Semoga suami kita ga kaya gini , he he he 



----- Forwarded Message ----
From: Kitrans Jkt/ESTI WIJAYA <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, February 19, 2009 2:25:15 PM
Subject: FW: If I only Had Time

 
 
 
_________________________________

IF I ONLY HAD TIME..... 

“Jangan Tuhaaaan jangan hukum aku… jangan ambil istriku… aku
tak bisa hidup tanpa dia…. Ampuni aku Tuhaaaan.”
“Mas… mas… bangun, mimpi buruk ya ?”.
“Hah.. mimpi ???. Oh… syukurlah… Cuma mimpi.”
Kupandangi wajah disampingku yang sedang tersenyum, kucium dan kupeluk erat²
takut Tuhan jadi melaksanakan niatNya dalam mimpiku tadi.
“Ayo… cepat bangun, sudah siang. Nanti terlambat ke kantor. Sarapan
dulu baru mandi, semua sudah aku siapkan”. Lagi² suara perempuan itu
menyadarkanku bahwa ini nyata, bukan mimpi.
“Hati² di jalan ya, selamat bekerja. Jangan lupa dimakan bekalnya, makan
siang jangan terlalu banyak makan lauk yang digoreng, kanlagi panas
dalam, katanya penuh sayang.”

Pelan² kujalankan roda kendaraan yang akan membawaku ke kantor, tempatku
berkutat dengan kerja dan terkadang orang² yang menyebalkan. Tempatku
mengharapkan bayaran setiap bulannya, tempatku memberikan pemikiran² terbaikku
bagi perusahaan.

Lamat² kudengar syair lagu di radio “So much to do, if I only had time,
if I only had time. Dreams to pursue, if I only had time, they’ be
mine….. Since I met you I thought, Life really is too short... But loving
you, so many things we could make true…. One whole century isn’t
enough to satisfy me…….”

Tuhan, betulkah lagu itu masih berlaku bagiku ? Sudah terlalu banyak waktu yang
Engkau berikan untukku tapi hanya kubiarkan berlalu sia².... If I only had
time….. masihkah aku punya waktu untuk memperbaiki diriku Tuhan ? Tak
terasa pelan² air mataku bergulir di pipi. Kembali teringat kata² lagu tadi
“But loving you, so many things we could make true….” Seolah
mimpi tadi malam kembali kualami….

Seharian aku berkutat dengan pekerjaanku terkadang teringatpun tidak aku
dengannya. Yan g ada di benakku, pastinya dia sedang mengurus rumah. Itu saja.
Entah dia sudah makan, entah dia sakit ya aku tidak terlalu peduli… Toh
aku sudah memberinya cukup uang pikirku … Waktu merangkak begitu cepat,
pagi berganti siang, dan siang disusul sore akhirnya malam sudah diambang pintu
menggantikannya. Jam berputar seakan berkejaran.

Jam tanganku menunjukkan waktu pukul 20.00 dan masih setumpuk pekerjaan yang
harus selesai segera karena besok aku yang ditunjukkan untuk mewakili
perusahaan dalam berpresentasi. .. Tiba² ponselku berbunyi “Hallo…
ya… ada apa? Malam ini ? Dimana ?... Oke… oke aku datang, tunggu
ya.” Si Badu memberitahuku bahwa ada kumpul² dengan beberapa teman di
sebuah resto.

Akhirnya pukul 21.00 aku melesat meninggalkan kantor. Ah senangnya bertemu lagi
dengan teman² lama.. Ngobrol sanasini,
tertawa ter-pingkal² waktu ada yang mengingatkan kejadian konyol yang kami
lakukan dulu, hingga tak terasa jam tanganku menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Setelah berjanji akan bertemu lagi segera, dengan langkah gontai aku menuju
tempat parkir, kupacu kendaraanku karena kantuk kian menyerang.

“ Sudah pulang mas ? Sudah makan ? Minummu pasti sudah dingin, biar aku
ganti yang hangat ya ?”
Dengan ter-huyung² istriku keluar kamar dengan mata yang tidak bisa dipungkiri
ngantuk berat….
Habis mandi, aku langsung masuk kamar untuk tidur.. Kulihat istriku dengan
senyum berusaha menahan kantuknya menunggu aku selesai mandi.
“Mas capek ya ? Banyak pekerjaan ya sampai pulang larut, sudah
makan?”
“Hmm..”, jawabku pendek. Tanpa babibu aku langsung tidur karena
tenagaku terkuras seharian ini. Aku masih merasakan pijatannya, sampai aku
terlelap tak ingat apa² lagi.

Keesokan harinya aku terkejut karena sudah jam 07 pagi sementara aku harus
presentasi jam 08..00. Bagai kesetanan, kucari istriku. Dia kutemui di dapur 
sedang
menyiapkan sarapan. “Sudah bangun mas ?”
“Apa susahnya sih membangunkanku lebih pagi ? Tahu enggak pagi ini aku
harus presentasi seharusnya kamu tahu dong tugasmu. (Padahal bukankah tadi
malam aku langsung tertidur pulas tanpa sempat memberitahu rencanaku pagi ini?)
Cepet siapkan bajuku !!!”

Untunglah aku tiba 30 menit sebelum waktu presentasi.
Dua jam berlalu, akhirnya aku keluar dari ruang presentasi dengan perasaan lega
karena semua berjalan dengan baik. Tiba² aku baru sadar perutku sudah berbunyi 
minta
segera diisi karena belum sebutir pun nasi kutelan. Teringat bekal yang sudah
dibungkus istriku karena melihatku ter-gopoh². Ketika dia memberikannya padaku,
bukan terima kasih yang diterimanya, tapi bentakanku yang membuatnya tersentak
“Kamu lagi, orang udah buru²begini malah ngerepotin aku pake disuruh bawa
bekal segala. Makan aja sendiri !”

Rasa bersalah kian menghujam hatiku. Sambil berjalan menuju kantin, aku
mengaktifkan kembali ponselku dan ada beberapa sms yang ternyata pesan dari
istriku “Mas, hati-hati jangan ngebut ya. Tadi sekitar jam 05.30 saya
sudah membangunkan mas karena menurut mas akhir² ini macetnya makin parah tapi
mas tetap tidak bangun.”
Lalu disusul sms berikutnya “Mas, jangan lupa sarapan ya. Minum teh manis
hangat juga”.
Tawa dan kesenangan bisa kubagi dengan teman² diluar sana. Selalu
ada waktu untuk mendengarkan curhat mereka. Tetapi buat dia, orang yang hanya
menerima segala ketidakadilan itu dengan diam, aku tidak pernah ada waktu. Yan
g kubawa pulang hanya kekesalan, keletihan dan ketidaksabaran karena terkadang
dia kuanggap terlalu bodoh.. Jadi buat apa aku membicarakan pekerjaanku,
kejadian² di kantor, teman²ku, toh dia tidak mengerti menurutku. Dan aku tidak
membutuhkan sarannya untuk memutuskan apapun yang akan kulakukan, acaraku,
dengan siapa aku ingin bertemu, atau bahkan penghamburan² untuk membayar semua
kesenangan dan kebanggaan.

“Tuhaaan… ibliskah aku ? Monsterkah aku yang sudah tidak punya hati
nurani ? Pendamping yang sudah kau berikan, permata yang amat berharga, sudah
kucampakkan ke dalam comberan bukan kujaga serta kurawat baik². Sudah lupa
daratankah aku?”

“Tuhaaan salahkah pendidikan yang telah kuterima sejak aku kecil hingga
inilah caraku menghargai seorang istri ? Jika anak perempuanku diperlakukan
seperti ini oleh suaminya, pasti hancur hatiku “.

“Tuhaaaan, ampuni aku. Ternyata tanpa kusadari aku telah berlaku kejam
terhadap istriku. Perempuan yang dulu membuatku mau melakukan apapun demi
mendapatkannya, namun kini ku-sia²kan.. Jangan ambil dia Tuhan, aku
memerlukannya untuk mengajariku apa itu peduli, apa itu kerendahan hati, apa
itu kepekaan, dan untuk menguatkanku menghadapi hari²ku. Dia sudah begitu tabah
mendampingiku selama ini, tapi apa yang diperolehnya ? Apakah dia bahagia hidup
bersamaku Tuhan ?”

Tak pernah kutanyakan apa yang dia ingin aku lakukan untuknya. Aku hanya
membutuhkannya untuk mengurus keperluanku, padahal apa yang kumiliki saat ini
kuyakini karena dia. Namun ia ternyata hanyalah sesuatu yang ada dalam
kehidupanku. Dia bukanlah seseorang yang menjadi prioritas hidupku. Perempuan
lemah yang hanya bisa menjerit dalam hati dan menggigit bibirnya keras² agar
tangisnya tak terdengar. Perempuan yang hanya menelan segala kepiluan dalam
bisu. Padahal seharusnya aku selalu ada untuk melindunginya.

Apa yang harus kukatakan jika aku mati dan ENGKAU bertanya padaku TUHAN,”
Apakah engkau suami yang baik? AKU akan mengambil istrimu kembali karena KU
lihat engkau tidak memerlukannya lagi. Biarlah dia bahagia bersama KU di
surga..”

So much to do, if I only had time… only time..
Istriku, maafkan aku sayang .. Aku suami tak tahu diri. Beri aku kesempatan
untuk menebus kesalahanku selama ini. Pandanganku kian kabur oleh air mata.
Tiba² ponselku berbunyi ada sms yang masuk… ternyata dari kakak iparku, isinya
“Istrimu mengalami kecelakaan tadi waktu menyebrang di depan pasar. Dia
ada di ICU RS …..”
Aku menjerit sekuat tenagaku ‘”Tuhaaaaaan
………..”

(Sweet memory of my beloved wife, diterjemahkan oleh : Singgaraningnyowo
Disadur dari sebuah artikel majalah wanita dalam rangka menyambut Hari Kasih
Sayang)
 
 
 

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.10.25/1957 - Release Date: 2/17/09 7:07 
AM
 

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.10.25/1957 - Release Date: 2/17/09 7:07 
AM
 

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.18/1852 - Release Date: 12/16/08 6:11 
PM
 

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.18/1852 - Release Date: 12/16/08 6:11 
PM
 

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.18/1852 - Release Date: 12/16/08 6:11 
PM


      

Kirim email ke