Oleh2 dari teman yang datang ke seminar dan sharing isinya.  Buat perenungan 
dalam mendidik anak-anak kita.


check it out : www.penghasilan-extra.co.cc
 
from the bottom of my heart 
Elen Halim-Putra

--- On Thu, 11/27/08, Indriyati Nurdin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Indriyati Nurdin <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, November 27, 2008, 1:54 AM









Kemarin pagi saya menghadiri pengajian di sekolah Al Izhar. Tadinya saya ragu 
apakah akan ikut atau tidak, karena saya kan bekerja. Tapi saya bersyukur Tuhan 
menuntun saya untuk mengikuti pengajian itu, setelah sebelumnya izin mengurus 
suatu keperluan pada atasan saya . Sekarang saya benar-benar bersyukur karena 
telah datang.
 
Tema pengajian adalah “menyiapkan anak sholeh dan tangguh menghadapi kehidupan 
di era digital”. Pembicaranya Ibu Elly Risman, Psi. dari Yayasan Kita dan Buah 
Hati. Duh, sepanjangan ceramah saya sibuk menghapus air mata saya yang ngotot 
mau keluar. Kenapa? Saya tahu pengaruh buruk berbagai tayangan televisi, atau 
games, atau Internet, di luar sebagian kecil unsur positifnya. Tapi sungguh 
saya tidak menyangka bahwa pengaruh itu bisa demikian hebatnya. Ibu Elly yang 
memang berkecimpung di dunia parenting, menunjukkan kepada kami betapa 
dahsyatnya doktrin yang sedang disusupkan ke otak anak-anak kita. Berbagai 
media elektronik dan cetak yang diakses anak, ternyata banyak sekali yang 
mengandung unsur pornografi. Games, Internet, HP, TV, VCD, komik, majalah, dll. 
Betapa banyak anak yang kecanduan games, dan oh, kecanduan seks. 
Astaghfirullahal’adziiim…saya dan semua peserta pengajian itu saat itu sibuk 
beristighfar mohon ampun Allah SWT karena ternyata
 banyak sekali hal-hal buruk yang lepas dari pengamatan kami sebagai orang tua. 
Saya pernah mendengar bahwa komik-komik sekarang disisipi gambar-gambar porno. 
Aduhai, saya tidak menyangka gambarnya betul-betul porno dan merangsang 
syahwat. Saat itu juga kami disuguhkan cuplikan-cuplikan games yang, sekali 
lagi kami mengurut dada, benar-benar menampilkan adegan yang hanya boleh 
dilakukan suami isteri yang sah. Mungkin tidak akan masalah kalau adegan-adegan 
tersebut ditujukan kepada orang dewasa,. Tetapi games yang dimaksud disini 
berbalut kartun yang banyak dimainkan oleh anak-anak mulai usia SD. Air mata 
saya terlanjur jatuh, ketika Ibu Elly menanyakan kepada seluruh audiens apakah 
mengenal komik-komik tersebut atau pernahkah tau isi games tersebut? Hampir 
semuanya menjawab tidak pernah tau. Ya sih, kebanyakan tau Naruto, Avatar, 
tetapi tahukah kalau film kartun yang tayang di TV nasional dan disaksikan oleh 
seantero anak-anak kecil, yang gambar
 kartunnya ada di tas-tas sekolah anak-anak, ternyata ada gamesnya juga. 
Kebanyakan dari kami berpikir, ah nggak apa-apalah anak-anak main games. 
Gamesnya  Naruto pula kan, bukan tembak-tembakan. Apalagi kan Senin sampai 
Jumat mereka sekolah sampe sore. Belum lagi les ini itu. It’s okelah mereka 
ngegames akhir pekan. Tho nggak ganggu jam sekolah kan. Ah, seandainya kami 
tahu adegan-adegan seks dengan mudahnya didownload secara online dengan judul 
Naruto. Bayangkan saja, ada juga games tarzan yang di akhir setiap levelnya ada 
tanda keberhasilan berupa adegan ML tarzan and siapalah perempuannya dalam 
posisi-posisi yang tingkat kesulitannya berbeda-beda tergantung levelnya. 
Astaghfirullaah… Sedemikian parahnya karena dikemas dalam wujud kartun yang 
menggoda anak-anak.
 
Ternyata industri media memang sengaja memasukkan unsur pornografi dalam 
produk-produk yang ditujukan untuk anak-anak. Sasaran tembak mereka adalah 
anak-anak yang belum baligh, terutama anak laki-laki. Mereka ingin menjadikan 
anak-anak kita their FUTURE MARKET, pasar masa depan bagi produk-produk porno 
mereka selanjutnya. Mereka juga ingin anak dan remaja kita memiliki mental 
model porno, perpustakaan porno yang tersimpan di memori otak mereka, yang 
sewaktu-waktu bisa diakses di mana saja. Kalau anak dan remaja kita sudah 
mengalami kerusakan otak permanen, barulah mereka puas. 
 
Menjelang akhir acara, saya terhenyak menyaksikan contoh tulisan anak-anak SD, 
yang bahkan tulisannya masih belum tegak, mencong sana, mencong sini, 
menuliskan pertanyaan dan pernyataan mengenai seks dengan bahasa yang sangat 
menjijikkan. Ah, semoga saja bukan tulisan anak-anak kita. 
 
Semoga saja bukan anak-anak kita yang baca komik porno. Semoga saja bukan 
anak-anak kita yang main games online dan mendowload games porno di warnet 
dekat rumah atau sekolah ambil paket nginap cuma bayar 50.000. Semoga saja 
bukan anak-anak kita yang mendownload situs-situs pornografi anak yang 
jumlahnya lebih dari 100 ribu. Semoga saja itu bukan anak kita, yang awalnya 
nggak sengaja membuka situs porno karena mau cari literatur tugas biologi 
mengenai serangga (search nyamuk, lalat, di google, eh yang kebuka…...) tapi 
akhirnya malah keterusan.
 
Semoga saja…semoga…semoga apa??? Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang 
sempat melalaikan hak anak akan informasi yang jelas dan benar. Bayangkan saja, 
saking sibuknya bekerja para Bapak sampai lupa memberitahu anak laki-lakinya 
mengenai mimpi basah, apa yang harus dilakukan bila mengalaminya. Yah, memang 
tugas itu bisa diambil alih oleh para Ibu, tapi kan Ibu-ibu tidak mengalami 
mimpi basah tho? Atau ada yang baru memberitahu anak laki-lakinya pas usianya 
sudah 11 tahun. Terlambat Paaak. Wong anak sekarang 8 sampai 9 tahun sudah 
ejakulasi. Pengaruh hormon juga kali ya. Hiii….hati-hati deh yang suka bawa 
anaknya ke resto fast food karena malas masak. Hormon yang disuntikkan ke ayam 
baru bisa hilang setelah 40 hari, tapi rugilah kasih makan ayamnya sampe segitu 
lama. Mendingan baru 30 hari udah dipotong aja deh. Kebayang kan sisa hormannya 
masuk ke pencernaan anak-anak kita. Makanya anak sekarang lebih cepat besar. 
Ohya, kami diberitahu juga
 mengenai perlunya orang tua aware terhadap kemaluan anak laki-lakinya yang 
badannya sudah tumbuh besar, sementara organ vitalnya belum berkembang. 
Kebanyakan orang tua lebih memilih tidak membicarakan hal-hal mengenai organ 
yang satu ini. Lantas, kalau nggak ngobrolin itu dengan kita sebagai ortunya, 
kemana dong mereka cari informasi? Banyak di antara anak-anak itu yang 
mengalami masalah dengan organ vitalnya. But nobody to talk to.. Sementara 
mereka sangat cemas dengan dirinya sendiri. Kami diperlihatkan foto beberapa 
anak laki-laki yang berpose kewanita-wanitaan. Masya Allah, mereka cuma tidak 
mengerti mengapa organ vital mereka tidak berkembang sebagaimana tubuh mereka 
yang bongsor berkembang. Apalagi tingkah laku kewanita-wanitaan adalah hal yang 
biasa dipertontonkan di media. Duuuuh...
 Tau kan kenapa air mata saya ngotot mau keluar selama ceramah Ibu Elly. Karena 
saya membayangkan kerusakan generasi kita selanjutnya. Fasilitas yang kita 
berikan ke anak-anak kita, tanpa pengawasan kita (mana sempaaat), ternyata 
telah membunuh mereka. Akankah kita membiarkan ini semua? Seperti kata Bu Elly, 
kita sudah dititipi Tuhan anak yang begitu indahnya, akankah mereka kembali 
kepada-Nya dalam keadaaan rusak? Sudah siapkah kita ketika dipanggil oleh-Nya 
untuk mempertanggungjawab kan titipanNya itu, ketika kita ditanya apa saja yang 
sudah kau bekali untuk anak-anakmu? Padahal kita hanya belum sempat memberi 
tahu mereka informasi yang menjadi hak mereka. Hari ini nggak sempat, besok 
juga, lusa, dan entah kapan kita baru sempat ngobrol atau bahkan piknik ke 
dunia mereka.  
 














      

Kirim email ke