Laskar Pelangi... Meski bung Andrea menceritakan masa kecilnya... tapi saya kok lebih tersihir pada kisah hidup seorang anak hitam, kurus, kecil, bersendal dari ban bekas, yang mengayuh sepeda 40km hanya untuk ke sebuah sekolah reyot....serta berotak Einstein. 2x nonton film itu, 2x nangis saat melihat lintang mengendong adiknya sambil masak air... ingat pada putri kami yang baru 22bulan... yang tiap malam didoakan, semoga bisa mendapat kehidupan yang lebih baik lagi. btw, pada akhir film, digambarkan Ikal bertemu dengan Lintang besar... sempat terbayang, coba yang memerankan lintang besar adalah lintang yang asli, pasti akan lebih mengharukan...
salam, Rumiyati Penggemar Lintang... 2008/11/17 novia novia <[EMAIL PROTECTED]> > bunda, > mau dong, e book laskar pelangi. thank's before yah. > > bytheway, soal laskar pelangi, ada beberapa teman yang menganggap kisah di > laskar pelangi hanya sebuah kisah. didramatisir. tetapi untuk saya, cerita > di laskar pelangi adalah kenyataan, sebuah foto pendidikan di negara ini. > saya sendiri mengalami sebagian dari kisah itu meskipun tidak sama bebannya. > saya pernah sekolah dimana kelas saya berlubang besar yang cukup untuk anak > 12 tahun menyusup keluar kelas dan langsung nyemplung ke sungai. kalau > hujan, kami sedikit basah. karena sebagain dindingnya berupa kawat ayam. > > pernah juga saya bersekolah dimana kaus kaki guru wali kelas saya berbeda > warnanya. sebagian besar muridnya tidak memakai sepatu. kalau hujan, didepan > kelas masing-masing ada segundukan daun pisang. tidak ada yang punya payung. > kalau sungai didekat sekolah sedang banjir atau pasang, beberapa teman saya > tidak bisa sekolah karena tidak bisa menyeberang. > > jadi saya sangat terkesan dengan laskar pelangi karena mas andrea (sok > akrab niy) bisa melukiskan perasaan kami -anak sekolah di daerah yang bisa > dibilang terbelakang-. dan baru beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan > teman sekolah saya dulu yang kelasnya bolong gedhe banget. beritanya > menyenangkan sekali. banyak dari kami yang akhirnya mapan. tidak sedikit > yang sekolah sampai level pasca sarjana diuar negeri dengan beasiswa. ada > yang jadi pejabat pemerintah, ada yang jadi wakil rakyat di daerah > masing-masing, ulama dengan banyak santri, wirausaha, dan sebagainya. > > berita menyenangkan mengingat wujud sekolah kami. keterbatasan sarana dan > parsarana sekolah kami dulu. jauhnya kami dari kota besar. > > salam, > > >
