buku atau melalui search engine. Cuma kali ini ingin membahasnya secara realita, pengalaman dan "rasa" yang aku terima selama ini, selama menikah. Flashback sebentar... Waktu mau memutuskan menikah... aku dan suami sering menanyakan satu sama lain, sudah yakinkah akan menikahiku? Ya, saat itu, kita saling meyakinkan untuk mantap menikah. Suamiku bertanya, "Benar mau jadi istriku?" "Kenapa mau dinikahi aku?" "Apa ga menyesal punya suami seperti aku? Padahal banyak yang lebih baik dariku kan?" Aku sangat yakin dengan perasaanku, kalau suamiku benar-benar sosok suami yang aku cari dan aku ingin menghabiskan umurku dengannya, beribadah untukNya. Aku juga sangat yakin bahwa tidak ada yang bisa menandingi suamiku seutuhnya. Aku tau dan paham, masih banyak sekali pria lain yang jauh lebih baik dari suamiku, tapi tidak dalam keseluruhan, paling hanya bagian-bagian tertentu. Misal, memang masih banyak yang secara fisik lebih cakep, lebih ganteng, lebih tegap dari suamiku. Tapi bagiku suamiku sudah lebih cukup dari cakep.. Masih banyak laki-laki yang lebih soleh, tapi suamiku juga ga kalah dalam hal itu, buktinya dia mau belajar terus untuk meningkatkan keimanan, sikapnya juga selalu lebih baik. Dan terbukti nyata, banyak pria yang jauh lebih kaya dibanding suamiku, tapi sayangnya bukan hanya kekayaan saja tujuanku. Bagiku materi kekayaan hanya penunjang hidup saja, tapi harta tidak selalu bisa membeli kebahagiaan. Yang terpenting suamiku mau serius bekerja, dan dia bukan tipe pemalas dalam bekerja. Suamiku tahu bahwa menjadi seorang kepala rumah tangga harus bertanggungjawab kepada keluarganya, dan hal ini akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir olehNya. Selain itu, yang pasti aku mendapatkan kenyamanan hidup dengan suamiku ini. Bukan hanya dilihat dari segi materi, tapi kenyamanan bathin. Kenyamanan bathin yang bagaimana? Selama ini, walaupun suamiku terlihat mempunyai beban untuk harus memberi makan-sandang-papan. Aku bilang, "Kalau rejeki pasti dimudahkan, yang penting memintanya selalu ke Alloh SWT." Aku tidak mau walaupun sudah berstatus suami, menjadi lebih kaku dalam menjalani hidup, terlalu money oriented. Yang aku butuhkan kebahagiaan. Apa yang membuatku bahagia? Dan suamiku memberi segalanya. Aku sangat bersyukur suamiku sangat pengertian kepadaku. Suami tahu kalau aku paling tidak bisa kalau tidak "hang out" dengan teman-teman. Suamiku tahu, aku sukanya berkumpul dengan teman-temanku. Jadi aku diperbolehkan jalan-jalan, ngrumpi, nonton bioskop dengan teman-temanku, entah itu laki-laki atau perempuan. Pastinya dalam suasana ramai-ramai. Suamiku tidak pernah protes dengan segala kesenanganku, aku suka beli buku, majalah, tabloid, pernak pernik kebutuhanku. Dia tidak pernah marah. AKu suka nonton bioskop dan beli DVD, suamiku juga ga pernah marah, kebetulan dia juga suka nonton DVD. Kalau aku malas masak, suamiku juga ga marah, dia santai aja, toh bisa beli sayur lauk yang sudah matang. Kalau aku malas setrika, suamiku juga ga marah, kalau baju kerja belum disetrika, dia mau menyetrika sendiri sebelum berangkat ke kantor. Kalau aku malas bersih-bersih rumah, suamiku juga ga marah, ga protes. Kalau ada temanku (pastinya perempuan) yang menginap di rumah, dan aku sibuk dengan temanku, suamiku juga tidak pernah melarang. Kalau aku ingin main ke rumah teman, suamiku dengan ikhlas mengantarku. Intinya aku mendapatkan "kebebasan" untuk berekspresi dari suamiku. Wah suamiku koq baik banget ya? Apa aku terlalu egois? Ga juga,,, Sejak pacaran, aku juga tidak pernah melarangnya bersosialisasi. Saat sudah menikah aku juga tidak banyak melarang kesenangannya. Aku malah suka kalau suamiku punya & bisa banyak kegiatan, biar ga kuper. Hehe. Aku selalu mengijinkan suami utuk futsal, billyard, bowling, tenis meja, catur, main musik di studio, karaoke (ma teman2 kantor), main ke rumah teman, main PS ma teman, dan sekarang lagi hobi mancing. Itu tidak jadi masalah kalau memang kegiatan itu membahagiakan suamiku. Dan suamiku juga menjanjikan, dimanapun dia, dia tetap setia, tidak melakukan hal-hal yang buruk. ataupun yang melanggar kesetiaan. Yang pasti suamiku bukan tipe cowok cerewet dalam hal rumah tangga. Suamiku tidak banyak menuntut kalo seorang istri harus 24 jam melayani suami. Suamiku tidak menuntut kalau istri harus selalu menyediakan minuman untuknya (misal). Karena hubunganku dengan suami dilandasi demokrasi, aku bilang, jika istrimu sibuk dengan kegiatan lain, tolong jangan manja minta dibikinkan sesuatu saat itu. Aku memang tidak suka, misal sedang setrika, tiba-tiba suami bilang, "Jeng, bikinkan aku teh." Aku pasti jawab, "Aku lagi setrika, Yang, bisa bikin teh sendiri kan?" Akhirnya suamiku mengerti, saat aku mengerjakan hal lain, dia tidak seenaknya menyuruh istrinya. Suamiku tidak pernah keberatan jika aku minta pertolongan dan membantu kerjaan rumah. Tapi aku patuh sebagai istri, aku mengerti kalau suamiku melarangku ke makam sendirian. Aku patuh jika hang out dengan teman-teman tidak boleh lupa waktu. Kehidupan sehari-hari kami juga ada canda, suamiku usil, suka ganggu tidurku, dikelitikin atau apapun.. Aku pun punya cara sendiri untuk membangunkan suamiku di pagi hari, dengan ciuman-ciuman di wajahnya. Suamiku sering memelukku dan menciumku saat aku sedang berdandan. Aku juga suka memeluknya saat sedang menonton TV, DVD atau saat sedang tidur. Bagiku, momen-momen seperti itu harus dinikmati. Kemesraan harus dinyalakan setiap saat. Dan pasti dirasakan dengan hati. Aku ga mau, walaupun sudah menikah, tidak ada kehangatan dan kemesraan. Tiap rumah tangga punya permasalahan, tapi yang penting bagaimana kita menyikapi permasalahan itu, bagaimana mencari solusinya. Aku tahu diriku masih mempunyai keinginan... dan keinginan itu membutuhkan dukungan suami, aku sebagai istri dituntut untuk sedikit bersabar. Hidup memang tidak selalu mulus jalannya, ada kalanya berkerikil dan tersandung. Yang aku tau, sesuatu akan indah jika datang pada waktunya. Aku sebagai manusia tidak bisa memaksa keadaan. Jadi bagiku PERNIKAHAN membuat hidupku terasa indah, lebih menyenangkan. Yang aku rasakan, SUAMI - ISTRI harus saling memberi kenyamanan saat disampingnya, dan saling membahagiakan.. Memberi apa yang dibutuhkan pasangan dengan ikhlas dan senyum. Jika memberi dengan ikhlas, jangan diharapkan balasannya, tapi tunggulah suatu saat pasti akan menerima jauh yang lebih indah. Hmmm... dipikir-pikir, suamiku bukan orang yang sempurna, tapi dia sudah sangat sempurna untuk diriku sendiri. Cintanya, sayangnya ke aku sungguh luar biasa. Aku menemukan sisi-sisi bagaimana aku mencintai suamiku. Dan tiap orang bisa menemukan sisi bagimana untuk mencintai pasangannya masing-masing. Karena aku sangat mencintainya. Walaupun aku mendapatkan "kebebasan", aku tetap memegang KESETIAAN kepadanya. Aku tidak salah memilih suami. Dia memang yang terbaik untukku, selamanya. Bagaimana dengan Moms yang sudah menikah juga? Bahagiakah kalian dengan PERNIKAHAN kalian masing-masing? (aku dedikasikan ini untuk suamiku, 3 tahun pernikahan kami, I just wanna say I love you ) Aku yang bahagia, Putri
