Dear Moms,
Semoga artikel ini berguna yah.
Rgds / Mama Aeris
Bijak Berobat, Bocah Selamat
Koran Tempo, Tempo Interaktif
Jakarta: Dari hidung Bella, 3 tahun, mengucur cairan. Terkadang diselingi
bersin-bersin. Sang bunda pun berpikir. "Mesti ke dokter nih, biar pileknya
nggak keterusan," tuturnya dalam hati. Ia pun mengajak suaminya. Ketiganya
berangkat ke dokter langganan. "Aku mau minta obat yang cespleng biar Bella tak
menderita," ujarnya. Pola seperti ini lazim ditemukan di keluarga Indonesia.
Kunjungan ke dokter adalah kunjungan untuk berobat alias meminta obat.
Padahal jelas-jelas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tertera bahwa konsultasi
medis adalah perundingan antara pemberi dan penerima layanan kesehatan untuk
mencari penyebab terjadinya penyakit dan untuk menentukan cara-cara pengobatan.
Tapi, yang terjadi di negeri ini, menurut dr Purnamawati Sujud Pujiarto, SpAK,
banyak yang menganggap hanya dokterlah yang paling tahu soal obat dan kesehatan.
Direktur Medik Kemang Medical Care, Jakarta Selatan, yang biasa disapa Wati ini
menyebut kesehatan bukan hanya urusan dokter dan tenaga medis lainnya.
Pasienlah yang paling berkepentingan, dan dokter bukan berarti orang yang
paling tahu soal obat-obatan.
Pasien, menurut Wati, harus paham bahwa konsultasi medis adalah cara untuk
berbagi informasi, serta meminta penjelasan dan kejelasan. Walhasil, pasien pun
harus mempelajari dasar-dasar kesehatan dan proaktif bertanya dan mencari tahu.
"Sehingga pemakaian obat pun dilakukan dengan bijak," ucapnya.
Saat ini, bukan saatnya lagi menggantungkan persoalan kesehatan kepada dokter.
Kemajuan ilmu kedokteran dan farmasi yang pesat sering kali tak seiring dengan
langkah para tenaga medis. Buktinya, masih banyak pasien yang diberi obat
sesuai dengan gejala oleh dokter.
Ketika si kecil sakit flu, dia bangkis-bangkis, badannya panas, kepalanya
sakit, dan batuk, dokter pun akan memberinya beragam obat. Setidaknya satu obat
untuk satu gejala. "Jadi, bayangkan jika si kecil tadi memiliki enam gejala.
Obatnya bisa enam atau lebih," ujar Wati
Pemberian obat yang dilakukan dokter tidak berdasarkan diagnosis. Wati
menyatakan pengobatan berdasarkan gejala bisa menyesatkan karena dasarnya tidak
terdeteksi atau tertangani. Lagi pula, hal itu sering memicu penggunaan obat
secara berlebihan. "Ketika hanya perlu 1 atau 2 obat, ternyata kita mendapat
banyak karena satu obat untuk satu gejala," tuturnya.
Anak dan orang tua merupakan kelompok yang paling sering terpapar kasus
pengobatan tidak rasional. "Anak merupakan populasi yang paling terpapar oleh
obat, terutama polifarmasi (pemberian beberapa obat sekaligus, padahal tidak
perlu) dan antibiotika," ujarnya dalam acara "Weekend at KMC", beberapa waktu
lalu.
Dan tiga kondisi yang paling sering diterapi dengan antibiotik adalah demam,
radang tenggorokan, dan diare. Padahal, dalam kasus itu, anak yang sakit tidak
membutuhkan antibiotik karena penyakit tersebut disebabkan oleh infeksi virus.
Kebanyakan kasus penggunaan obat secara berlebihan jenis terlihat pada
pemberian bentuk puyer, pemakaian antibiotik dan obat non-generik yang tidak
pada tempatnya, menggunakan penyuntik, dan mengonsumsi suplemen yang tidak
perlu.
Banjirnya berbagai jenis obat di pasaran membuat para dokter sulit memutuskan
yang tepat. Dokter pun terjepit pada dua sisi, promosi obat yang agresif dan
pasien yang menuntut penggunaan obat tertentu. Walhasil keputusan penggunaan
obat pun sering dipengaruhi oleh produsen obat. "Promosi dan pemasaran produk
yang sangat agresif akhirnya membuat konsumen tidak rasional," ujarnya. Pasien
selalu ingin mendapatkan obat untuk setiap keluhan.
Kondisi itulah yang kemudian membuka peluang terjadinya penggunaan obat yang
tak rasional. "Orang juga masih menganggap bahwa yang mahal adalah yang
berkualitas, padahal generik sudah cukup," cetusnya. Belum lagi, menurut dia,
banyak obat di luar negeri yang sudah tidak digunakan tapi di Indonesia masih
digunakan, khususnya anak-anak.
Karena itu, Wati mengingatkan untuk menjadi pasien yang pintar. Penggunaan obat
yang baik harus meliputi 5 hal, yakni tepat dalam urusan diagnosis, dosis,
jangka waktu, informasi, dan harga. Kemudian, menurut Wati, ada tiga hal yang
harus ditanyakan kepada dokter. Yakni mulai dari masalah dan penyebab, tindakan
yang harus dilakukan dan alasannya, serta kapan kita harus merasa lebih
cemas.pemberian beberapa obat sekaligus pada saat yang bersamaan pada kondisi
yang tidak memerlukan obat sekaligus.
Yang Tak Rasional
1.Polifarmasi - pemberian beberapa obat sekaligus pada saat yang bersamaan pada
kondisi yang tidak memerlukan obat sekaligus.
2.Penggunaan antibiotik secara berlebihan.
3.Pemberian steroid yang berlebihan juga.
4.Tingginya pemakaian obat non-generik, obat injeksi, dan obat yang sebenarnya
tidak diperlukan.
Untuk Infeksi Virus
1. Hindari pemakaian obat antidemam lebih dari satu jenis.
2. Jangan menggunakan asetosal untuk infeksi virus karena berisiko mengalami
sindrom Reye--sejenis radang otak yang disertai dengan fungsi sel hati yang
memburuk. Asetosan, aspirin, dan aspilet tidak boleh diberikan kepada anak
berusia kurang dari 16 tahun.
Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/