HTML clipboard
Cabai
adalah tanaman yang termasuk ke dalam keluarga tanaman
Solanaceae.
Tanaman yang berbuah pedas ini digunakan secara luas
sebagai bumbu masakan di seluruh dunia. Spesies tanaman cabai yang paling
sering
digunakan meliputi Capsicum annum, Capsicum frutescens,
Capsicum chinense, Capsicum pubescens, dan Capsicum
baccatum.
Cabai mengandung senyawa
kimia yang dinamakan capsaicin
(8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide).
Selain itu, terkandung juga berbagai senyawa yang mirip dengan
capsaicin, yang dinamakan capsaicinoids.
Apabila cabai dimakan,
senyawa-senyawa capsaicinoids berikatan dengan reseptor nyeri
di
mulut dan kerongkongan sehingga menyebabkan rasa pedas.
Kemudian
reseptor ini akan mengirimkan sinyal ke otak yang mengatakan
bahwa
sesuatu yang pedas telah dimakan. Otak merespon sinyal ini
dengan
menaikkan denyut jantung, meningkatkan pengeluaran keringat,
dan
melepaskan hormon endorfin.
Cabai merah mengandung vitamin C dalam jumlah besar, juga
mengandung karoten (pro vitamin A).
Kandungan kedua zat ini tidak terlampau tinggi pada cabai yang
berwarna
kuning dan hijau.
Cabai juga memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh,
diantaranya adalah:
a. Capsaicin, mampu membunuh sel kanker pada
tikus percobaan di laboratorium.
b. Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa
capsaicin mampu menurunkan berat badan pada orang yang
menderita
obesitas.
c. Capsaicin digunakan untuk membunuh sel-sel
syaraf pada pankreas tikus percobaan yang menderita diabetes
tipe 1, hal
ini memungkinkan sel-sel yang memproduksi insulin untuk mulai
membuat
insulin lagi.
d. Makanan yang mengandung cabai mampu memperlambat
proses terjadinya risiko penyakit kardiovaskular.
e. Cabai dianggap mampu mengendalikan pencemaran
mikroba pada makanan.
f. Beberapa penelitian mengatakan bahwa capsaicin
memiliki manfaat perlindungan anti ulcer pada lambung yang
terinfeksi
bakteri H. pylori.
Referensi:HTML clipboard
Athanasiou A, Smith PA, Vakilpour S,
et al (2007). "Vanilloid receptor agonists and antagonists are
mitochondrial inhibitors: how vanilloids cause non-vanilloid
receptor
mediated cell death". Biochem. Biophys. Res. Commun. 354
(1): 50–5
HTML clipboard
Hsu CL, Yen GC (2007). "Effects of
capsaicin on induction of apoptosis and inhibition of
adipogenesis in
3T3-L1 cells". J. Agric. Food Chem. 55 (5): 1730–6
HTML clipboard
Razavi R, Chan Y, Afifiyan FN, et
al (2006). "TRPV1+ sensory neurons control beta cell stress and
islet inflammation in autoimmune diabetes". Cell 127 (6):
1123–35.
HTML clipboard
Ahuja KD, Ball MJ (2006). "Effects of
daily ingestion of chilli on serum lipoprotein oxidation in
adult men
and women". Br. J. Nutr. 96 (2): 239–42.
HTML clipboard
Billing J, Sherman PW (1998).
"Antimicrobial functions of spices: why some like it hot". The
Quarterly review of biology 73 (1): 3–49.
HTML clipboard
Lee IO, Lee KH, Pyo JH, Kim JH, Choi
YJ, Lee YC (2007). "Anti-inflammatory effect of capsaicin in
Helicobacter pylori-infected gastric epithelial cells".
Helicobacter
12 (5): 510–7.
HTML clipboard
Satyanarayana MN (2006). "Capsaicin
and gastric ulcers". Critical reviews in food science and
nutrition
46 (4): 275–328.
HTML clipboard
O'Mahony R, Al-Khtheeri H, Weerasekera
D, et al (2005). "Bactericidal and anti-adhesive properties of
culinary and medicinal plants against Helicobacter pylori".
World J.
Gastroenterol. 11 (47): 7499–507.
Semoga artikelnya bermanfaat,
M. Wellyan
Apoteker di www.apoteker.info