Heheheh makanya ada pernyataan bahwa "anak itu peniru ulung".
Jadi meski kaya'nya diam-diam gitu, tapi anak itu pandai memperhatikan 
sekelilingnya lho...
Meniru kan bagian dari proses belajar dan cara untuk memenuhi rasa 
keingintahuannya.
Makanya orang tua dulu selalu memperingati para calon ortu untuk bisa menjadi 
teladan yang baik bagi anak-anaknya. Mereka adalah cerminan orang tua 
sebagai orang-orang yang pertama kali dikenalnya.

Tapi bukan berarti kita gak boleh marah, gak boleh tegas, gak boleh melarang, 
gak boleh nangis, gak boleh bete, gak boleh sedih, gak boleh cemberut, dsb yang 
justru akan menghilangkan sisi manusiawi seseorang.
Ekspresi natural kita yang terkontrol justru akan menjadi guru terbaiknya.
Sehingga si anak tau bahwa hal "ini" akan menghasilkan reaksi "itu" bagi orang 
lain.
Kelakuan yang "begini" bisa membuat orang lain "begitu". 
Marah yang baik seperti ini, cara yang benar seperti itu, dsb.

Ini proses alami seorang anak untuk mengenal dan menjalani hidupnya lebih luas.
Disini diperlukan cara yang lebih bijaksana bagi para orang tua agar dapat 
mengeliminasi dampak buruk bagi anaknya.

Suatu hari Razka minta dibuatkan susu, tapi saya belum juga beranjak karena 
sedang tanggung mengerjakan hal lain, tiba-tiba dia bilang "unda... ok?" sambil 
mengeryitkan wajahnya, hahahaha.... persis yang saya katakan bila Razka belum 
menuruti permintaan saya. 

Jadi... buat saya menjadi teladan bukan berarti harus menjadi "malaikat". Tapi 
bagaimana menyikapi permasalahan dan bereaksi terhadap satu hal dengan 
proporsional, alami, konsisten dan konsekuensi.

"Ibu juga manusia... punya rasa punya hati...
Jangan samakan dengan pisau belati...."

Maaf kalau bukannya sharing.... tentang tercengang, takjub, geli dgn hal2 yg 
dilakukan buah hatinya yang tdk prnh kita ajarkan.

salam maniez,
-bundanya Razka-

   
Widya D. Setyawati 
[email protected] 
[email protected] 
ph.: 021-31931935
http://oui-day.blogspot.com
http://masrazka.multiply.com
YM: widya.setyawati 


      

Kirim email ke