ANTIBIOTIK BUKAN "DEWA PENYEMBUH" Itu jelas. Tapi kenapa ya begitu sering diresepkan? Bahkan katanya, orang Indonesia yang berobat ke luar negeri sering bingung dan khawatir bila dokter di sana tidak meresepkan antibiotik. Sebaliknya, mereka yang sering berobat di luar negeri lantas berobat di sini selalu ngeri karena apa pun sakitnya selalu diberi antibiotik. Ini bukan lelucon tapi suatu kenyataan. Yang jadi pertanyaan memangnya kenapa kalau kita diresepkan antibiotik? Tentu tidak akan apa-apa bila penyakit tersebut memang bisa disem-buhkan dengan obat yang ditemukan pertama kali oleh Alexander Fleming ini. Masalahnya, beberapa dokter begitu mudahnya meresepkan antibiotik. Seperti yang diutarakan dr. Purnamawati Pujiarto, SpA (k)., M.M Paed, anak-anak di Indonesia merupakan populasi yang paling rentan untuk terpapar pemberian antibiotik. "Penelitian mem-buktikan ada 3 penyakit anak yang kerap diterapi dengan antibiotik yaitu; demam, radang tenggorokan, dan diare," jelas Koordinator Group Sehat (promoting rational use of drugs in the community). Padahal gangguan-gangguan kesehatan tadi (terutama pada anak di bawah 4 tahun) disebabkan infeksi virus yang tidak perlu pengobatan antibiotik. "Ini sudah dibuktikan oleh dunia kedokteran," tegas wanita yang akrab disapa Wati ini. Infeksi virus merupakan self limiting disease, yakni penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya akibat perlawanan sistem imun anak. Jadi yang dibutuhkan di sini adalah waktu dan kesabaran serta asupan gizi yang baik. "Infeksi virus juga merupakan pembelajaran bagi sistem imun anak agar semakin kuat dan canggih. Diharapkan di atas usia 5 tahun, imunitas tubuhnya akan semakin kuat dan ia pun jadi semakin jarang sakit." TAK MEMPAN LAGI Kembali lagi pada soal dampak, penggunaan antibiotik yang serampangan (irasional)- seperti dosis yang berlebihan atau kesalahan pola pemakaian dapat menimbulkan efek yang tidak bisa dibilang ringan. Sebagai awal, daya tahan tubuh anak akan melemah. Misalnya, dia hanya sakit flu (yang seharusnya bisa sembuh sendiri) namun lantas diresepkan antibiotik. Si pasien cilik bisa jadi memang cepat sembuh (katakanlah 2 hari minum antibiotik lantas membaik. Padahal bila menggunakan obat "biasa" memerlukan waktu 7 hari). Yang perlu diketahui, di dalam tubuh, antibiotik itu sebenarnya "menggerogoti" imunitas tubuhnya. Jadi jangan heran bila sebulan lagi si kecil bisa terkena penyakit yang sama. Istilahnya dengan antibiotik ia akan cepat sembuh tapi akan cepat sakit kembali. Namun yang paling dikhawatirkan adalah bila pasien akhirnya mengalami resistensi antibiotik. Ingat, bakteria adalah makhluk "cerdas" yang akan dengan mudah menyesuaikan diri agar dapat lolos dari efek antibiotik. Kalau sudah begini, ia tidak akan mempan lagi pada antibiotik A dan perlu diresepkan antibiotik B yang dosisnya jauh lebih kuat dan biasanya lebih mahal. Nah, bila penggunaan antibiotik pada yang bersangkutan tidak segera ditata ulang, bisa-bisa ia akan kebal dengan semua antibiotik yang ada di pasaran. Sebab sejak beberapa tahun terakhir, sedikit sekali antibiotik baru yang ditemukan. Lantaran itu antibiotik disebut sebagai satu-satunya obat komu-nitas. Maksudnya, obat yang berdam-pak terhadap lingkungan (antibiotics are societal medicine) karena tak hanya individu yang mengonsumsi antibiotik saja yang akan mengalami resistensi tetapi juga lingkungan sekitarnya (komunitas). MENGAPA SERING DIRESEPKAN? Ini berkaitan dengan "budaya" orang Indonesia. Menurut Wati tidak sedikit masyarakat kita yang masih beranggapan antibiotik adalah "dewa penyembuh". Tanpa antibiotik penyakit akan berlangsung lebih lama dan penyembuhannya lebih lambat. Gambaran yang salah inilah yang akhirnya mengultuskan antibiotik sebagai penyembuh segala penyakit yang ada di dunia. Jadi, bila si pemakai jasa layanan kesehatan tidak diresepkan antibiotik mereka jadi enggak pede lalu meminta obat tersebut untuk disisipkan di resep. Lo, kenapa pihak pelayan kesehatan bersedia menuliskannya di dalam resep? Begini, di Indonesia layanan kesehatan swasta jauh lebih dominan ketimbang layanan kesehatan publik. Artinya, banyak orang lebih memilih berobat ke RS/praktik swasta ketimbang ke puskesmas atau ke rumah sakit pemerintah. Padahal layanan kesehatan swasta sedikit banyak merupakan sebuah "industri" yang melihat konsumen sebagai penghasil pemasukan. Nah, agar tidak kehilangan konsumen itulah, permintaan antibiotik terkadang dipenuhi oleh pemberi jasa layanan kesehatan. Namun tentu tak bijak jika menyalahkan urusan antibiotik ini ke pundak tenaga kesehatan. Sebab, sebagai konsumen kesehatan pun, kita bertanggung jawab terhadap kesehatan diri dan keluarga. Lantaran itu, saran Wati, jadilah konsumen kesehatan yang bertanggung jawab dan proaktif dalam mempelajari pengetahuan dasar tentang kesehatan. Dengan begitu, selain akan lebih bijak ketika mempergunakan obat, termasuk antibiotik, kita pun teguh dan tak mudah panik. KONSUMEN BIJAK Konsumen kesehatan yang bijak akan selalu menanyakan hal-hal di bawah ini saat diberi resep oleh dokter: 1. Apa penyebab gangguan kesehatan yang tengah dialami anak. Contoh, apakah demamnya disebabkan infeksi virus atau infeksi kuman. 2. Saat memperoleh secarik resep, selalu bertanya apa obat yang diberikan, ada berapa obat yang diberikan (apabila yang diberikan dalam bentuk puyer, berapa obat yang disatukan dalam puyer tersebut, semakin banyak jumlah obat maka kita harus semakin berhati-hati dan kritis). Tanyakan nama generik obat agar mempermudah mencari informasi perihal obat terkait bila browsing di internet. 3. Tanyakan apakah anak kita diberi antibiotik. Apabila ya, tanyakan alasannya. 4. Bagaimana mekanisme kerja obat, apa yang diharapkan dengan pemberian obat-obat tersebut dan apa risiko efek sampingnya 5. Kita juga harus berkonsultasi dengan farmasis (apoteker) perihal obat yang diberikan dengan pertanyaan yang sama. Biasakan pula menyimpan salinan resep (bukan untuk mengulang pembelian obat melainkan untuk arsip). 6. Jangan lupa, minta brosur obat kepada apoteker. Hak konsumen untuk memperoleh brosur dan informasi obat yang harus dikonsumsi. 7. Berdasarkan informasi dari dokter dan apoteker, biasakan pula untuk browsing perihal obat yang diberikan untuk memperoleh informasi mendetail. Ingat, teliti sebelum membeli merupakan konsep yang juga harus diberlakukan ketika para orangtua tengah "berbelanja" kesehatan. O, ya konsumen yang bijak pun akan memahami beberapa hal di bawah ini: - Kapan harus mempergunakan antibiotik dan kapan kita tidak perlu mempergunakannya. - Pilek (selesma atau influensa) tidak butuh antibiotik meskipun demamnya tinggi dan ingusnya hijau. - Mayoritas diare pada bayi dan anak disebabkan virus sehingga akan sembuh dengan sendirinya. Penderita hanya membutuhkan antibiotik saat diarenya mengandung darah. - Antibiotik tidak akan mempercepat penyembuhan infeksi virus seperti selesma, influensa atau diare. KAPAN PERLU ANTIBIOTIK? Antibiotik diperlukan ketika anak terserang infeksi yang disebabkan oleh bakteri/kuman. Dokter akan meresepkan suatu jenis antibiotik berdasarkan pertimbangan:(1) jenis kuman (dapat dilihat dari hasil biakan di laboratorium), (2) keamanan termasuk efek sampingnya, (3) ada tidaknya interaksi obat, (4) data klinis sebelumnya, (5) biaya. Berikut beberapa penyakit yang biasanya membutuhkan antibiotik: - Sebagian infeksi telinga (sebagian besar infeksi telinga pada bayi/anak tidak perlu antibiotik karena umumnya merupakan komplikasi flu/selesma) - Infeksi sinus berat ( 2 minggu, sakit kepala hebat, pembengkakan wajah) - Radang tenggorokan akibat infeksi kuman streptokokus - Infeksi saluran kemih - Tifus - Tuberkulosis - Diare akibat amoeba hystolytica DILARANG BUAT ANAK Antibiotik golongan penisilin merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan pada anak, lainnya adalah antibiotik golongan makrolid dan golongan aminoglikosida. Sebaliknya ada beberapa golongan antibiotik yang harus dihindari oleh anak dan bayi seperti golongan tetrasiklin dan siprofloksasin, fluorokuinolon. Begitu juga kloramfenikol kecuali memang terbukti kumannya hanya sensitif terhadap kloramfenikol atau kalau memang di lapangan biaya terbatas. Tapi harus dipantau efek sampingnya dengan ketat. Kita dapat mengetahui efek samping masing-masing antibiotik (yang diresepkan dokter), dengan mengetahui nama generiknya. Perlu diketahui, sebagian besar antibiotik mempunyai dua nama; nama dagang (yang diciptakan oleh pabrik obat), dan nama generik (nama berdasarkan struktur/golongan kimianya). Contoh nama dagang dari amoksilin adalah Amoxan. Maka jangan ragu menanyakan nama generik antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Dengan bekal itu, kita dapat melacaknya di dunia maya. Tinggal masukan nama generik tersebut di search engine, lalu klik enter, maka info yang dibutuhkan pun akan muncul. Atau mampirlah ke situs, seperti www.medicastore.com Gazali Solahuddin. Foto: Dok. nakita CARA KERJA ANTIBIOTIK Antibiotik secara garis besar dibagi 2 kelompok. Antibiotik spektrum sempit (hanya bisa membunuh kuman tertentu) dan antibiotik spektrum luas (bisa membunuh berbagai kuman, termasuk kuman yang ganas). Ini berarti, suatu antibiotik tidak dapat membunuh semua kuman. Bila salah pilih, maka antibiotik itu akan mubazir dan penyakitnya malah bisa menjadi lebih parah. Sebaliknya kalau cocok, maka akan cespleng. Seperti yang dicontohkan oleh Prof. dr. Iwan Darmansjah, SpFK; jika antibiotiknya benar maka infeksi kulit atau infeksi mata akan ada perbaikan dalam 1-2 hari, sakit kencing juga dalan 1-2 hari, radang paru karena kuman dalam 1-3 hari, tifus setelah 5-7 hari, dan penyembuhan TBC baru setelah 6 bulan. Bila tidak terjadi maka diagnosis penyakitnya atau obatnya mungkin salah. Jumlah antibiotik yang sudah direncanakan harus dihabiskan untuk mentuntaskan penyembuhan. Namun, bila antibiotik tidak diberikan untuk penyakit yang benar membutuhkannya, maka penghentian pemberian antibiotik tidak akan menimbulkan akibat buruk. GUNAKAN SECARA BIJAK * Habiskan semua antibiotik yang diresepkan. Biasanya antibiotik diresepkan untuk 3 hingga 5 hari. Jadi meski si kecil tampak membaik dalam waktu 2 hari, antibiotik itu mesti dituntaskan dalam satu periode pengobatan. Bila pemakaiannya terhenti di tengah jalan, bisa jadi tidak seluruh bakteri akan mati, sehingga menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut. Hal ini dapat menimbulkan masalah serius bila bakteri yang resisten berkembang sehingga menyebabkan infeksi ulang. * Perhatikan jarak waktu antarpemakaian. Contoh antibiotik yang diresepkan 2 kali sehari harus diminum dalam jangka waktu 12 jam. Sementara yang 3 kali selang waktu minumnya setiap 8 jam. Antibiotik yang diresepkan 4 kali sehari diminum per 6 jam. Ini untuk memastikan antibiotik tersebut senantiasa ada di dalam tubuh yang bersangkutan. * Jangan abaikan instruksi, jadi bila diminta untuk diminum sesudah atau sebelum makan ya mesti dituruti. Pemakaian yang kurang tepat akan memengaruhi penyerapannya, yang pada akhirnya akan mengurangi atau menghilangkan keefektifannya. * Waspadai pemakaian bersamaan dengan obat lain karena bisa terjadi interaksi obat. . Untuk itu berikan informasi. kepada dokter dan apoteker tentang semua obat-obatan yang sedang dipakai sewaktu menerima pengobatan dengan antibiotik (baik itu obat bebas maupun obat yang diresepkan). * Hindari mengonsumsi antibiotik berbarengan dengan cairan prebiotik, seperti yogurt (yang mengandung bakteria baik). Jangan lupa, antibiotik membunuh semua kuman jahat maupun yang baik. * Hubungi dokter Anda segera begitu si kecil menampakkan reaksi setelah mengonsumsi antibiotik, gatal-gatal misalnya. Biasanya dokter akan meresepkan antibiotik dari jenis lain. ::BCA::
