Menjadi orangtua suatu profesi yang sangat mulia. Namun sebagian besar dari kita kadang tidak mengerti Harus bagaimana mempersiapkannya, ga ada sekolahnya siiihhh.
Ketika dulu kita mempersiapkan pernikahan maka kita sibuk memikirkan acara pestanya. Kita sibuk memikirkan siapa yang akan diundang, gaun apa yang akan dikenakan pengantin wanita, makanan seperti apa yang akan dihidangkan, foto kenangan seperti apa yang akan dilakukan dan mungkin juga tempat tinggal seperti apa yang akan dihuni. kita orang tua tidak pernah sekolah khusus untuk jadi orang tua, so saat udah berkeluarga dan punya anak jadi sering bingung aplikasinya karena gak cocok dengan materi matematika,ipa,ips dsb.. Kita berpikir bahwa kalau punya anak maka secara alami kita pasti bisa mendidiknya. Tidak perlu belajar. Tetapi setelah anaknya bermasalah barulah kita sadar telah membuang waktu untuk belajar. Itupun untung jika masih sadar. Banyak yang tidak menyadarinya sampai tua. Kebanyakan orangtua sekarang lebih mampu mengelola anaknya ketimbang mengasuh atau mendidiknya. Mengelola adalah kegiatan yang dilakukan dengan pikiran logis. Contohnya menyelesaikan pekerjaan rumah, mengikutkan anak les musik / balet / pelajaran, mengingatkan anak untuk makan, mandi dan tidur. Intinya tentang bagaimana membantu mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan menjadi apapun yang mereka inginkan yang sesuai dengan keinginan kita. Kita memperlakukan anak-anak seperti karyawan di kantor yang perlu dikontrol dan diawasi dengan seperangkat aturan. orang tua merasa memiliki anak sebagai obyek untuk memuaskan keinginannya, alih-alih 'demi kebaikan' dan masa depannya orang tua merasa harus menyiapkan berbagai kagiatan untuk anak-anaknya tanpa melibatkan sang anak itu sendiri bahkan tanpa mengetahui potensi anak yang sebenarnya. Apakah dengan cara mengelola seperti itu sudah layak dan cukup disebut mengasuh dan mendidik? Pengasuhan merupakan kegiatan yang kita lakukan dengan pikiran dan juga perasaan. Hal tersebut meliputi memberi pelukan yang cukup banyak, memberi pujian dan menyemangati ketika anak-anak tertekan, memberikan kehangatan untuk menentramkan mereka dan memberikan mereka waktu berkualitas. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah mengetahui siapa mereka dan membantunya menjadi seperti apa yang ada dalam dirinya. Bukan menjadikan mereka seperti apa yang kita inginkan. Analogi yang paling buruk tentang pengasuhan anak adalah yang mengiibaratkan anak seperti gumpalan tanah liat dan orangtua adalah pematungnya. Hal ini menggambarkan bahwa anak berada dalam pihak yang pasif dan tak berdaya sama sekali. Anak diposisikan tidak memberikan kontribusi dalam proses tumbuh kembangnya. Hal ini pada akhirnya gagal dan sangat merugikan perkembangan anak itu sendiri. Ibaratnya kertas yang masih putih, kita sebagai orang tua memang sah-sah saja menuliskan 'goal' dan 'action plan', tapi yang harus menjadi pertimbangan bagi kita adalah apa dan bagaimana 'potensi dasar' yang dimiliki oleh anak, baik itu potensi dasar kecerdasan intelegensian, kondisi tumbuh kembang emosi dan sosialnya, maupun minat bakatnya. Analogi yang lebih baik adalah analogi bibit tanaman. Pohon kecil yang ditanam di taman semuanya mirip. Tapi ternyata mereka semua berbeda. Ada pohon pinus, pohon apel dan pohon mangga. Kita tidak membentuk mereka melainkan merawatnya sesuai dengan karakteristik yang telah ada. Sebagai Orang tua, kita perlu mencari tahu pohon jenis apa. Setelah itu mempelajari apa yang mereka perlukan dan menyediakan apa yang diperlukan tersebut. Mungkin pupuk yang sesuai dan pasokan air yang memadai sesuai dengan semua sifatnya agar mencapai pertumbuhan optimal. Bagaimana dengan teman2 ? Apakah selama ini lebih banyak mengelola atau mengasuh? Masih ada waktu untuk mengubah diri dan mempelajari banyak hal untuk membantu anak kita mengembangkan potensi terbaik dirinya. Sudah selayaknya model pendidikan orang tua "jadul" kita harus direnovasi, yaitu dengan menghargai anak sebagai individu yang kelak akan menjadi manusia dewasa. Kata kuncinya sederhana...mendidik dengan 'Cinta dan Kasih sayang' dan tentunya kesabaran...karena anak2 juga merupakan aset kita untuk dunia akhirat Segeralah ambil tindakan. SALAM PENUH CINTA Irma Sustika LUTCF IS Training & Event Management http://irmasustika.blogspot.com http://istraining.blogspot.com http://www.facebook.com/irmasustika
