Kalo dari pengertian aku, hal yg paling berharga bg swmnya itu adalah kepala dan ekor ikan. Maka dia memberikan itu pada istrinya, bagian yg paling disukainya. Lha istrinya kan ga tau itu, dia cuma pikir swmnya ga mau kpala ma ekor, dia pgn nyenengin swm ya dia mkn tu kpala ma ekor. Ealaa bu...50thn nelongso...
Ah intinya cuma miskomunikasi. Coba jaman dulu ada sms ato imel. Kaya aku kalo ada uneg2 ga bisa ngomong langsung, krn yg ada kalo ga emosi ya nangis. Aku biasanya smsan ma swm, skrg sejak ada push email *blm mampu beli blackberry...hehe*, apa2 yg ngganjel ya aku tulis bwt swm... Tar swm pulang kantor akunya dah ceria lagi... Bunda aulia+adam On 2/4/09, susilawati jati <[email protected]> wrote: > mba tri, hanya mau menambahkan > sebetulnya ceritanya masih berlanjut, sebetulnya yang suka makan kepala dan > ekor ikan itu malah suaminya, dan suaminya berpikir istrinyalah yang suka > makan kepala dan ekor makanya si suami mengalah untuk si istri. > > tambahan moral dari kesemua cerita tsb > si istri rela memberikan makanan yang terbaik untuk suami dan anaknya, > makanya dia rela memakan bagian yang tidak banyak dagingnya. > si suami malah mengira kalo istrinya suka makan kepala dan ekor ikan makanya > dia mengalah untuk istrinya. > (padahal kepala ikan banyak vitaminnya ya, terutama kepala ikan kakap merah) > > > > > > ________________________________ > From: Kundarwati Tri <[email protected]> > To: [email protected] > Sent: Tuesday, February 3, 2009 10:59:17 AM > Subject: [Ayahbunda-Online] 50 tahun salah paham > > > 50 tahun salah paham > > Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior > istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50. > Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti > para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta seniman-seniman > terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat serta kolega dari > kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun perkawinan pun > berlangsung dengan megah dan sangat meriah. > > Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara, > yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati kamuan > tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa > dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain adalah > sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang mahal. Ikan > emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat terkenal. > > "Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal. Tetapi, inilah > ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya > apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan > segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan, > kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi," kata sang pejabat > senior dalam pidato singkatnya. > > Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin tampak > khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil piring, > lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan emas. > > Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan > potongan kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. > > Ketika tangan sang isteri menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk > tangan dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa > oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut. > > Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak > tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak > dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa bahagia > mendadak jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang pejabat > tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan bertanya > "Mengapa engkau menangis, isteriku?" > > Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan "Suamiku…sudah 50 tahun usia > pernikahan kita. Selama itu, aku telah dengan melayani dalam duka dan suka > tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan > kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini.. Tapi sungguh tak kusangka, > di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. > Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai." tutur sang > isteri. > > Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca > pula, ia berkata kepada isterinya," Isteriku yang tercinta…50 tahun yang > lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku > sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada > diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, > membalas cinta kasih dan pengorbananmu. " > > Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, "Demi Tuhan, > setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan > ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas > itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga > buatmu." > > Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi "Walaupun telah hidup > bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak > cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu bagaimana > cara membuatmu bahagia." Akhirnya, sang pejabat memeluk isterinya dengan > erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan > mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut. > > Moral cerita diatas: > > Bisa saja, sepasang suami - isteri saling mencintai dan hidup serumah selama > bertahun-tahun lamanya. Tetapi jika di antaranya tidak ada saling > keterbukaan dalam komunikasi, maka kemesraan mereka sesungguhnya rawan > dengan konflik. Kebiasaan memendam masalah itu cukup riskan karena seperti > menyimpan bom waktu dalam keluarga. Kalau perbedaan tetap disimpan sebagai > ganjalan dihati, tidak pernah dibiacarakan secara tulus dan terbuka, dan > ketidakpuasan terus bermunculan, maka konflik akan semakin tak tertahankan > dan akhirnya bisa meledak. Jika keadaan sudah seperti ini, tentulah luka > yang ditimbulkan akan semakin dalam dan terasa lebih menyakitkan. > > Kita haruslah selalu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan dilandasi > kasih, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, pengertian dan kebiasaan berpikir > positif. > > Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, gunakan saat tersebut > untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu > saja untuk menjelaskan. > > Oleh: Tidak Diketahui > Sumber : heartnsouls. com > > > > -- Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com ------------------------------------ Subscribe: [email protected] Unsubscribe: [email protected] Info Belanja si Kecil: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
