Dear Mba Oci...,
 
sharing ya...
emang ya kalo anak sakit kita jadi panik.com...
sama mba...aku juga gitu...
duluuu...waktu diandra bayi...pernah kena roseolla...
aku bawa ke RS terkenal deh...dengan harapan cepat sembuh...
ternyata???masa anakku didiagnosa kena gejala typhus!!!
walaahh....gak percaya lagi deh kesana...
tapi sempet  tuh dikasih obat racikan sama dsanya...
ternyata...roseolla itu penyebabnya virus n gak ada obatnya selain daya tahab 
tubuh...ya menyesal tiada guna secara tuh obat abis aku minumin ke diandra...
pindah RS lagi...lumayan terkenal juga...
diandra kena radang tenggorokan...dikasih racikan lagi...tapi gak aku abisin 
tuh obatnya,ditambah AB pula...padahal setelah baca sana sini..radang 
tenggorokan pada anak kurang dari 5 tahun itu penyebabnya kebanyakan 
virus....bisa diketahui penyebabnya bakteri setelah uji usap 
tenggorokan....yah...menyesal lagi juga tiada guna...
terakhir...beberapa minggu yang lalu diandra ada merah2 sekujur tubuhnya...aku 
bawa ke dsa...teteeep aja dikasihnya juga racikan (padahal ini udah ganti 
dokter...)...racikan gak aku tebus cuma bedak gatelnya ajah...
sekarang...
andra kena batpil udah dari hari senin sempat demam tinggi juga...
alhamdulillah,aku gak panik...
karena batpil itu penyebabnya virus...yo weis...aku tambahin asupan 
cairannya,buah juga,alhamdulillah nafsu makannya masih oke...ayahnya n ortuku 
udah ribut aja supaya bawa diandra ke dsa...aku tetep bertahan gak bawa 
dia...wong anaknya juga ceria2 aja...
jadi mba oci...berusaha aja tetap tenang...karena kebanyakan penyakit anak itu 
kan penyebabnya virus (batpil,diare,DB pun gak ada obatnya selain asupan cairan 
dan daya tahan tubuh)...kasian lho kalo anak terus2an dikasih obat...
maaf gak nemu soal cesfannya...tapi ini aku posting tentang penggunaan AB oleh 
Prof.Iwan Darmansjah...semoga membantu ya...
regards
-ibunya andra-
Penggunaan Antibiotika Pada Anak


















window.google_render_ad();

Penggunaan antibiotika pada pasien anak

Antibiotika (AB)merupakan obat yang sangat berperan dalam memerangi infeksi 
yang ditimbulkan oleh kuman. Walaupun pemakaian AB yang baik berlaku untuk 
semua umur, AB untuk populasi pediatrik perlu memperoleh perhatian khusus 
karena kecenderungan pemakaian yang berlebihan. Klinik dokter anak dipenuhi 
dengan pasien anak yang hampir setiap 1-3 minggu datang kembali - kebanyakan - 
dengan keluhan yang sama, yaitu demam, batuk dan pilek. Hal ini merupakan 
fenomen yang tidak terjadi di negara Barat. Anak kecil, terutama bayi, 
membutuhkan pertumbuhan sehat tanpa AB bila memang tidak ada kepastian infeksi 
kuman.

Yang lebih memprihatinkan lagi ialah bahwa populasi anak memang merupakan 
golongan umur yang tidak mempunyai data tentang pemakaiannya, karena tidak / 
jarang dilakukan uji klinik seperti terhadap orang dewasa. Dosis obatnya-pun 
tidak dilakukan dose-ranging studies (studi penentuan dosis) yang cukup 
kompleks. Walaupun tidak ada peraturan yang tidak membolehkan penelitian pada 
anak di seluruh dunia, perijinan obat pada anak jarang diberikan secara khusus 
oleh FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat, dan anehnya tidak 
diminta oleh FDA sebagai syarat perijinan pemasaran. Hal ini berlaku di seluruh 
dunia, seolah ada hambatan melakukan studi pada anak. Khusus di Jepang wanita 
juga tidak boleh (dilarang) dipakai sebagai subyek percobaan uji klinik. Hal 
ini menimbulkan tidak adanya data pada kedua jenis manusia tentang pemakaian 
obat. Pada hal orang tua diminta juga datanya oleh FDA bila diperlukan, karena 
mereka khusus bereaksi lain dibanding
 populasi muda. 

Selain itu, juga selalu dikatakan bahwa anak bukanlah merupakan orang dewasa 
kecil, karena mereka memiliki sifat2 yang bisa sangat berbeda. Ini menyebabkan 
penentuan dosis pada anak terjadi dengan perhitungan umur/12 atau berat badan 
/berat badan dewasa kali dosis dewasa. Perhitungan empirik ini sering tidak 
bisa diterapkan, karena berlaku bahwa ‘anak bukan dewasa kecil’. Mereka berbeda 
dalam banyak hal, seperti penyerapan usus, metabolisme obat, ekskresi obat, dan 
juga kepekaan reseptor dalam tubuh. Obat, seperti oseltamivir (obat flu 
burung), juga lebih mudah melewati sekat darah-otak (blood-brain barrier) pada 
bayi, sehingga efek samping kematian bisa mengejutkan. Hasil penelitian pada 
anak sulit diperoleh dan juga tidak mudah dilakukan, sehingga data mengenai 
efektivitas, efek samping dan dosis, terutama tidak ada. Dokter anak , anehnya, 
harus mengobati tanpa bukti (evidence), yang berbeda dengan orang dewasa yang 
sering diteliti sangat jelimet
 dan menghabiskan biaya luar biasa. Ini dapat dimengerti jika kita ketahui 
bahwa sebagian besar ini dibiayai pabrik obat untuk obat2 yang banyak dipakai 
seperti obat darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, cancer, dsb. Penelitian 
yang mahal sekalipun sering membawa keuntungan yang sangat banyak, bila 
memperoleh hasil yang superior dibanding obat produksi lawannya. Satu-dua obat 
seperti itu, yang disebut ‘blockbuster’ (sales lebih dari $ billions) sudah 
dapat menutupi keuntungan untuk semua obat yang dimiliki pabrik. 

Baru sejak akhir abad yang lalu dibuat undang-undang di Amerika Serikat yang 
disebut Pediatric Exclusivity Right untuk ‘anjuran’ pabrik obat melakukan uji 
klinik pada anak dengan ‘upah eksklusif’ memperoleh waktu hak paten tambahan 
sepanjang ~ ½ tahun. Setelah peraturan ini sekitar 500 obat telah dilakukan uji 
klinik baru/tambahan (terutama di Canada dan AS) untuk anak, walaupun hanya 
diperlukan 1-2 uji klinik saja. Ini jelas tidak memenuhi kebutuhan uji klinik 
untuk evaluasi obat yang baik. Semua ini membutuhkan pekerjaan di bidang 
Pediatric Clinical Pharmacology yang pertama berkembang terbaik di Canada di 
tahun 2000-an dan sebelumnya. 

Di Asia dan Indonesia penelitian uji klinik untuk anak perlu sekali dimajukan, 
karena banyak obat tidak jelas kegunaannya dan besar dosisnya. Penentuan dosis 
obat-jadi (dewasa dan anak) dilakukan oleh industri yang menyontek dari dosis 
anak di negara penemu obat, yang juga ditentukan tanpa penelitian. Ini 
menyebabkan kita tidak pernah bisa menakar dosis pada anak dengan benar. 
Misalnya saja, dosis untuk obat dasar yang banyak dipakai pasien anak, seperti 
parasetamol.efedrin, CTM, atau kodein jelas terlalu besar. Ini menyebabkan 
dokter yang sadar tentang overdose yang sebenarnya terjadi di seluruh dunia 
perlu membuat resep racikan yang lebih sesuai. Bila anak diberi parasetamol dan 
kemudian berkeringat banyak, ini mungkin tandanya dosis terlalu besar, namun 
tidak semua kasus overdose bisa memiliki tanda seperti ini. 

Di negara maju, obat untuk anak hanya sedikit digunakan karena anak sebenarnya 
merupakan mahluk yang jarang sakit, terutama bila diberi air susu ibu cukup 
karena mengandung bahan2 imunitas tubuh secara alamiah. Walaupun demikian 
pertumbuhan anak dihadang oleh berbagai penyakit yang belum dimiliki daya 
imunitasnya, terutama virus. Namun penyakit virus seperti ini sebagian besar 
tidak berbahaya karena sembuh sendiri, dan anak yang sehat segera akan membuat 
zat anti (imunitas) yang tangguh. Jadi mengisolasi anak di rumah saja tidaklah 
bijak, sebaliknya membawa anak bermain di mall menimbulkan pemaparan terhadap 
banyak jenis virus sekaligus. Sekolahpun menimbulkan pemaparan yang sangat 
intens karena hubungan dengan teman2 baru – yang sering menularkan virus lewat 
jalan pernapasan yang biasa merupakan penyakit anak seperti cacar air, 
gondongan, measles, flu, dsb. Setelah periode pertumbuhan di sekolah SD maka 
anak menjadi lebih tahan terhadap penyakit
 virus. Pemaparan terhadap berbagai virus merupakan ‘pembelajaran’ sistem imun 
tubuh anak yang tidak bisa dihindarkan dan harus terjadi dalam proses tumbuh 
kembang anak.

Dari data National Center for Health Statistics di AS (JAMA 1998) diperoleh 
bahwa AB ialah obat yang paling sering dipakai untuk anak, yaitu 75% dari semua 
kunjungan klinik (outpatient visits). Di Canada angka ini juga sebesar 74%. AB 
ini dipakai untuk 5 penyakit utama yaitu: otitis media, sinusitis, bronchitis, 
pharyngitis, dan infeksi asluran napas atas non- spesifik (virus). Data ini 
telah diperoleh sebelum 1998, karena semua penyakit di atas sekarang telah 
dibuktikan dalam banyak uji klinik di banyak negara bahwa AB sama hasilnya 
dengan plasebo, alias tidak efektif. Juga di negara Barat sekarang pemakaian AB 
untuk ke-lima penyakit virus anak itu tidak dipakai lagi karena evidence-nya 
sangat kuat. Namun, diperlukan obat2 simtomatik (mengurangkan gejala seperti 
pilek dan batuk, atau demam) untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangkan 
penderitaan, sambil istirahat. 

Di Indonesia peresepan AB untuk penyakit2 virus masih marak (mungkin ~ 90%), 
menimbulkan terhambatnya pembentukan imunitas anak, (justru) memperpanjang 
lamanya penyakit, membunuh kuman yang baik dalam tubuh (karena memang tidak ada 
kuman yang jahat), efek samping AB bertambah banyak, menimbulkan resistensi 
kuman terhadap AB yang merugikan seluruh masyarakat dan diri sendiri, 
kemungkinan komplikasi lebih besar, dan kembalinya anak ke dokter lebih sering 
karena terulang penyakitnya, serta menghabiskan biaya secara mubazir. Penyakit 
virus tidak perlu diobati AB bila ditemukan tanpa komplikasi. Antibiotik, 
misalnya amoksisilin juga tidak tepat untuk dipakai rutin sebagai obat pencegah 
komplikasi karena komplikasi sangat jarang (mungkin ~ 2 - 3 %) terjadi dan bila 
terjadi-pun antibiotiknya harus yang terpilih khas dan khusus efektif untuk 
kuman yang akan menghinggapi, dan ini tidak bisa diramalkan. Sebagai 
kesimpulan, antibiotik untuk gondongan, measles, atau
 cacar air dan 5 jenis penyakit virus yang disebut di atas sebaiknya tidak 
dipakai lagi secara rutin oleh dokter kita dan masyarakat supaya tidak justru 
menagih pada dokter yang akan mengobatinya.

Dr Iwan Darmansjah
Mantan Ketua Panitia Evaluasi Obat, Departemen Kesehatan 


--- On Wed, 3/18/09, Rosi Januari <[email protected]> wrote:


From: Rosi Januari <[email protected]>
Subject: [Ayahbunda-Online] Ask Antibiotik donk
To: [email protected]
Date: Wednesday, March 18, 2009, 11:19 PM


 
















      

Kirim email ke