Bu Dessi, Ini saya Co-Pas dari: http://kris16.multiply.com/journal/item/30/Tedak_Siten_yang_Terlupakan
Isinya ini dibawah ini, mudah2an bisa membantu. 'Tedak Siten' merupakan wujud pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar si anak kelak siap dan sukses menampaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya, 'Tedak Siten' dapat juga diartikan wujud penghormatan terhadap tanah air ini yang telah memberikan banyak hal dalam hidup manusia di bumi ini. 'Tedak Siten' berasal dari 2 kata yaitu Tedak yang berarti menapakkan kaku dan Siten yang berasal dari kata siti berarti tanah, jadi dapat diartikan 'Tedak Siten' adalah turun tanah atau orang jawa yang lainnya mengatakan 'mudon lemah'. dalam hal yaitu bayi yang telah berusai 7 lapan atau 7 x 35 hari, pada usia ini anak mulai menapakkan kakinya pertama kali di tanah yaitu dengan belajar duduk dan belajar berjalan. Adapun perlengkapan untuk ritual ini meliputi. Jadah (tetel) tujuh warna, jadah merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam agar rasanya gurih, warna jadah 7 rupa itu yaitu warna merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga dan ungu. Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui oleh si anak, mulai dia menapakkan kakinya pertama kali di bumi ini sampai dia dewasa, sedangkan warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak akan menghapai banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya. jadah 7 warna disusun mulai dari warna yang gelap ke terang, hal ini menggambarkan bahwa masalah yang dihadapi si anak mulai dari yang berat sampai yang ringan, maksudnya seberat apapun masalahnya pasti ada titik terangnya yang disitu terdapat penyelesaiannya. Tumpeng dengan perlengkapannya, tumpeng merupakan nasi yang dibentuk seperti kerucut yang disajikan dengan urap sayur (hidangan yang terbuat dari sayur kacang panjang, kangkung dan kecampah yang diberi bumbu kelapa yang telah dikukus atau disangrai) dan ingkung ayam. Tumpeng melambangkan permohan orang tua kepada sang Maha Pencipta aga si anak kelak menjadi anak yang berguna, sayur kacang panjang bermakna simbol umur agar si anak berumur panjang, sayur kangkung bermakna dimanapun si anak hidup dia mampu tumbuh dan berkembang, sayur kecambah merupakan simbol kesuburan dan ayam mengartikan kelak si anak dapat hidup mandiri. Kurungan ayam yang dihiasi janur dan kertas warna-warni, kurungan ayam ini isinya bukan ayam tapi anak manusia. kurungan ayam yang dihiasi mempunyai makna di dunia nyata si anak akan di hadapkan dengan berbagai macam pilihan pekerjaan. Tangga yang terbuat dari tebu jenis arjuna, menyiratkan harapan agar si anak mampu berjuang layaknya Arjuna yang terkenal dengan tanggung jawabnya dan sifat perjuangannya. Dalam adat Jawa tebu kependekan dari antebing kalbu yang bermakna agar si anak dalam menjalni kehidupan ini dengan tejad yang kuat dan hati yang mantap. Prosesi 'Tedak Siten' di awali dengan membimbing anak menapaki jadah 7 warna yang telah disusun berdasarkan warn gelap ke terang. kemudian si anak diarahkan untuk menaiki tangga yang terbuat dari tebu arjuna, selanjutnya si anak di masukkan kedalam kurungan ayam yang telah dihiasi dan didalamnya terdapat cincin, alat tulis, kapas dan lain sebagainya, mungkin tergantung dengan perkembangan zaman kalau zaman sekarang ini bisa di masukkan barang-barang IT (HP,notenbook,PDA atau lainnya). kemudian si anak di suruh mengambi salah satu dari barang tersebut, barang yang dipilih si anak merupakan gambaran dari kegemaran dan juga pekerjaan yang diminatinya kelak setelah dewasa. Prosesi selanjutnya yaitu sebar beras kuning yang telah dicampur dengan uang logam untuk di perebutkan, prosesi ini menggambarkan agar si abak kelak menjadi anak yang dermawan dalam lingkungannya. Prosesi terakhir yaitu si anak dimandikan dengan bunga setaman lalu mengenakan mengenakan baju yang baru. tujuannya yaitu agar si anak tetap sehat, membawa nama harum bagi keluarga, punya kehidupan yang layak, makmur dan berguna bagi lingkungannya. Dalam acara 'tedak siten' sesaji yang biasa digunakan antara lain kembang boreh, bubur baro-baro, macam-maca bumbu dapur dan kinangan (bahan menginang). bubur baro-baro adalah bubur yang terbuat dari bekatul, sesaji ini ditujukan untuk kakek nini among (plasenta/ari-ari). sedangkan kembang boreh, macam-macam bumbu dapur dan kinangan, sesaji ini ditujukan untuk nenek moyang. Selain sesaji juga ada pelengkap pedukung yaitu bubur merah, bubur putih bubur merah putih (sengkolo) yang melambangkan darah (=bubur merah) dan air mani (=bubur putih), kemudian ada juga jajanan pasar (jongkong,centil,grontol jagung,lopis,gatot dan tiwul) yang melambangkan dalam berkehidupan kita akan banyak berinteraksi dengan banyak orang dengan berbagai macam karakter sehingga si anak dapat mudah bersosialisasi dengan masyarakatnya. kamudian juga terdapat aneka pala pandem (aneka umbi-umbian) yang mempunyai makna agar si anak mempunyai sifat adap asor atau tidak sombong. Benar atau tidaknya sebuah ritual ini atau budaya ini kita tidak tahu. Budaya ini tidak harus kita percayai tetapi tidak boleh kita hilangkan begitu saja karena budaya ini merupakan ciri negeri kita. cukup kita pahami sebagai kekayaan cakrawala kebudayaan negara indonesia dan kita sebagai generasi muda tidak serta merta meniru budaya-budaya asing yang sebenarnya telah bertentangan dengan adat ketimuran. From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Dessi Dessi Sent: Monday, May 04, 2009 11:52 AM To: [email protected] Subject: [Ayahbunda-Online] Mungkin ada yang tau ttg acara tedhak siten? Moms & Dads, Ada yang tau ttg acara tedhak siten gak yah??? Mungkin ada yg mo kasi info ttg apa aja yg hrs ada dan hantarannya apa aja ya? Soalnya aku mo ngadaain acara tedhak siten ini tapi yg sederhana..yah kyk syukuran aja...yg dkt soadar2 deket aja... Makasih... Dessi
