huk huk huk... akhir-akhir ini Razka [18 bulan] juga gitu lho...
Sering banget tantrum, bundanya lieur deh, kalau sudah unjuk keras hati wah wah 
wah kewalahan deh.
 
Saya cuma bisa mbatin, Ya Gusti paringono sabar... 
Ini ada link yang mungkin bisa membantu para bunda yang senasib dengan saya dan 
bunda Vania http://www.babycenter.com
 
Saya juga sudah khatam semua buku2 parenting, dvd happy toddler, melahap 
artikel mengenai tantrum dan buku mengelola amarah anaknya Kak Seto, plus cara2 
super nanny.
 
Akhirnya yang paling penting buat saya dalam menghadapi tantrumnya Razka adalah 
mengelola diri saya sendiri terlebih dulu agar tetap tenang, gak panik, sabar, 
dan harus bisa memberikan kenyamanan buat saya dan Razka.
Tarik napas panjang....
Hhhhh.....
Berdiri sejajar tinggi Razka
Tatap matanya
"Razka sayang... bunda gak ngerti kalau Razka menjerit"
Tatapan Razka mulai syahdu
Peluk, tepuk perlahan punggungnya
Jeritannya mereda, berubah menjadi tangis lirih sesenggukan.
Gendong, dan alihkan ke permainan lain yang lebih asik
tara... [kadang berhasil] Razka tersenyum sedikit-sedikit
 
Saya tidak jadi galak dan Razka juga tidak jadi manja.
 
Dari buku, dvd, artikel para pakar, hal ini memang bisa berlalu seiringnya 
waktu, semakin besar umurnya maka akan semakin mudah memberikan pengertian pada 
buah hati.
Kalau ibu saya bilang "ada masanya anak itu 'nyengit'" "hicks"
 
Mari kita sama-sama berdoa agar phase ini cepat berlalu :)
 
Ini ada artikel Temper Tantrum yang saya 'copas' buat para bunda, semoga 
bermanfaat.
Tantrum 
Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi.



 
Jakarta, 29 April 2002

Andi menangis, menjerit-jerit dan berguling-guling di lantai karena menuntut 
ibunya untuk membelikan mainan mobil-mobilan di sebuah hypermarket di Jakarta? 
Ibunya sudah berusaha membujuk Andi dan mengatakan bahwa sudah banyak 
mobil-mobilan di umahnya. Namun Andi malah semakin menjadi-jadi. Ibunya menjadi 
serba salah, malu dan tidak berdaya menghadapi anaknya. Di satu sisi, ibunya 
tidak ingin membelikan mainan tersebut karena masih ada kebutuhan lain yang 
lebih mendesak. Namun disisi lain, kalau tidak dibelikan maka ia kuatir Andi 
akan menjerit-jerit semakin lama dan keras, sehingga menarik perhatian semua 
orang dan orang bisa saja menyangka dirinya adalah orangtua yang kejam. Ibunya 
menjadi bingung...... , lalu akhirnya ia terpaksa membeli mainan yang 
diinginkan Andi. Benarkah tindakan sang Ibu?

Temper Tantrum 

Kejadian di atas merupakan suatu kejadian yang disebut sebagai Temper Tantrums 
atau suatu luapan emosi yang
meledak-ledak dan tidak terkontrol. Temper Tantrum (untuk selanjutnya disebut 
sebagai Tantrum) seringkali
muncul pada anak usia 15 (lima belas) bulan sampai 6 (enam) tahun. 

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum 
juga lebih mudah terjadi
pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut: 

1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur. 
2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru. 
3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan. 
4. Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif. 
5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal. 
6. Sulit dialihkan perhatiannya. 

Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Dibawah ini adalah beberapa 
contoh perilaku Tantrum, menurut tingkatan usia: 







1. Di bawah usia 3 tahun:

2. Usia 3 - 4 tahun:

3. Usia 5 tahun ke atas


• Menangis
• Menggigit
• Memukul
• Menendang
• Menjerit
• Memekik-mekik 



  
• Melengkungkan punggung
• Melempar badan ke lantai
• Memukul-mukulkan tangan
• Menahan nafas
• Membentur-benturkan kepala
• Melempar-lempar barang

• Perilaku-perilaku tersebut diatas
• Menghentak-hentakan kaki
• Berteriak-teriak
• Meninju
• Membanting pintu
• Mengkritik
• Merengek

• Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori
usia di atas 
• Memaki 
• Menyumpah 
• Memukul kakak/adik atau temannya 
• Mengkritik diri sendiri 
• Memecahkan barang dengan sengaja 
• Mengancam

Faktor Penyebab 

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum. Diantaranya 
adalah sebagai berikut: 

1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu. 
Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin 
saja memakai cara
Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada 
contoh kasus di awal.

2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri. 

Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu 
tapi tidak bisa, dan
orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu 
anak menjadi frustrasi dan
terungkap dalam bentuk Tantrum.

3. Tidak terpenuhinya kebutuhan. 
Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan 
tidak bisa diam dalam waktu
yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang 
dengan mobil (dan berarti
untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres.. 
Salah satu kemungkinan cara
pelepasan stresnya adalah Tantrum. Contoh lain: anak butuh kesempatan untuk 
mencoba kemampuan baru yang
dimilikinya. Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau 
umur anak 4 tahun ingin
mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh 
orangtua atau pengasuh. Maka 



 untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan, ia 
memakai cara Tantrum agar
diperbolehkan. 

4. Pola asuh orangtua 
Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan Tantrum. Anak yang 
terlalu dimanjakan dan
selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa Tantrum ketika suatu kali 
permintaannya ditolak. Bagi anak
yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa 
jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku Tantrum. Orangtua 
yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak Tantrum. 
Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin 
mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk 
menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan 
menjadi Tantrum ketika orangtua benar-benar
menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu 
memperbolehkan anak, yang
lain melarang. Anak bisa jadi akan Tantrum agar mendapatkan keinginannya dan 
persetujuan dari kedua
orangtua. 

5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.

6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman 
(insecure). 

Tindakan 

Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996) banyak ahli 
perkembangan anak menilai
bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan 
bagian dari proses
perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. 
Sebagai bagian dari proses
perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir.  Beberapa hal positif yang bisa 
dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin 
menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan 
pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa 
mengerti kalau mereka bingung, lelah atau 



sakit. Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan 
disemangati (encourage). Jika orangtua membiarkan Tantrum berkuasa (dengan 
memperbolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia Tantrum, seperti 
ilustrasi di atas) atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan 
paksaan-paksaan, maka berarti orangtua sudah menyemangati dan memberi contoh 
pada anak untuk bertindak kasar dan agresif (padahal sebenarnya tentu orangtua 
tidak setuju dan tidak menginginkan hal tersebut). Dengan bertindak keliru 
dalam menyikapi Tantrum, orangtua juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik 
untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi 
yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana 
bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan 
orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut. 

Pertanyaan sebagian besar orangtua adalah bagaimana cara terbaik dalam 
menyikapi anak yang mengalami
Tantrum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kami mencoba untuk memberikan 
beberapa saran tentang
tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk mengatasi hal 
tersebut.
Tindakan-tindakan ini terbagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu: 



1. Mencegah terjadinya Tantrum 
2. Menangani Anak yang sedang mengalami Tantrum 
3. Menangani anak pasca Tantrum 

Pencegahan 

Langkah pertama untuk mencegah terjadinya Tantrum adalah dengan mengenali 
kebiasaan-kebiasaan anak, dan
mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul Tantrum pada si 
anak. Misalnya, kalau
orangtua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang 
stres jika terlalu lama diam
dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak Tantrum, 
orangtua perlu mengatur agar
selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk 
memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil. 





Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus 
dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan 
tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugasnya lho!!!) dan 
mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada 
anak karena beban sekolah tersebut. Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada 
tugas-tugas sekolah, tapi juga pada permainan-permainan , sebaiknya anak pun 
didampingi orangtua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat 
membantu dengan memberikan petunjuk. 

Langkah kedua dalam mencegah Tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara 
orangtua mengasuh anaknya.
Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi 
(over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua orangtua selalu 
seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam 
perkataan dan perbuatan?


Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali 
melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, 
jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. 
Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan.
Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi 
satu sama lain di depan
anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. 
Orangtua hendaknya menjaga agar
anak selalu melihat bahwa orangtuanya selalu sepakat dan rukun. 

Ketika Tantrum Terjadi

Jika Tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang 
sebaiknya dilakukan oleh
orangtua adalah:

1. Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak 
ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah 
maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang 
membahayakan dirinya atau justru jika 



ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum 
anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari 
temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.

2. Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar tetap 
tenang. Jaga emosi jangan
sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak. 3. Tidak mengacuhkan 
Tantrum anak (ignore). Selama
Tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak 
memberikan nasihat-nasihat
moral agar anak menghentikan Tantrumnya, karena anak toh tidak akan 
menanggapi/mendenga rkan. Usaha
menghentikan Tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam 
api, anak akan semakin
lama Tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang terbaik adalah membiarkannya. 
Tantrum justru lebih
cepat berakhir jika orangtua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu 
atau paksaan. 

4. Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak 
selesai-selesai, selama anak
tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak 
bisa memeluk anak
dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan 
anak), minimal Anda duduk atau
berdiri berada dekat dengannya. Selama melakukan hal inipun tidak perlu sambil 
menasihati atau complaint
(dengan berkata: "kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih"; "kamu kan 
sudah besar, jangan
seperti anak kecil lagi dong"), kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya 
dengan mengatakan "mama/papa
sayang kamu", "mama ada di sini sampai kamu selesai".  Yang penting di sini 
adalah memastikan bahwa anak
merasa aman dan tahu bahwa orangtuanya ada dan tidak menolak (abandon) dia. 

Ketika Tantrum Telah Berlalu 

Saat Tantrum anak sudah berhenti, seberapapun parahnya ledakan emosi yang telah 
terjadi tersebut, janganlah
diikuti dengan hukuman, nasihat-nasihat, teguran, 



maupun sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun,
dan anak tetap tidak boleh mendapatkan apa yang diinginkan (jika Tantrum 
terjadi karena menginginkan
sesuatu). Dengan tetap tidak memberikan apa yang diinginkan si anak, orangtua 
akan terlihat konsisten
dan anak akan belajar bahwa ia tidak bisa memanipulasi orangtuanya. 

Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak, membaca buku 
atau bermain sepeda bersama.
Tunjukkan kepada anak, sekalipun ia telah berbuat salah, sebagai orangtua Anda 
tetap mengasihinya. 

Setelah Tantrum berakhir, orangtua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi 
Tantrum. Apakah benar-benar
anak yang berbuat salah atau orangtua yang salah merespon perbuatan/keinginan 
anak? Atau karena anak
merasa lelah, frustrasi, lapar, atau sakit? Berpikir ulang ini perlu, agar 
orangtua bisa mencegah Tantrum
berikutnya. 

Jika anak yang dianggap salah, orangtua perlu berpikir untuk mengajarkan kepada 
anak nilai-nilai atau
cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Kalau memang ingin 
mengajar dan memberi
nasihat, jangan dilakukan setelah Tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika 
keadaan sedang tenang dan
nyaman bagi orangtua dan anak. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika 
Tantrum belum dimulai, bahkan
ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi Tantrum.. Saat orangtua dan anak 
sedang gembira, tidak merasa
frustrasi, lelah dan lapar merupakan saat yang ideal. 

Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa kalau orangtua memiliki anak yang 
"sulit" dan mudah menjadi Tantrum,
tentu tidak adil jika dikatakan sepenuhnya kesalahan orangtua. Namun harus 
diakui bahwa orangtualah yang
punya peranan untuk membimbing anak dalam mengatur emosinya dan mempermudah 
kehidupan anak agar Tantrum tidak terus-menerus meletup. Beberapa saran diatas 
mungkin dapat berguna bagi anda terutama bagi para ibu/ayah muda yang belum 
memiliki pengalaman mengasuh 



anak. Selamat membaca, semoga bermanfaat.( jp)

 
Salam maniez dan sepenanggungan,
-bundanya Razka-


Widya D. Setyawati 
[email protected] 
[email protected] 
ph.: 021-31931935
http://oui-day.blogspot.com
<a href="


      

Kirim email ke