Duh.baca cerita mom, saya jadi pengen ikutan sharing.
Pengalaman saya adalah saat saya, suami & keluarga adik akan bersilaturahmi lebaran ke rumah saudara di kota lain saat kami mudik. Di perjalanan tiba2 kami di tabarak dari belakang saat kami sedang berhenti sesaat karena mobil depan kami juga berhenti kurang jelas berhenti karena apa, entah ada orang menyeberang atau kendaraan dari arah berlawanan ada yang terlalu ke tengah. Kami juga berhenti tidak mendadak. Jauh2 sudah injak rem. Tiba2 ada suara berdecit, seperti mengerem & brak.bagasi belakang sudang ringsek & bemper belakang setengah lepas. Kami di dalam mobil panik & berusaha minggir, eh.mobil yg menabrak tidak ada keinginan untuk minggir & seperti mau kabur. Langsung adik ipar tancap gas mengejar tuh mobil, begitu dapet, mereka minggir.eh.ternyata kita baru tahu kalo di dalamnya adalah aparat (tentara) yang sedang tidak berpakaian dinas bersama keluarganya juga akan bersilahturahmi di lebaran ke-3. Tiba2 muncul aparat tentara berpakaian seragam menggunakan motor ikut campur dalam urusan ini & aparat berpakaian inilah yg mengancam2 kami akan membakar mobil kami jika kami minta penggantian.karena ini murni kecelakaan. Mereka juga mengelak di ajak ke kantor polisi terdekat untuk mendapatkan surat kronologis & berita acara. Melihat gelagat kurang baik inilah, saya segera memerintahkan suami untuk mengambil photo sebanyak2nya, entah nopol & bagian2 yg rusak, siapa tahu nanti berguna. Mereka tetap mengelak ke kantor polisi & memaksa kami ke rumah mereka & mereka akan mendatangkan polisi yg kami mau di rumah mereka. Kami turuti kami di ajak ke rumah mereka untuk menurunkan anak & istri mereka. Kemudian ada gelagat kurang baik, penabrak menolak ke kantor polisi, akhirnya kami berinisiatif ke kantor polisi untuk melapor. Ternyata tak lama kemudian penabrak menyusul ke kantor polisi karena kami menolak untuk di datangkan polisi di rumah penabrak. Dalam tahap negosiasi yg alot (di sini saya juga takut ada kolusi antara polisi & tentara penabrak tersebut) yg nantinya akan menyudutkan kami, ternyata kami salah. Polisi tidak mau di lobi2 oleh tentara tersebut & tetap menilai kalau penabrak lalai (entah ngantuk, ngobrol atau tdk konsen) shg menabrak dari belakang & polisi menjadi mediator untuk menentukan berapa persen uang penggantian setelah di taksir oleh bengkel terdekat. Di sini panas sekali negosiasinya, mereka menolak mengganti, sampai saya mengancam akan memasukkan berita ini di media masa & akan melapor ke kesatuan penabrak barulah mereka akan melunak. Karena kami sudah mengambil photo2 di tempat kejadian. Akhirnya mereka sepakat mengganti 70% di bengkel yg kami tentukan. Setelah kami pulang & mobil masuk bengkel untuk perbaikan, keluarga penabrak yg lain (anggota polisi berpangkat letnan) mengintimidasi kami lewat sms & telepon bahwa kami melanggar kesepakatan karena memasukkan ke bengkel yg kami tunjuk, pokoknya mereka mencari celah untuk menolak penggantian. Akhirnya kami tetap melanjutkan acara perbaikan mobil tanpa mengindahkan pihak ketiga yg berusaha ikut campur . Kami tidak takut karena kami memegang berita acara & kronologis kejadian. Keesokan harinya penabrak plus pihak ketiga minta ketemuan di bengkel, kami turuti. Di sana tukang bengkel di caci maki & kami pula di intimidasi. Kami terlihat santai & tidak takut. Akhirnya yg menabrak pelan2 mendekati suami saya sambil menyerahkan uang 1 juta & minta surat kronologis & berita acara di serahkan. Intinya yg menabrak takut kami melapor ke atasannya apalagi di media masa & dia minta berdamai. Suami setuju, menerima uang tersebut tapi menolak memberikan surat berita acara. Tapi suami berjanji tidak melaporkan ke atasannya. Akhirnya yg menabrak berbicara ke istri & saudaranya yg sedang mengintimidasi tukang bengkel & adik ipar saya, mereka pulang sambil teriak2. Kami hanya diam. Akhirnya setelah perbaikan selesai kami memang mengeluarkan uang juga (tidak seperti kesepakatan 70% akan dig anti, biarlah), karena kami maklum dengan kondisi mereka (bukan aparat berpangkat). Intinya kami tidak takut dengan segala macam upaya intimidasi & aparat yg berusaha menunjukkan kesatuan A,B, C. Kenal dengan pejabat A, B,C. Kami juga punya logika di mana akan mencari keadilan. Begitulah, dari pengalaman kami, kami belajar bahwa di era reformasi ini bukan jamannya lagi di takut2in dengan embel2 kesatuan polisi, tentara dll. Orang biasa macam saya juga berhak mendapat keadilan. Yang salah harus menganggung kesalannya.bukankah harus begitu??? Salam, Esti (Mama Arya 23 bln) _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Novita Harisman Sent: Monday, November 17, 2008 12:38 PM To: [email protected] Subject: [Ayahbunda-Online] Re: begitu pula kalo bikin SIM (was : tips surat tilang!) Masih seputar dunia per-polisian. Ini saya alami 1,5 bulan lalu saat membuat SIM baru di Daan Mogot. Ini kedua kalinya saya alami setelah SIM pertama saya expired hampir 2 tahun, lalu ditilang karena mobil belum ada STNK tanpa punya fotokopi SIM (hehehe..)......... Salam, -Vita-
