Saya setuju dengan pendapat mb Yusri, usia TK adalah usia bermain, sekalipun 
kita mengajarkan calistung, harus sambil bermain dan tanpa paksaan.
berikut saya copy pendapat "Djoko Subinarto"

Was, rusni mamanya Aufar & Gina
http://www.takaful99.blogspot.com

""Pendidikan Usia Dini 
Taman Kekerasan Anak-anak

Kamis, 16 April 2009 | 
14:04 WIB 

Oleh Djoko Subinarto
Taman kanak-kanak pada dasarnya merupakan program pendidikan 
prasekolah bagi anak usia 4-5 tahun. Di Indonesia TK lazimnya dibagi dalam dua 
kelas. Ada 
kelas nol kecil dan nol besar. Kelas nol kecil diperuntukkan bagi anak usia 4 
tahunan, sedangkan nol besar bagi anak usia 5 tahunan.
Pendidikan tingkat TK sama sekali bukan persyaratan masuk SD. 
Hal ini tertuang dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 yang 
menyebutkan bahwa pendidikan prasekolah bukan merupakan persyaratan memasuki 
pendidikan dasar.
Jadi, tidak wajib hukumnya orangtua memasukkan anak ke TK 
sebelum sang anak bersekolah di SD. Ironisnya, yang terjadi di masyarakat kita, 
ada sementara SD yang menolak anak bersekolah di SD tersebut hanya gara-gara 
sang anak tidak masuk TK terlebih dahulu.
Jerman
Di negara-negara Barat, TK disebut kindergarten. Istilah ini 
berasal dari dua kata bahasa Jerman, yaitu kinder, bentuk jamak dari kind yang 
berarti anak-anak, dan garten yang berarti kebun atau taman. Sejarah mencatat, 
TK pertama kali didirikan di bumi Jerman. TK ini didirikan seorang pria bernama 
Freidrich Froebel tahun 1837. Ide yang mendasari Froebel mendirikan TK adalah 
bahwa anak-anak perlu mempunyai tempat dan waktu khusus untuk bermain sembari 
belajar banyak hal. Atas ide dan jasanya dalam mendirikan TK pertama inilah 
Froebel kemudian dijuluki sebagai "The Father of Kindergarten. "
Idealnya program pendidikan TK diarahkan untuk mendukung 
pengembangan aspek fisik, sosial, emosional, spiritual, moral, dan intelektual 
anak berusia 4-5 tahun. Dengan demikian, program yang dirancang harus 
benar-benar memerhatikan tingkat usia tersebut.
Idealnya pula program pendidikan TK dapat menjadi fondasi bagi 
proses pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya, yaitu SD. Untuk itu, 
pendidikan di tingkat TK antara lain harus menciptakan kesenangan dalam 
belajar; 
membantu anak lebih mampu memecahkan masalah; serta membantu anak agar mampu 
mengamati, mendengar, berbicara, dan berpikir sesuai dengan tingkat usianya. TK 
juga harus membatu anak meningkatkan kemandiriannya melalui eksplorasi, tanya 
jawab, dan pemahaman serta menjadi fasilitator bagi perkembangan sejumlah 
keterampilan.
Menurut kajian yang dilakukan The National Association for the 
Education of Young Children Amerika Serikat, kurikulum yang baik bagi 
pendidikan 
di jenjang TK harus mencangkup beberapa hal. Pertama, penyediaan berbagai 
peluang bagi anak untuk bermain sambil belajar dengan mengamati dan mengalami 
langsung berbagai hal nyata. Kedua, keseimbangan antara kegiatan yang berasal 
dari para guru dan anak-anak. Ketiga, berbagai aktivitas kelompok di mana aspek 
kerja sama dapat berlangsung secara alamiah.
Keempat, serangkaian aktivitas bermain yang membutuhkan 
penggunaan otot-otot kecil. Kelima, wahana bagi anak sehingga anak memperoleh 
kesempatan mengenal literatur dan musik dalam lingkup budayanya sendiri serta 
budaya lain.
Keenam, kesempatan bagi anak dari berbagai latar belakang dan 
tingkat perkembangan yang berbeda untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. 
Ketujuh, waktu bagi individu atau kelompok anak untuk bertemu dengan guru guna 
mendapatkan bantuan dalam penguasaan sejumlah kemampuan dasar anak.
Sumber perkembangan
Para pakar pendidikan anak sepakat, sumber perkembangan penting 
bagi anak usia dini adalah bermain. Catron dan Allen dalam karyanya, Early 
Childhood Curriculum, misalnya, menyebutkan bahwa perkembangan anak secara 
optimal dapat dilakukan lewat bermain.
Aktivitas bermain tidak hanya melibatkan barang-barang atau 
mainan, tetapi juga kata-kata dan gagasan yang memicu perkembangan berpikir. 
Karena itu, aktivitas bermain dapat meningkatkan keterampilan memecahkan 
masalah, berpikir kritis, serta membangun gagasan kreatif. Selain itu, lewat 
bermain perkembangan sosial dan emosional anak juga dapat meningkat.
Sebuah TK didirikan harus dengan tujuan utama sebagai tempat 
bermain anak. Anak harus lebih banyak bermain ketika masuk dan berada dalam 
lingkungan TK. TK harus bisa memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan 
dunia mereka sesungguhnya, yaitu bermain.
Namun, menurut Joan Moyer dari The International Childhood 
Education Center, pada kenyataannya, karena penekanan yang lebih condong pada 
pencapaian akademik, banyak TK dewasa ini malah mengesampingkan aspek bermain 
dan lebih terfokus pada aspek akademik, seperti pelajaran membaca, menulis, dan 
berhitung.
Sejumlah pegiat hak-hak anak berpendapat, pemberian pelajaran 
membaca, menulis, dan berhitung di tingkat TK merupakan bentuk kekerasan 
terhadap mental anak dengan mengatasnamakan pendidikan. Dalam konteks ini TK 
yang seharusnya menjadi taman bermain anak-anak sesungguhnya telah berubah 
menjadi taman kekerasan anak-anak..
Menurut sebagian pakar perkembangan anak, pada rentang usia 4-5 
tahun sebaiknya anak tidak diberi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung. 
Mengapa? Sebab, hal ini akan menghambat kesempatan anak untuk mengembangkan 
kecerdasan emosi dan sosial yang seharusnya bisa berkembang pesat dan optimal 
pada rentang usia tersebut. Berbagai kajian membuktikan, anak-anak yang 
mengalami hambatan perkembangan kecerdasan emosi dan sosial cenderung rentan 
depresi dan terlibat dalam kenakalan remaja tatkala usia anak semakin 
bertambah.
Nah, apakah Anda sebagai orangtua rela memiliki anak yang rentan 
depresi dan nakal? Pilihan sepenuhnya ada di tangan Anda.
DJOKO SUBINARTO Alumnus Universitas Padjadjaran Bandung; 
Pengarang Buku 1001 tentang Sekolah: Panduan Orangtua Memilih Tempat Belajar 
yang Tepat 
diambil dari kompas.com edisi cetak area jawa 
barat""

--- On Thu, 4/16/09, - Yusri - <[email protected]> wrote:

From: - Yusri - <[email protected]>
Subject: Re: [Ayahbunda-Online] mohon info
To: [email protected]
Date: Thursday, April 16, 2009, 8:18 AM











    
            
            


      
      
     

Waduh, mom....
Santai aja....
Anak usia 3,5thn belum wktnya utk diajarkan calistung. 
Nnt ibu stres...malah akan nular sm anaknya..... .kan kasihan.....
Usia 3,5thn ada lah usia anak2 utk bermain. Berikan hak dia sepenuhnya dlm 
mengeksplor keingintahuannya.
Latih dia motorik kasar dan motorik halusnya.... .
Sehingga jika sudah saatnya nnt dia belajar calistung, tangan dan mentalnya 
sudah siap menerimanya. 
Tangannya sudah siap memegang pinsil dengan benar. Dan dia sudah mampu duduk 
diam manis diatas kursi tanpa paksaan.
Anak2 saya baru saya latih calistung saat duduk di TK B semester ke 2. Artinya 
sudah deket2 masuk SD.
Itu pun tidak boleh dgn paksaan lho.....

Ma'af jika kurang berkenan.

Regards,
YUSRI
email: yusr...@yahoo. co.id
YM: yusri_smpn1

Sent from my BlackBerry® wireless deviceFrom:  "lenny" 
Date: Wed, 15 Apr 2009 16:45:44 -0000
To: <Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com>
Subject: [Ayahbunda-Online] mohon info
                           
 Dear all 

 Hi kenalin sy leny, moms of zaky 3,5thn and 3afy 5months.. Mohon info dong gmn 
caranya biar anak bs cpt bs baca?
 Stress jg ni

                                           
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke