mudah-mudahan bermanfaat 

jazakallah bil jannah 

Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh 

Olivia Damarani   



----- Forwarded Message ----
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Thursday, January 24, 2008 9:01:30 AM
Subject: Kencan dengan ibu (baca dulu, bagus)

dari tetangga,
Subject: Kencan Dengan Ibu


Berbahagialah yang masih mempunyai Ibu, karena masih bisa membahagiakannya!


Perempuan Lain

Setelah 21 tahun menikah, saya tiba-tiba menemukan cara baru dalam
menyalakan api cinta kami. Demikian tulis seorang pria yang ingin berbagi
pengalaman.

Beberapa waktu laluistri saya mengusulkan agar saya berkencan dengan
seorang perempuan lain, besok malam.

"Kamu akan mencintainya," kata istri.
"Apa-apaan sih," protes saya. "Mengapa kamu tidak ikut?"

"Itu acara kamu berdua dia," jawab istri.

Perempuan yang dimaksudnya adalah ibu saya yang telah menjanda selama 19
tahun belakangan ini.  Saya jarang menemuinya karena kesibukan kerja dan
mengurus tiga anak kami.

Malam itu saya telepon ibu, mengajaknya makan malam dan nonton film.
Berdua saja.

"Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon.

Ibu saya adalah tipe yang selalu curiga kalau menerima telepon di
tengah malam atau undangan yang datangnya tiba-tiba. Bagi dia, itu pasti
akan membawa berita buruk.

Saya pikir,  pasti akan menyenangkan kalau kita sekali-sekali ke luar
berdua saja," jawab saya.

"Ibu mau sekali," jawabnya setelah terdiam beberapa lama. Aha, dia
masih curiga.

Besok malam, sepulang kantor saya ke rumah ibu. Dia terlihat agak senewen
tapi berdandan resmi sekali.  Ibu jelas telah menata rambutnya di salon,
dan dia memakai gaunnya yang terbaik. Gaun yang dipakai pada pesta
ulangtahun perkawinan yang terakhir ketika ayah masih hidup.

Ibu menyambut saya dengan senyum lebar. "Saya bilang ke kawan-kawan tentang
rencana kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu
sekarang," kata ibu seraya masuk mobil.

"Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya." Kami pergi ke restoran
yang agak mahal.  Suasananya elegan, menyenangkan.
Ibu menggandeng lengan saya ketika memasuki ruangan, persis seperti First
Lady. Jalannya anggun.
Saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya walau
dengan kacamata tebal. Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti
sejenak menengok ke ibu. Dia sedang memandangi saya dengan senyum kasih.
"Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika kau masih kecil,"
katanya.
"Sekarang ibu santai saja. Giliran saya yang melayani ibu,"
jawab saya.
Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari.
Tidak ada topik yang istimewa tapi obrolan mengalir saja
sampai-sampai kami terlambat untuk menonton film.

Mengantarnya pulang, di muka pintu ibu berkata, "Ibu mau pergi lagi dengan
kamu, tapi lain kali ibu yang bayar." Saya setuju.
"Bagaimana kencanmu?" tanya istri saya di rumah.
"Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga. Tadinya tidak tahu mau
ngomong apa."

Beberapa hari kemudian, ibu meninggal karena serangan jantung.
Begitu tiba-tiba kejadiannya, saya tidak sempat berbuat apa-apa untuk
menolongnya.

Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari restoran tempat ibu dan saya
makan malam. Surat itu dilampiri kopi tanda lunas.
Ada selembar kertas diselipkan di situ, tertuliskan:
"Ibu sudah bayar makan malam kita  karena rasanya tak mungkin kita makan
bersama lagi. Walaupun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua orang,
barangkali untuk kau dan istrimu. Anakku, besar sekali arti undanganmu
malam itu."

Pada detik itulah saya mengerti apa pentingnya arti bahwa kita
mengatakan kepada orang-orang yang kita sayangi mengenai
perasaan kita itu. Tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup daripada
Tuhan dan keluarga.
Berikan waktu Anda untuk mereka, jangan sampai terlambat untuk
mengatakan'nanti'
.....kangen sama ibu tercinta .


(Embedded image moved to file: pic16712.pcx)







The contents of this e-mail and attachments are confidential and subject to 
legal privilege. If you are not the intended recipient, you are strictly 
prohibited and may be unlawful to use, copy, store, distribute, disclose or 
communicate any part of it to others and you are obliged to return it 
immediately to sender or notify us and delete the e-mail and any attachments 
from your system. PT BANK PERMATA TBK and subsidiaries do not accept liability 
for loss or damage resulting from computer viruses. The integrity of e-mail 
across the internet cannot be guaranteed and PT BANK PERMATA TBK will not 
accept liability for any claims arising as a result of the use of this medium 
for transmissions by or to PT BANK PERMATA TBK.


      

Kirim email ke