Bunda Dewi, Razka [18bl] juga suka lempar botol susunya kalau sudah habis dan lempar mainan kalau dia sudah bosan, dia juga sering 'tantrum' kalau keinginannya tidak dapat dituruti. Razka juga lebih suka memainkan barang yagn bukan mainan seperti ban sepeda, ban motor, dan ban mobil. Kalau main mobil2an atau semua benda yang punya roda termasuk strollernya maka semua barang itu dibalik agar rodanya diatas, biar dia bisa bermain dengan roda2 tsb. Kalau lihat mobil, motor, atau sepeda, maka yang menarik perhatian dia adalah bannya. sepertinya putra bunda Dewi hampir mirip dengna Razka, motorik kasarnya masih lebih dominan. Lalu apa yang saya lakukan? Ketika Razka 'tantrum': - saya peluk sambil dielus2 punggungnya. Gak mempan? - saya alihkan perhatian ke mainan lain yang kira-kira akan menarik perhatiannya. Gak reda?; - Saya dudukkan di sofa atau tempat tidur agar tangisnya reda. Masih ngamuk? - saya tinggal beberapa detik, ke ruangan lain yang tak dilihatnya. Biasanya cara yang terakhir ini membuat tangisnya reda dan ada rasa penyesalan, baru setelah itu saya rengkuh, saya tatap matanya, dan saya ajak bicara dengan bahasa yang paling sederhana. Sepertinya di usia batita memang motorik kasar anak lebih dominan, dan biasanya memang hal ini yang lebih dulu distimulus agar 'jejakkannya' lebih mapan. Kalau dirasa sudah terlalu berlebihan, mungkin bunda Dewi sudah saatnya dan secara perlahan menstimuli motorik halusnya, dengan cara mengajak menyanyi, atau mendongeng. Kalau bunda Dewi kurang yakin, mungkin bisa sesekali berdiskusi dengan psikolog agar bunda dan putranya lebih nyaman menjalani kegiatan hub ortu anak ini. Mengingat pengetahuan saya juga belum cukup, dan saat ini saya juga baru menerapkan pola-pola tersebut, itu juga belajar dari buku, dvd, dan merangkum diskusi dari para aybun di milis ini, maka maaf ya kalau belum sreg. Semoga bisa turut membantu mengatasi tantrum anak. Salam maniez,
Widya D. Setyawati [email protected] [email protected] ph.: 021-31931935 http://oui-day.blogspot.com
