Mba kennia .. Wah daku setuju bgt tuch dgn penjelasan dr prof.Iwan kyknya logis bgt .. Yaa even skrg lg bnyk pro & kontra ttg puyer,tp bgmnpun puyer bnyk menolong lho klo si kecil lg sakit.Spt flu wlaupun disebabkn oleh virus n bs sembuh dgn daya tahan tubuh si kecil ttp aj kan kt para moms ga tega klo liat si kecil ga bs tidur n susah nafas.Jd akhirnya,yaa teuteup aj diobatin n yg paling gampang ya pake puyer yg dah termsk obat pilek batuk n penurun panas .. So moms,wlaupn ad sisi negatifnya ttp singkapi dgn hati yg dingin ya ..
Warm regards, Alicia,-mommy keisha Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "kennia" <[email protected]> Date: Sun, 22 Feb 2009 17:26:22 To: <[email protected]> Subject: [Ayahbunda-Online] narasumber tentang puyer Dear all... semoga bisa menjadi penenang dan penengah diantara kepanikan... ini sy forward dr email milist kedokteran (angkatan sy), yang mengupload salah seorang teman sejawat di bidang spesialis anak. bisa juga di liat di website http://www.iwandarmansjah.web.id/medical.php mohon maaf sebelumnya bila ada yg kurang berkenan. regards, kennia Mudah2an bisa jd sedikit pencerahan di tengah 'keributan' masyarakat mengenai pro-kontra puyer.. -*****- dr website prof. iwan darmansjah (salah seorang profesor dibidang farmakologi klinik fkui) Category: Rationaldruguse Tentang Puyer 1. Apakah tepat pemakaian obat puyer? Tepat, bila dipakai untuk kriteria: tujuan yang benar, kapan dan oleh siapa puyer itu dibuat. Bila dibikin resep campuran (kream atau puyer) oleh dokter kulit yang tulisan resepnya tak terbaca, lalu diberi kode misalnya 'resep # 1' dari Dr. X yang tujuannya ialah supaya pasien tidak bisa mengcopy resepnya, ya perlu ditindak. Tidak ada satu negara yang melarang digunakan puyer jika memang 'perlu', termasuk Amerika ataupun Australia (yang peraturannya sangat ketat), dan saya telah mengececk kebenaran ini. Kasus2 kecelakaan yg diajukan di Amerika memang terjadi, tapi apotik Amerika tidak biasa bikin puyer, sedangkan di Indonesia bikin puyer ialah yang paling diajarkan sekolah farmasi. Dan dosis yang dibuat pabrik Indonesia tidak disesuaikan dg orang Indonesia (jika diperlukan). Memang peresepan puyer/kapsul racikan banyak yg tidak benar, sehingga perlu dibatasi/dikurangi, namun tidak bisa dilarang. Sulitnya ialah menaruh kriteria dan kontrolnya. 2. Mengapa puyer masih dipergunakan/diresepkan dokter? Karena tidak ada peraturan resmi yg melarangnya, dan dokter diberi wewenang untuk melakukan itu, bila perlu. Karena bagaimana kita bisa mengobati pasien kita bila memang tidak ada obat-jadi yang pas jenis campuran dan dosisnya untuk mengobati dengan hati nurani dokternya, dan disertai evidence bahwa memang obat-jadi yang ada TIDAK PAS. Misalnya, semua obat flu di negara ini AS telah dinyatakan oleh FDA (sendiri) bahwa semua komposisi (dan dosisnya (ID) salah). Fenilpropanolamin yg dipakai untuk pilek jelek, karena menaikkan tekanan darah terlalu banyak karena memang sifatnya, dan bisa menimbulkan stroke. Namun FDA sampai kini diam saja. Juga semua obat pilek kita meniru Amerika, dengan dosisnya; dan bila dosis diturunkan pileknya ga sembuh. Apa yang kita harus lakukan dalam kondisi seperti ini? Obat pilek memang efektif dalam uji klinik buta-ganda. Masa flu ga boleh diobati, dan menunggu aja sampai sembuh sendiri? Memang flu tidak perlu antibiotik, dan ini yang salah, bukan obat flu dalam puyer atau kapsul. 3. Apakah WHO merekomendasikan puyer? WHO bukan melarang, dan ini bukan tugas WHO, WHO tidak berhak memerintahkan negara. Yang jelas ialah pabrik obat sedunia yang mengharapkan obat produksinya yang sudah jadi yang dipakai. Alasannya jelas! Dibikin motto: "One dose for all", but this is against Evidence Based Medicine, yang harus mengobati pasien di depannya dengan cara yang benar (lalu, bagaimana bila komposisi atau dosis tidak benar). Manusia bervariasi kebutuhannya, dan variabilitas ini menunjukkan , secara ilmiah, bahwa di antara negara saja terdapat perbedaan (yg bisa menyolok), apalagi diantara manusianya. Bila memang dikehendaki, industri HARUS menyediakan 4-6 dosis (belum termasuk utk anak) di pasar supaya dokter bisa milih dosis yg tepat utk pasiennya. Tapi puyer jangan dibuat sebagai kebiasaan, bila sudah ada yang jadi, karena apotik memang bisa bikin kesalahan timbang atau kesalahan lain. FDA hanya melarang 'inappropriate'compounding' , bukan yang memang diperlukan. Banyak kasus yg dicontohkan ialah meracik jenis obat yg sudah dilarang FDA., misalnya, dan yang melakukan terutama ialah pabrik obat sendiri yang memenuhi permintaan dokter2 yang dikenal (secara pribadi). Ini tentu tidak boleh dibenarkan. Di Singapore hal ini juga dilakukan oleh spesialis2. 4. Aapa kelebihan puyer dan apa kelemahan nya? Kelebihannya ialah membuat komposisi dan dosis yg pas utk pasiennya, bila di pasar tidak tersedia. Kelemahannya banyak dan bisa diterka sendiri, karena bangsa ini "inovatif", tapi sering menceng. Ini yang tidak diperbolehkan, seperti bikin puyer dalam cobek. Emangnya sambel ulek? Kan sekolah farmasis semua diajarkan bagaimana cara yg benar. Mortar untuk 'mengulek' obat kan juga tidak berlubang2 seperti jalanan kita, sehingga puyer bisa ketinggalan dalamnya. Karena itu bikin puyer HARUS oleh apotik. Membuat obat dalam puyer juga akan membuat harga obat lebih murah, karena bahannya bila dari tablet, bisa diambilkan dari dosis yg besar, yang relatif jauh lebih murah dari tablet berdosis kecil. Kelemahan puyer memang banyak terutama bila yang tidak dilakukan dengan benar. 5. Bagaimana dengan ketepatan dosis, kebersihan puyer? Cukup banyak obat jadi tidak tepat dosis, misalnya saja theophyllin/aminophyllin dianggap jelek, karena dosisnya untuk asthma tidak ada yang tepat untuk orang Asia. Sebagian besar dosisnya terlalu tinggi. Satu tablet-pun berisi 200 mg, yang dianggap satu dosis orang dewasa. Sebagian besar kita tidak tahan dosis ini, sehingga berdebar jantungnya dan asmanya justru tidak ada perbaikan (efek paradoksal dari dosis tinggi). Namun dg dosis 140 mg aminophyllin per kali cocok utk sebagian besar pasien. Sedangkan dg dosis lebih kecil tidak mempan sama sekali. Dosis dalam puyer kan bisa dihitung, berapa yg masuk mortir utk dibagi dalam berapa buah puyer. Ketepatan obat tidak mutlak bila sudah harus nasuk mulut, tapi di pabrik harus TEPAT dosisnya,. Pabrik di haruskan mengikuti CPOB, namun CPOB tidak berlaku utk apotik, disini berlaku peraturan profesi sendiri. Toleransi dosis yang masuk mulut tentu bisa hilang sedikit, namun perbedaan + 5 % tidak bermasalah, kecuali utk obat tertentu yg biasanya tidak dilakukan dibuat sebagai puyer. Puyer perlu diracik secara bersih, tidak disyaratkan 'steril'. Tablet bila dibelah tidak mungkin bisa tepat separoh. Sirop-pun lebih bervariasi dosisnya yg masuk mulut (dan perut). 6. Ada puyer yang diproses dengan blender, dan mortar tidak dibersihkan sehingga suatu jenis obat bercampur dengan sisa obat yg ada di mortar. Apa dampak dari hal ini terhadap pasien yg memakai puyer? Ini tentu semuanya salah, dan melanggar SOP apotik, jadi jangan dipersoalkan. Laporkan pada POM bila itu anda lihat. Karena bila mau dilarang bikin puyer, hal ini akan "membuang bayi dengan air mandinya". Permukaan mortar untuk obat dibuat khusus dengan permukaan licin, sehingga tidak ada bagian yang bakal tertinggal. Mortar juga wajib dibersihkan sehabis dipakai. Lihat juga jawaban di nomer 4. 7. Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi pemakaian puyer? Ya, monitor keadaan, dan bila terjadi kekeliruan harus ditindak. DepKes bikin statement jelas di koran, karena masyarakat sekarang sedang panik, dan internet sudah ngawur pembahasannya. Dan ini hanya karena segelintir orang yang meladeni kemauan WHO dan pabrik obat. 8. Apa yg harus dilakykan orangtua bila seorang dokter meresepkan puyer? Apakah menolak dan minta diganti dngn obat yang bukan puyer seperti sirop atau sachet? Tentu tidak. Minta saja dokternya membuat racikan yang rasional. Ini lebih penting,dari pada RIBUT mengenai puyer.
