sumber:
http://cornellio.multiply.com/journal/item/124/When_You_Divorce_Me?replies_read=163
 
 
Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti di 
depan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya 
begitu keluar dari mobil.  Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan 
malu2. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia. Ini adalah kejadian 
10 tahun yg lalu. 
 
Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening:
Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk 
menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih di antara 
kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat 
kerja bersama2 dan sampai di rumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami 
sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi 
ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka2.
 
Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di 
balkon. Dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam 
aliran cintanya. Ini adalah apartment yg kubelikan untuknya. 
Dew berkata, "Kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis." Kata2nya 
tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah 
berkata, "Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi par 
gadis." Berpikir tentang ini, aku menjadi ragu2. Aku tahu kalo aku telah 
mengkhianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan 
tangan Dew dan berkata, "Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K. Aku 
ada sedikit urusan di kantor." Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah 
berjanji menemaninya. 
Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas di pikiranku walaupun 
kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk 
membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun kujelaskan, ia pasti 
akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam 
ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai di depan TV.
 
Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2. Atau, aku akan 
menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.
Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apa yg akan 
kau lakukan?" Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. 
Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari ia. 
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu 
bahwa aku serius. Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar 
dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati 
dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia.. 
Ia kelihatan sedikit curiga. Ia berusaha tersenyum pada bawahan2ku. Tapi aku 
membaca ada kelukaan di matanya.
 
Sekali lagi, Dew berkata padaku, "He Ning, ceraikan ia, O.K. Lalu kita akan 
hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi. Ketika 
malam itu istriku menyiapkan makan malam, kupegang tangannya, "Ada sesuatu yg 
harus kukatakan." Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara.  Sekali lagi aku 
melihat ada luka di matanya. Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia 
tahu kalo aku terus berpikir. "Aku ingin bercerai," kuungkapkan topik ini 
dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia 
bertanya secara lembut, "Kenapa?" "Aku serius." Aku menghindari pertanyaannya. 
Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak 
kepadaku, "Kamu bukan laki2!" Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia 
sedang menangis..
 
Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi 
aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi 
oleh Dew. Dengan perasaan yg amat bersalah, aku menuliskan surai perceraian 
dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia 
memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit 
dalam hati. Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang 
yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah 
kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras di depanku, dimana hal tersebut 
tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan 
untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan 
sekarang sungguh2 telah terjadi.
 
Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia 
sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun 
tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan 
syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus 
memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu 
kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak 
kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi 
dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia 
menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,"He Ning, apakah kamu masih ingat 
bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? Pertanyaan 
ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan 
mengiyakan. "Kamu membopongku di lenganmu," katanya, "Jadi aku punya sebuah 
permintaan, yaitu kamu akan
 tetap membopongku pada waktu perceraian kita. 
Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar 
dari kamar tidur ke pintu." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan 
beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri 
dengan suasana romantis. Aku memberitahukan Dew soal syarat2 perceraian dari 
istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun 
trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," 
ia mencemooh. Kata2nya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak 
mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling 
menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya di hari pertama, kami 
kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami, "Wah, papa membopong 
mama, mesra sekali." Kata2nya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke 
ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia 
memejamkan mata dan berkata dengan lembut, "Mari
 kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita."
 
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi 
menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih 
mudah. Ia merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi 
di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan 
mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi. Beberapa kerut tampak 
di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun di luar sedang 
dibongkar. Hati2 kalau kamu lewat sana." Hari keempat, ketika aku 
membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri 
dan aku masih membopong kekasihku di lenganku. Bayangan Dew menjadi samar. Pada 
hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti dimana ia 
telah menyimpan baju2ku yg telah ia setrika, aku harus hati2 saat memasak, dll. 
Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu 
Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan
 membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin 
kuat. Aku berkata padanya, "Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang." 
Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia 
berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok. Lalu ia melihat, 
"Semua pakaianku kebesaran." Aku tersenyum. Tapi tiba2 aku menyadarinya sebab 
ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan 
disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam 
hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar kusentuh 
kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. "Pa, sudah waktunya membopong 
mama keluar."
 
Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg 
penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya 
dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran 
pada detik terakhir. Aku menyanggah ia di lenganku, berjalan dari kamar tidur, 
melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. 
Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan 
kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih. Pada hari 
terakhir, ketika aku membopongnya di lenganku, aku melangkah dengan berat. Anak 
kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, "Sesungguhnya aku berharap kamu akan 
membopongku sampai kita tua." Aku memeluknya dengan kuat dan berkata, "Antara 
kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra."
 
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan 
akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku 
berkata padanya, "Maaf Dew, aku tidak ingin bercerai. Aku serius." Ia melihat 
kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. "Kamu tidak demam". Kutepiskan tangannya 
dari dahiku, "Maaf Dew, aku cuma bisa bilang maaf padamu, aku tidak ingin 
bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa 
merasakan nilai2 dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai 
lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah 
melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu." 
Dew tiba2 seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup 
pintu dgn kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke 
kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, kupesan sebuah buket 
bunga kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum dan 
menulis, "Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.."
 


      

Kirim email ke