halo mbak,

ni aku ada artikel ttg ear-candling 
(tp lupa sumbernya nih, kalo gak salah dr WRM ato sehat ya., tar aku cek lagi 
deh)
tp belum pernah ngalamin sih, pernah deh liat di tv kok kayaknya serem gitu ya 
^__^
hehe..silakan dibaca dulu deh..

arma


--- On Wed, 11/26/08, Nika Hanidhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Nika Hanidhah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Ayahbunda-Online] tanya: ear candle
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 26, 2008, 11:58 AM










    
            mom ada yg pernah ear candle, gak?
itu lo yg kupingnya dimasukin ujung lilin menyala, lalu kotorannya kluar 
dikertas?
enak gak sih?
manfaat gak?
harganya?
dimana?
bumil, aman?
 
mamut
udah lama taunya
baru nnaya skrg




      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      
Ear-Candling : Terapi Pembersihan yang tidak Membersihkan
oleh Lita Mariana
sabtu 15 November 2008

Ear candling, dikenal juga dengan terapi lilin. Lilin yang digunakan adalah 
lilin berbentuk tabung berdiameter kecil, yang telah direndam dalam beeswax 
atau parafin dan dibiarkan hingga mengeras. Sesuai namanya, terapi ini 
dilakukan dengan menyalakan lilin khusus yang diletakkan di liang telinga.

Tentu saja 'pasien' harus berbaring miring ke satu sisi, sementara 'terapis' 
menyalakan lilin dan membiarkannya terbakar selama beberapa menit.

Prosedur ear candling

Lilin dinyalakan. Lilin yang terbakar akan 'dijaga', dengan menggunakan semacam 
tusuk gigi untuk mempertahankan agar lubang di puncak lilin selalu terbuka 
selama proses berlangsung. Setelah lilin dimatikan dan disingkirkan, sebungkah 
kapas padat digunakan untuk membersihkan kotoran telinga yang nampak, dan 
seringkali diperoleh 'minyak telinga' (ear oil).

Beberapa praktisi meletakkan lilin yang masih panas itu di dalam semangkuk air, 
dan mengklaim bahwa semua yang ada di dalamnya -yang bukan beeswax- adalah 
kotoran telinga, kulit mati, residu obat, atau 'peninggalan' infeksi ragi di 
waktu lalu (yang kesemuanya belum ada buktinya).

Prosedur terapi ini mestinya menciptakan kehampaan ringan (hampa dalam artian 
tekanan udara di bawah tekanan udara atmosferik/ruang), yang dapat menarik 
kotoran telinga (earwax, cerumen) keluar dari liangnya.

Apa yang diklaim?

Sesuai yang saya lihat di televisi, terapi ini mengklaim mampu melakukan 
sesuatu pada sinus, membersihkan kotoran, melegakan, dan mengurangi sakitnya. 
Katanya pula, penderita sinusitis rongga hidungnya basah dan terapi ini dapat 
membuka salurannya. Terus terang saya kurang mengerti. Ya kata-katanya, ya 
klaimnya. Mungkin ini karena reporternya (yang menjalani terapi) yang 
bercerita, bukan terapisnya.

Beberapa pendukungnya mengklaim bahwa pengotor (impurities) dapat disingkirkan 
dari telinga bagian dalam, sinus fasial (rongga sinus di daerah wajah), atau 
bahkan otak, yang kesemuanya entah bagaimana terhubung ke liang telinga. Ada 
kanal dari otak saya ke telinga? Astaga. Mungkin saya jangan terlalu keras 
belajar, menjadi pintar, dan berotak encer. Nanti malah meleleh ke luar dan 
saya rugi. Ups. Hiperbolik.

Dia mengatakan bahwa candling akan menyingkirkan ragi dan membersihkan sinus. 
Dia juga bilang, khususnya jika kita hidup di lingkungan perkotaan, candling 
akan membantu mengeluarkan banyak kotoran dan polutan yang dapat terakumulasi 
di dalam telinga. [Testimony of an injured victim]

Hampir semua paket pengarahan mengindikasikan bahwa telinga akan terasa hangat 
(tidak panas) dan pengalaman ini akan menenangkan, bahkan bagi jiwa.
Uji skeptis

Berikut adalah kutipan dari artikel tentang ear candling di Quackwatch:

Suatu pameran menggelar ear candling seharga $30. Orang-orang yang 'menjual' 
ini berkata bahwa pengisapan oleh lilin dapat 'menjernihkan pikiran dan sinus'. 
Saya bertanya-tanya untuk memastikan bahwa mereka benar-benar memaksudkan 
penjernihan tersebut secara literal, bahwa telinga adalah sebuah bukaan dari 
otak dan sinus. Seorang perempuan yang menjadi pelaksana menyatakan, "(Terapi 
ini) membersihkan seluruh kepala, otak, dan semuanya - mereka semua terhubung, 
kau tahu".

Candling dilakukan di meja depan kios, sehingga wajah-ingin-tahu orang yang 
menjalani 'terapi', yang telinganya ditancap lilin menyala, menarik perhatian 
banyak pengunjung. Selama proses berlangsung, campuran keabuan dari gumpalan 
dan lelehan wax dikumpulkan dalam sebuah piringan yang diletakkan di bawah 
lilin.

Campuran tersebut tidak tampak seperti lelehan lilin, namun tampilannya tampak 
meragukan. Pelanggan diberitahu bahwa campuran itu adalah pengotor yang telah 
disingkirkan. Dan banyak di antara mereka yang memamerkannya dengan bangga, 
membandingkan antara miliknya dan milik orang lain, serta memberikan komentar 
yang meyakinkan.

Untuk menguji ini, Rebecca Long, presiden Georgia Council Against Health Fraud, 
mencobanya di rumah usai menonton pertunjukan tersebut. Dengan bantuan seorang 
teman, arahan dari kemasan diikuti dengan cermat.

Ia temukan bahwa candling menghasilkan suara berdesis, yang mirip dengan suara 
kelomang yang didekatkan ke telinga, namun jauh lebih keras. Namun udara di 
dalam telinganya menjadi terlalu panas sehingga ia harus menghentikan percobaan.

Selanjutnya, dilakukanlah sebuah percobaan sederhana lainnya: membandingkan 
hasil kerja ear candling dengan dan tanpa telinga. Dua penyelidik menguji lilin 
untuk melihat apakah wax yang terkumpul setelah pembakaran seluruhnya berasal 
dari lilin atau juga mengandung wax yang keluar dari telinga.

Untuk melakukan ini, mereka membakar lilin dan menempatkan ujungnya: (a) di 
dalam liang telinga, (b) di luar liang telinga, sedemikian rupa sehingga wax 
yang menetes akan tertampung dalam semangkuk air, dan (c) di dalam liang 
telinga namun dengan tube penghalang, sedemikian sehingga memungkinkan kotoran 
telinga bergerak ke dalam tube namun menghalangi wax lilin bergerak turun (ke 
dalam liang telinga).

Uji ini memberi hasil bahwa semua residu yang terbentuk berasal dari lilin dan 
tidak ada kotoran telinga yang dikeluarkan.
Ear candling's not working, my dear!

Karena wax bersifat lengket, tekanan negatif (vakum) yang diperlukan untuk 
menariknya ke luar rongga telinga haruslah sedemikian kuat sehingga dapat 
merusak gendang telinga pada prosesnya. Bagaimanapun, ternyata prosedur 
candling bahkan tidak menghasilkan kondisi vakum.

Peneliti yang mengukur tekanan menemukan bahwa tidak tercipta tekanan negatif 
selama proses candling terhadap relawan. Penyelidik yang sama telah melakukan 
candling selama 8 tahun dan menemukan bahwa tidak ada kotoran telinga yang 
dikeluarkan, dan wax lilin justru menumpuk di dalam telinga(!).

Pernyataan bahwa liang telinga terhubung ke struktur di dalam gendang telinga 
adalah palsu. Liang luar telinga, beserta gendang telinga di dalamnya, tidak 
terhubung ke otak, sinus (yang menjadi target 'terapi'), ataupun saluran 
Eustachia (kanal antara telinga tengah dan bagian belakang kerongkongan).

Ada klaim yang menyebutkan bahwa gendang telinga berpori dan dapat melewatkan 
pengotor dengan cepat. Ini tidak benar. Pengotor yang terdapat di wax yang 
terkumpul tak lebih dari abu/sisa dari pembakaran lilin dan kerucut 
penyangganya.
Bahaya ear candling

Candling berisiko terhadap beberapa bahaya, dan yang paling serius adalah 
terbakar oleh lilin panas. Pembuat lilin mengklaim bahwa lilin mereka hanya 
akan menetes di bagian luar telinga. Dan anda bisa berkomentar bahwa itu 
merupakan kecerobohan praktisinya.

Tentu saja ada cara untuk menghindari masuknya tetesan lilin cair ke dalam 
telinga: posisikan lilin dalam keadaan mendatar. Tapi saran dari produsen ini 
terdengar konyol. Bagaimana bisa tercipta suasana vakum? Lilin yang mendatar 
tidak dapat menutup rapat liang telinga pasien yang sedang berbaring miring ke 
satu sisi.

Sebuah pendataan pada tahun 1996 terhadap 144 dokter THT menemukan bahwa 14 di 
antaranya didatangi oleh pasien yang terluka oleh 'terapi' lilin ini. Termasuk 
-setidaknya- 13 kasus luka bakar luar, 7 kasus liang telinga yang tersumbat 
lelehan lilin, dan 1 kasus gendang telinga yang rusak (bolong, perforated).

Dilaporkan oleh The London Free Press, harian Kanada. Seorang perempuan yang 
mengalami penyumbatan di hidung dan sakit telinga saat melakukan scuba diving 
pergi ke sebuah toko 'makanan kesehatan' dan dirujuk ke seorang praktisi 
candling yang 'diakui'.

Selama 'perawatan', ia merasakan sensasi terbakar yang kuat di telinganya. Di 
ruang rawat gawat darurat, usaha untuk menyingkirkan tetesan wax yang menempel 
di gendang telinganya mengalami kegagalan. Operasi dilakukan, dan ditemukan 
sebuah lubang di gendang telinganya, yang kemungkinan besar terjadi akibat 
candling.

Untungnya, perempuan tersebut pulih secara penuh dan pendengarannya normal 
kembali. Praktisi ear candling tersebut meminta maaf, memberikan kompensasi, 
dan berhenti melakukan praktik ear candling.

Sebagai penutup, inilah penjelasan dari Sandra Yemm, seorang praktisi ear 
candling, ketika ditanyakan tentang kasus rusaknya gendang telinga yang saya 
sebutkan tadi: "Ear candling doesn't remove the wax from one's ears. But she 
says that's not the point: "It doesn't matter whether it's being removed or not 
because you're going to get some harmony through the changing of the energies 
and perhaps that's all that's needed."

Kirim email ke