Dear ayahbunda,

Semoga bermanfaat.

Regards,

Lisa
------Original Message------
From: Femina Devi
Sender: [email protected]
To: [email protected]
ReplyTo: [email protected]
Subject: [siawares] Fw: [iatss-alumni] Jejak Sepatu di Karpet
Sent: Sep 9, 2009 09:19

  Rekan-rekan yb,   Dari milis tetangga. Semoga bermanfaat.   cheers, Devi > 
Jejak Sepatu di Karpet  >   > Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak 
laki-laki. Urusan > belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat 
ditanganinya > dengan baik. Rumah tampak selalu rapih dan bersih dan > teratur, 
suami serta anak2nya sangat menghargai pengabdiannya itu. > > Cuma ada satu 
masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak > suka kalau karpet di rumahnya 
kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan  hanya gara-gara melihat jejak 
sepatu di atas karpet, dan suasana  tidak enak akan  berlangsung seharian. 
Padahal, dengan 4 anak laki-laki di  rumah, hal ini  mudah sekali terjadi dan 
menyiksanya. > > Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog > 
bernama Virginia  Satir dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan > 
cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & > berkata 
kepada sang ibu: 'Ibu harap tutup mata ibu dan >  bayangkan apa yang akan saya 
katakan' Ibu  itu kemudian menutup matanya. > > 'Bayangkan rumah ibu yang rapih 
dan karpet ibu yang  bersih mengembang, tak  ternoda, tanpa kotoran, tanpa 
jejak sepatu, bagaimana  perasaan ibu?' > Sambil tetap menutup mata, senyum ibu 
itu merekah, mukanya > yg murung  berubah cerah. Ia tampak senang dengan 
bayangan yang > dilihatnya. > > Virginia Satir melanjutkan; 'Itu artinya tidak 
ada  seorangpun di rumah > ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar 
gurau  canda dan tawa > ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa 
orang-orang yang ibu > kasihi'. Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya  
langsung > menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya  terguncang. 
Pikirannya > langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada  suami 
dan > anak-anaknya. > > 'Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat 
jejak sepatu & kotoran > disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, 
>  orang-orang yang ibu  cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka 
menghangatkan  hati ibu'. Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman 
dengan visualisasi tsb. > > 'Sekarang bukalah mata ibu' Ibu itu membuka matanya 
> 'Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?' Ibu itu > 
tersenyum dan menggelengkan kepalanya. 'Aku tahu maksud anda' > ujar sang ibu, 
'Jika kita  melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak  negatif 
dapat  dilihat secara positif'. > > Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi 
mengeluh soal > karpetnya yang  kotor, karena setiap meli hat jejak sepatu 
disana, ia tahu, > keluarga yg  dikasihinya ada di rumah. > > Kisah di atas 
adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah  seorang psikolog > terkenal yang 
mengilhami Richard Binder & John Adler  untuk menciptakan NLP  (Neurolinguistic 
Programming) . Teknik yang dipakainya di atas disebut > Reframing, yaitu 
bagaimana kita 'membingkai ulang'  sudut pandang kita > sehingga sesuatu yg 
tadinya negatif dapat menjadi positif, > salah satu  caranya dengan mengubah 
sudut pandangnya. > > Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang : > > 
Saya BERSYUKUR; > > 1. Untuk > istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan 
mie  instan, karena itu > artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain. > > 2. 
Untuk > suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena > itu artinya 
ia  berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat  mesum. > > 3. Untuk 
> anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena > itu artinya mereka 
di rumah dan tidak jadi anak jalanan > > 4. Untuk > Tagihan Pajak yang cukup 
besar, karena itu artinya saya > bekerja dan  digaji tinggi > > 5. Untuk > 
sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, > karena itu artinya 
keluarga kami dikelilingi banyak teman > > 6. Untuk > pakaian yang mulai 
kesempitan, karena itu artinya saya  cukup makan > > 7. Untuk rasa > lelah, 
capai dan penat di penghujung hari, karena itu > artinya saya masih  mampu 
bekerja keras > > 8. Untuk > semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, 
karena > itu artinya masih  ada kebebasan berpendapat > > 9. Untuk > bunyi 
alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena > itu artinya saya masih 
bisa terbangun, masih hidup > > 10. Untuk setiap > permasalahan hidup yang saya 
hadapi, karena itu artinya > Tuhan sedang  membentuk dan menempa saya untuk 
menjadi lebih baik lagi  >    >   > ____________ _________ _________ _________ 
_________ _________ _________ ______  
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

------------------------------------

Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]

Info Belanja si Kecil: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke