Belajar = Bermain dan Bermain = Belajar
Sekolah bagi Edi tak ubahnya penjara. Ketika masih di TK, Edi tak pernah mau
berangkat sekolah. Baginya, sekolah hanya menghalangi keasyikannya bermain.
Akibatnya, Edi tak bisa membaca dan menulis serta selalau ‘fobia’ pada hal-hal
yang berbau sekolah. Orangtua Edi dibuat resah oleh tingkah laku sang anak
yang dianggap nyeleneh dari kebiasaan umum anak-anak seusianya. Apakah hal ini
merupakan indikator bahwa Edi adalah anak yang malas? Ataukah justru jenis
pembelajaran di sekolah yang menghalangi tumbuh kembangnya kecerdasan Edi?
Pertanyaan mulai terjawab ketika Edi memasuki tingkat sekolah dasar. Pada
masa-masa awal bersekolah, Edi masih bermalas-malasan dan tidak semangat dalam
mengikuti pelajaran. Untungnya guru-guru di SD tersebut mampu mengenali
potensi kecerdasan Edi, yaitu kinestetis (gerak) dan spasial visual (ruang).
Metode pembelajaran klasikal-ortodoks yang mewajibkan anak didik duduk manis
dan diam di sebuah ruang berukuran 5 x 15 m selama enam jam atau bahkan lebih
tentulah sangat membosankan bagi seorang Edi yang sangat menyukai gerak dan
ruang luas. Setelah menyadari jenis kecerdasan yang dimiliki Edi, para guru
memberikan aktivitas yang membuat Edi senang dan tertarik mengikutinya seperti
aktivitas learning by sport dan learning by painting.
Saat belajar bahasa Indonesia, Edi tidak lagi duduk di kelas dan mendengarkan
guru ‘berceramah’. Edi bersama teman-teman dan guru bahasa Indonesianya keluar
dari kelas dan berkeliling sekolah, mulai dari lapangan, tempat parkir, bahkan
sesekali ke luar sekolah. Saat berkeliling itulah, guru mempersilakan Edi dan
teman-temannya untuk secara bergantian menceritakan apa saja yang menurutnya
menarik untuk diceritakan. Guru juga bercerita dan menjelaskan berbagai benda
yang ditemui di jalan. Setelah itu barulah para siswa kembali ke kelas untuk
menceritakan perjalanan yang baru saja dilakukan.
Alhasil, Edi mulai enjoy dengan sekolah karena kegiatan belajar dikemas
sedemikian rupa sehingga Edi merasakan bahwa belajar adalah bermain dan bermain
adalah belajar. Kini, sekolah adalah tempat bermain paling mengasyikkan bagi
Edi dan murid-murid lain yang memiliki tipe kecerdasan yang sama dengan Edi.
Bahkan, saking asyiknya dengan sekolah, pada saat sakit pun Edi masih ingin
masuk sekolah untuk belajar. Luar biasa!
---
Kisah dari Sekolahnya Manusia, Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di
Indonesia (penulis: Munif Chatib), adalah sebuah contoh tentang keberhasilan
dari pembelajaran sistem multiple intelligences.
Menyambut Hari Pendidikan Nasional, Mizan dan Munif Chatib mengundang Anda
menghadiri Peluncuran Buku:
Sekolah Manusia, Sekolah yang Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia.
Acara diselenggarakan pada:
Hari dan Tanggal: Jumat, 1 Mei 2009
Waktu: 16.00- 18.00 Wib.
Tempat: MP Book Point, Jl. Puri Mutiara Raya 72, Cipete, Jakarta Selatan.
Pembicara:
Munif Chatib, CEO NEXT WORLDVIEW, Konsultan Pendidikan dan Majemenen,
Direktur Sekolah YIMI Full Day School
Haidar Bagir (Ketua Yayasan Sekolah Lazuardi GIS)
DR. Seto Mulyadi (Praktisi Homeschooling)
Promosi Mizan
Jl. Cinambo 135 Bandung 40294
022 7834310
Warnai pesan status dengan Emoticon. Sekarang bisa dengan Yahoo!
Messenger baru http://id.messenger.yahoo.com