Thank you for sharing this story...It's a good lesson for us.

2009/9/17 Stefany F <[email protected]>

>
>
>
>
> --- Pada *Rab, 16/9/09, QA Tangerang <[email protected]>* menulis:
>
>
> Dari: QA Tangerang <[email protected]>
> Judul: Fwd: [Guyon-Yook] Fw: (Diambil dari Kisah Nyata)
> Kepada: "[email protected]" <[email protected]>, "
> [email protected]" <[email protected]>, "[email protected]" <
> [email protected]>, "anaestupu...@ymail" <[email protected]>
> Tanggal: Rabu, 16 September, 2009, 3:06 AM
>
>
>
> ------- Forwarded message -------
> From: 
> [email protected]<http://id.mc762.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> To:
> Cc:
> Subject: [Guyon-Yook] Fw: (Diambil dari Kisah Nyata)
> Date: Mon, 23 Feb 2009 11:55:09 +0700
>
> ----- Forwarded by on 02/23/2009 11:50 AM -----
>
>
>
> (Diambil dari Kisah Nyata)
> MENJUAL KEPERAWANAN
>
>
> Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang
> petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan
> pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah
> wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di
> pojok.
>
> Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus
> dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya
> tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada
> yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah
> seseorang yang sedang ditunggunya.
>
> Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita
> nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu
> dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah
> beranjak dewasa.
>
> Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati
> meja wanita itu dan bertanya:
>
> '' Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang?
> '' Tidak! '' Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
>
> '' Lantas untuk apa anda duduk disini?
> '' Apakah tidak boleh? '' Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas
> satpam.
>
> '' Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang
> ingin menikmati layanan kami.''
> '' Maksud, bapak?
>
> '' Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ''
> '' Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang.
> Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk disini untuk sesuatu yang akan saya
> jual '' Kata wanita itu dengan suara lambat.
>
> '' Jual? Apakah anda menjual sesuatu disini? ''
>
> Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang
> akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa
> brosur.
>
> '' Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk
> berjualan. Mohon mengerti. ''
> '' Saya ingin menjual diri saya, '' Kata wanita itu dengan tegas sambil
> menatap dalam dalam kearah petugas satpam itu.
>
> Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
> '' Mari ikut saya, '' Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan
> tangannya.
>
> Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum
> diwajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti
> petugas satpam itu.
>
> Di koridor hotel itu terdapat korsi yang hanya untuk satu orang. Di
> sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung
> yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal
> berlangsung.
>
> '' Apakah anda serius? ''
> '' Saya serius '' Jawab wanita itu tegas.
> '' Berapa tarif yang anda minta? ''
> '' Setinggi tingginya..' '
>
> '' Mengapa? Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
> '' Saya masih perawan ''
>
> '' Perawan? '' Sekarang petugas satpam itu benar benar terperanjat. Tapi
> wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari
> ini.. Pikirnya
>
> '' Bagaimana saya tahu anda masih perawan?''
> '' Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana
> bukan. Ya kan...''
>
> '' Kalau tidak terbukti?
> '' Tidak usah bayar ...''
>
> '' Baiklah ...'' Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke
> kiri dan ke kanan.
> '' Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan
> anda. ''
> '' Cobalah. ''
>
> '' Berapa tarif yang diminta? ''
> '' Setinggi tingginya. ''
> '' Berapa? ''
> '' Setinggi tingginya. Saya tidak tahu berapa? ''
>
> '' Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya.
> ''
>
> Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
>
> Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah
> cerah.
>
> '' Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?
> ''
> '' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''
> '' Ini termasuk yang tertinggi, '' Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
> '' Saya ingin yang lebih tinggi...''
> '' Baiklah. Tunggu disini ...'' Petugas satpam itu berlalu.
>
> Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
>
>
> '' Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ''
>
>
> '' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''
>
> '' Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda
> diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai
> perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa
> apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan
> hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan
> semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat
> baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini
> dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama sama butuh ... ''
>
> '' Saya ingin tawaran tertinggi ... '' Jawab wanita itu, tanpa peduli
> dengan celoteh petugas satpam itu.
>
> Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
>
> '' Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya.
> Tapi sebaiknya anda ikut saya.
> Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
> Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. '' Kata petugas
> satpam itu dengan agak kesal.
>
> Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti
> langkah petugas satpam itu memasuki lift.
>
> Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak
> berumur tersenyum menatap mereka berdua.
>
> '' Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas satpam
> itu dengan sopan.
>
> Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama kesekujur tubuh wanita itu
> ...
>
> '' Berapa? '' Tanya pria itu kepada Wanita itu.
> '' Setinggi tingginya '' Jawab wanita itu dengan tegas.
> '' Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? '' Kata pria itu
> kepada sang petugas satpam.
> '' Rp. 6 juta, tuan ''
> '' Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ''
>
> Wanita itu terdiam.
>
> Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban
> bagus dari wanita itu.
>
> '' Bagaimana? '' tanya pria itu.
> ''Saya ingin lebih tinggi lagi ...'' Kata wanita itu.
>
> Petugas satpam itu tersenyum kecut.
>
> '' Bawa pergi wanita ini. '' Kata pria itu kepada petugas satpam sambil
> menutup pintu kamar dengan keras.
>
> '' Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin
> menjual? ''
> '' Tentu! ''
> '' Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu ... ''
> '' Saya minta yang lebih tinggi lagi ...''
>
> Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun
> tak ingin kesempatan ini hilang.
> Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
>
> '' Kalau begitu, kamu tunggu ditempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba
> mencari penawar yang lainnya. ''
>
> Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria
> yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya.
> Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh
> dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon
> genggamnya.
>
> '' Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Ripiah.
> Apakah itu tidak cukup? Terdengar suara pria itu berbicara.
> Wajah pria itu nampak masam seketika
>
> '' Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.
> Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ''
>
> Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan
> wanita.
> Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan diwajah
> pria itu.
>
> Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: '' Pak, apakah
> anda butuh wanita ... ??? ''
>
> Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan
> wajahnya.
>
> '' Ada wanita yang duduk disana, '' Petugas satpam itu menujuk kearah
> wanita tadi.
>
> Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini. ''
> Dia masih perawan..''
>
> Pria itu mendekati petugas satpam itu.
> Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. '' Benarkah itu? ''
> '' Benar, pak. ''
> '' Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu ... ''
> '' Dengan senang hati. Tapi, pak ...Wanita itu minta harga setinggi
> tingginya.''
> '' Saya tidak peduli ... '' Pria itu menjawab dengan tegas.
>
> Pria itu menyalami hangat wanita itu.
> '' Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang
> seriuslah ...'' Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
>
> '' Mari kita bicara dikamar saja.'' Kata pria itu sambil menyisipkan uang
> kepada petugas satpam itu.
>
> Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
>
> Di dalam kamar ...
>
> '' Beritahu berapa harga yang kamu minta? ''
> '' Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ''
> '' Maksud kamu? ''
> '' Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk
> kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterimakasih .... ''
> '' Hanya itu ...''
> '' Ya ...! ''
>
> Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual
> kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual
> penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah
> berani ditengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar,
> bahwa dihadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari
> kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah
> pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut
> melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas
> keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan
> dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
>
> '' Siapa nama kamu? ''
> '' Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar ... '' Kata
> wanita itu
> '' Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang
> pantas ditawar. ''
> ''Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ''
>
> '' Ada ! Kata pria itu seketika.
>
> '' Sebutkan! ''
>
> '' Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu.
> Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu kerumah
> sakit.
> Dan sekarang pulanglah ... '' Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari
> dalam tas kerjanya.
>
> '' Saya tidak mengerti ...''
>
> '' Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya.
> Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterimakasih.
> Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta.
> Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terimakasih dari seorang wanita yang
> gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya.
> Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar ...''
>
> '' Dan, apakah bapak ikhlas...? ''
> '' Apakah uang itu kurang? ''
> '' Lebih dari cukup, pak ... ''
>
> '' Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ''
> '' Silahkan ...''
>
> '' Mengapa kamu begitu beraninya ... ''
>
> '' Siapa bilang saya berani.
> Saya takut pak ...
> Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu
> saya kerumah sakit dan semuanya gagal.
> Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu
> bukanlah karena dorongan nafsu.
> Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` ...
> Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan ... ''
>
> '' Keyakinan apa? ''
>
> '' Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Allah lah
> yang akan menjaga kehormatan kita ... '' Wanita itu kemudian melangkah
> keluar kamar.
>
> Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
> '' Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini ... ''
>
> '' Kesadaran... ''
>
> --------------------------
> Bumi Laut Group, Indonesia
>
> --
> Internal Virus Database is out-of-date.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.9.0/366 - Release Date: 6/15/2006
>
> --
> Internal Virus Database is out-of-date.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.9.0/366 - Release Date: 6/15/2006
>
> --
> Internal Virus Database is out-of-date.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.9.0/366 - Release Date: 6/15/2006
>
> --
> Internal Virus Database is out-of-date.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.9.0/366 - Release Date: 6/15/2006
>
>
>
> --Using Opera's revolutionary e-mail client: http://www.opera.com/mail/
>
>
> ------------------------------
> Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang
> Lebih Cepat hari ini! <http://id.mail.yahoo.com>
> 
>

Kirim email ke