Mbk tita rosita thank's bgt ya info tentang bukunya, jadi pgn hunting ke toko 
buku nih, hehehe






 mayadeny Cantik
     Ndanya Ata & Chika ♥ 
Sent from my Blackberry™ ©urve 
powered by Sinyal Kuat INDOSAT kebumen

-----Original Message-----
From: Tita Rostita <[email protected]>

Date: Wed, 11 Mar 2009 19:43:10 
To: milis ayahbunda<[email protected]>
Subject: [Ayahbunda-Online] dimana mencari kebahagiaan?



catatan saya dari buku 7 Laws of Happiness

Masalah dalam keluarga, selalu ada. Berat atau ringan sebuah masalah tidak bisa 
dipastikan karena setiap orang punya takaran sendiri-sendiri, setiap ayah punya 
kekuatan berbeda-beda, setiap ibu punya kesabaran yang tidak sama satu sama 
lain.  Masalahnya,  bagaimana cara menyikapi sebuah masalah, bagaimana seorang 
ayah menyikapi persoalan dengan istri dan anak-anaknya, bagaimana istri 
menyikapi persoalan dengan suami dan anak-anaknya, dan bagimana anak-anak 
menyikapi persoalan dirinya sendiri,  dengan teman-temannya dengan sekolahnya.

Sebut saja seorang ibu di Korea ditakdirkan melahirkan anak ‘istimewa’  
(istimewa ini dalam tanda petik—karena anak yang berbeda secara fisik dengan 
anak normal --- adalah anak istimewa – setuju?).  Hee Ah Lee nama sang anak 
hanya memiliki 4 jari, dan kedua kakinya hanya sebatas lutut.  Tapi sang ibu 
menamai putrinya itu Hee Ah Lee. Hee berarti kebahagiaan, Ah adalah tunas pohon 
yang terus tumbuh, dan Lee adalah nama keluarga.  Sebuah nama yang istimewa 
untuk seorang anak istimewa!  Ibunda Hee Ah Lee ini dengan suka cita 
membesarkan putrinya yang kemudian menjadi pianis terkemuka di dunia.  Bukankah 
sebuah keajaiban seorang anak berjari empat bisa menjadi pianis kelas dunia?

Sang ibu bisa saja menangisi nasib karena memiliki anak seperti Hee Ah Lee, 
tapi ibu Hee Ah Lee memilih ‘bergembira’ dengan kehadiran kebahagiaan tunas 
pohon yang terus tumbuh.  Ah, seandainya saja semua ibu mempunyai prinsip 
seperti ibu Hee Ah Lee, hidup tanpa berkeluh kesah – jalan menuju ‘bahagia’ itu 
mungkin akan mudah ditemukan.

Ngomong-ngomong cerita itu saya ambil dari buku Pak Arvan Pradiansyah lho! 
Diambil dari Buku 7 Laws of Happiness: Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia, 
diterbitkan Kaifa, Mizan Grup. 

Masih ada satu cerita lagi di Buku Pak Arvan yang saya ingin saya bagi  
tentang: 
Seorang ayah yang ingin menikmati hari libur dengan anak laki-lakinya yang 
berusia 6 tahun.  Mereka ke bioskop nonton film yang sedang ramai dibicarakan.  
Tapi anaknya mengeluh sakit perut. Awalnya sang ayah menyuruhnya agar bertahan 
tapi si anak menyerah dan mereka segera mencari toilet.  Ternyata semua toilet 
penuh.  Sang ayah menggerutu karena tak bisa terus menonton. Rasa ’bete’ sang 
ayah akhirnya hilang setelah menyadari tujuan mereka hari itu adalah 
bersenang-senang bersama.  Nonton film di bioskop hanyalah cara dari begitu 
banyak cara lain untuk bersenang-senang bersama.

Dua cerita tadi bisa saja disebut sebagai kasus besar dan kasus ringan dalam 
keluarga, tapi keduanya berakhir dengan happy ending, karena ...

Pak Arvan menceritakannya dalam buku bergizi 7 Laws of Happiness.  Saya 
benar-benar terkesan dengan 2 cerita itu, belum lagi cerita2 lainnya ... wah!



















Masalah dalam keluarga, selalu ada. Berat atau
ringan sebuah masalah tidak bisa dipastikan karena setiap orang punya takaran
sendiri-sendiri, setiap ayah punya kekuatan berbeda-beda, setiap ibu punya
kesabaran yang tidak sama satu sama lain. 
Masalahnya,  bagaimana cara menyikapi
sebuah masalah, bagaimana seorang ayah menyikapi persoalan dengan istri dan
anak-anaknya, bagaimana istri menyikapi persoalan dengan suami dan
anak-anaknya, dan bagimana anak-anak menyikapi persoalan dirinya sendiri,  
dengan teman-temannya dengan sekolahnya.

 

Sebut saja seorang ibu di Korea ditakdirkan melahirkan
anak ‘istimewa’  (istimewa ini dalam
tanda petik—karena anak yang berbeda secara fisik dengan anak normal --- adalah
anak istimewa – setuju?).  Hee Ah Lee
nama sang anak hanya memiliki 4 jari, dan kedua kakinya hanya sebatas
lutut.  Tapi sang ibu menamai putrinya
itu Hee Ah Lee. Hee berarti kebahagiaan, Ah adalah tunas pohon yang terus
tumbuh, dan Lee adalah nama keluarga. 
Sebuah nama yang istimewa untuk seorang anak istimewa!  Ibunda Hee Ah Lee ini 
dengan suka cita
membesarkan putrinya yang kemudian menjadi pianis terkemuka di dunia.  Bukankah 
sebuah keajaiban seorang anak
berjari empat bisa menjadi pianis kelas dunia?

 

Sang ibu bisa saja menangisi nasib karena
memiliki anak seperti Hee Ah Lee, tapi ibu Hee Ah Lee memilih ‘bergembira’
dengan kehadiran kebahagiaan tunas pohon yang terus tumbuh.  Ah, seandainya 
saja semua ibu mempunyai
prinsip seperti ibu Hee Ah Lee, hidup tanpa berkeluh kesah – jalan menuju
‘bahagia’ itu mungkin akan mudah ditemukan.

 

Ngomong-ngomong cerita itu saya ambil dari
buku Pak Arvan Pradiansyah lho! Diambil dari Buku 7 Laws of Happiness: Tujuh
Rahasia Hidup yang Bahagia, diterbitkan Kaifa, Mizan Grup. 

 

Masih ada satu cerita lagi di Buku Pak Arvan
yang saya kutip sore ini tentang: 

Seorang ayah yang ingin menikmati hari libur
dengan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun. 
Mereka ke bioskop nonton film yang sedang ramai dibicarakan.  Tapi anaknya 
mengeluh sakit perut. Awalnya
sang ayah menyuruhnya agar bertahan tapi si anak menyerah dan mereka segera
mencari toilet.  Ternyata semua toilet
penuh.  Sang ayah menggerutu karena tak
bisa terus menonton. Rasa ’bete’ sang ayah akhirnya hilang setelah menyadari
tujuan mereka hari itu adalah bersenang-senang bersama.  Nonton film di bioskop 
hanyalah cara dari
begitu banyak cara lain untuk bersenang-senang bersama.

 

Dua cerita tadi bisa saja disebut sebagai
kasus besar dan kasus ringan dalam keluarga, tapi keduanya berakhir dengan
happy ending, karena ...

 





      

Kirim email ke