Gizi Seimbang Bagi Tumbuh Kembang Anak Yang Optimal WHO merekomendasikan konsumsi lemak sedikitnya 30% dari total energi dalam sehari bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik anak* Asupan nutrisi yang tepat sangat diperlukan untuk tumbuh kembang anak yang optimal. Setiap hari anak membutuhkan gizi seimbang yang terdiri dari asupan karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Asupan kandungan nutrisi tersebut dapat diperoleh dari variasi makanan yang dikonsumsi. Konsumsi lemak hingga 30% dari total energi dalam sehari diperlukan juga untuk menyerap vitamin-vitamin penting seperti A, D, E dan K secara maksimal. Dr. Fiastuti Witjaksono MS, SpGK menyampaikan pada acara bincang-bincang hari ini, ”Masalah gizi anak sebaiknya mendapatkan perhatian khusus melihat masih sering munculnya kesalah pahaman orangtua terhadap hal ini. Ada tiga masalah gizi, yaitu: kurang gizi, kelebihan gizi dan salah gizi yang memiliki indikasi dan akibat yang berbeda-beda. Untuk menghindarinya, maka komposisi seimbang antara karbohidrat (45%-65%), protein (10%-25%, lemak (sedkitinya 30%) dan berbagai macam vitamin lain mutlak harus diberikan kepada anak yang pada akhirnya dapat membantu untuk mengoptimalkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kepandaian dan kematangan sosial.” Dr. Fiastuti melanjutkan bahwa perencanaan makan yang cerdas oleh orangtua diperlukan juga demi terciptanya pola makan yang sehat, terkontrol dan menyenangkan. Kuncinya adalah 3J: Jumlah kalori sesuai kebutuhan, Jadwal makan yang teratur dan Jenis makanan dengan komposisi karbohidrat, protein dan lemak seimbang, disamping nutrien spesifik yang terpenuhi. Beliau juga menambahkan bahwa orangtua tidak perlu takut memberikan asupan lemak kepada anak selama masih pada porsi yang dianjurkan. Lalu, timbul pertanyaan tentang kiat-kiat mengontrol asupan anak bilamana mereka berada di luar rumah atau di sekolah. Dalam mengatasi hal ini ada imbauan untuk memberikan bekal yang sehat dengan nutrisi seimbang untuk membantu orangtua mengawasi jenis *Berdasarkan data dari http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2003/pr32/en/ makanan yang dikonsumsi anak. Dengan bekal, anak tidak perlu jajan sembarangan, sehingga orang tua tidak perlu khawatir akan pemenuhan kebutuhan nutrisi seimbang anak juga serta kebersihannya. Daripada memberikan uang jajan kepada anak, orangtua dapat memberikan penggantinya dalam bentuk bekal, sebab jajanan belum tentu terjamin nutrisi dan kebersihannya, khususnya jajanan di luar sekolah. Hal ini patut menjadi perhatian orangtua dengan adanya fakta yang mencengangkan dari hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan pada 4.500 sekolah di Indonesia selama 2007 yang membuktikan bahwa 45 persen jajanan anak tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia. Bahaya utama berasal dari cemaran fisik, mikrobiologi, dan kimia seperti pewarna tekstil. Jenis jajanan berbahaya ini meliputi makanan utama, makanan ringan, dan minuman.** Seorang pakar tumbuh kembang lain, Dra. Mayke Tedjasaputra mengatakan, ”Kebiasaan jajan harus dimulai dari pola makan keluarga dan salah satu cara adalah membuat ’kudapan tandingan’ yang tak kalah enak dari jajanan yang dapat dibeli di luar. Sebagai upaya preventif, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat dan orangtua harus dapat dijadikan contoh atau panutan. Disamping itu, sebagai upaya kuratif, orangtua harus dapat menata kegiatan makan, membuat penganan bersama dengan anak, dan memperkenalkan anak pada berbagai jenis makanan.” Sebagai kesimpulan, Dr. Fiastuti Witjaksono MS, SpGK dan Dra. Mayke Tedjasaputra memberikan solusi bahwa untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan menghindari penyakit-penyakit yang tidak diinginkan, orangtua sebaiknya membuat variasi bekal yang menarik dan inspirasional dalam bentuk, penataan dan rasa. Bekal yang praktis dan mudah dibawa akan membuat anak tertarik dan pada akhirnya memakan bekal tersebut. Dengan ini, para orang tua dapat memastikan bahwa anak mereka telah mengonsumsi asupan gizi sesuai dengan jumlah yang disarankan. **Dikutip dari uraian Dedi Fardiaz, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya (BPOM) pada acara peluncuran Kerja Sama BPOM dengan Australian Government Analytical Laboratory mengenai “Penerapan Sistem Keamanan Terpadu”
