Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Bango PT Unilever Indonesia Tbk Cinta makanan tradisional sejak di Bango
Aneka makanan tradisional memiliki ciri khas rasa yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan kecap. Bango, termasuk salah satu dari sekian banyak merek kecap nasional hingga lokal yang mampu menjadi favorit target pasarnya kalangan rumah tangga hingga pedagang makanan kaki lima. Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Bango ingin agar Bango terus meningkatkan integritasnya untuk selalu melestarikan makanan tradisional Indonesia di tengah-tengah serbuan makanan luar negeri. Apa saja pengalaman menariknya semenjak dipercaya memegang brand Bango akhir 2007 lalu? Kecap selalu lekat dengan citarasa. Apalagi banyak makanan tradisional yang terasa kurang lengkap bila tak menggunakan kecap. Sebut saja Sate, Soto, Bakso, Tongseng, hingga Tahu Campur. Di antara ragam merek kecap, Bango termasuk kecap yang legendaris hingga saat ini termasuk salah satu leader market. Produk yang sudah dibuat sejak tahun 1928 ini dinilai Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Bango, memiliki kekuatan dari sisi ekuitasnya karena sejak dulu Bango sudah dikenal sebagai kecap berkualitas tinggi, lebih kental dan lebih hitam. Karena itulah, Memor, sapaannya yang sejak akhir 2007 lalu dipercaya sebagai Brand Manager selalu berpegang bahwa segala aktivitas marketingnya harus mencerminkan kualitas tersebut. "Kita tidak akan turunkan kualitas produk meski harga bahan baku naik, dan tidak membebankan kenaikan itu ke konsumen. Yang jelas tidak ada kompromi soal kualitas. Selain itu akar dari adanya Bango adalah makanan tradisional. Kita juga punya dua modal penting di marketing yaitu acara TV Bango Cita Rasa Nusantara atau BCRN, serta Festival Jajanan Bango atau FJB," jelasnya. Jebolan Teknik Industri Universitas Indonesia tahun 2003 ini juga ingin tiap tahun menampilkan sesuatu yang fresh baik dari BCRN atau FJB. Sejak Februari 2007 ia bersama tim marketingnya mengemas konsep baru BCRN yang sudah tayang sejak 4 tahun lalu. Pembawa acaranya sekarang dari public figure dan tidak hanya artis tapi juga tokoh publik berprestasi di bidang masing-masing. Pembawa acara BCRN juga dilihat dulu apakah punya integritas di bidangnya mengingat Bango merupakan satu brand yang sangat memegang integritas. "Misalnya dari raw material kita tak akan mengkompromikan kualitas di mana kita punya program pembinaan petani kedelai hitam dengan benih bibit unggul, juga resepnya kita pertahankan sama dengan sejak awal Bango dibuat. Integritas lain yang kita tonjolkan adalah kita fokus untuk melestarikan makanan Nusantara, bukan di luar itu. Jadi inline dengan Bango. Begitu juga dengan FJB, tidak semua penjaja makanan tradisional ikut. Mereka harus tunjukkan bahwa mereka punya dedikasi di sana, seperti untuk masak tongseng masih tradisional pakai arang," tandas wanita kelahiran Surabaya, 28 Oktober 1980 yang melepas masa lajangnya pada Desember 2007. Lewat program cooking tersebut, diharapkan masyarakat jadi tahu bahwa makanan Indonesia banyak yang enak-enak yang harus dilestarikan. "Meskipun banyak western food menyerbu, kita harus berpikir bagaimana agar makanan tradisional tidak tenggelam di masa generasi setelah kita. Maka kita punya misi bersama Bango kita lestarikan makanan tradisional Indonesia," tambahnya. Saat ini dari sisi penjualan Bango menurut Memor sangat memuaskan, dan dari misi sosial Bango akan terus mengkampanyekan untuk melestarikan makanan tradisional. Seperti FJB mendatang yang akan diadakan tanggal 10 Mei 2008 di Stadion Brawijaya Surabaya. "Kalau dulu acara masak yang diulas adalah bagaimana cara masaknya, namun begitu ada Bango kita mengemas cooking program menjadi informasi bahwa ada makanan tradisional Indonesia yang enak-enak yang seringkali kita lupa. Saat ini sudah mulai banyak media yang mengulas kuliner mengikuti langkah kita," cetus Memor yang belum dikaruniai momongan dan menargetkan menambah anggota baru keluarganya tersebut dalam waktu dekat. Jatuh Cinta Bagi Memor Bango itu 'has nothing but goodness', "Nggak ada hal yang jelek tentang Bango, saya langsung jatuh cinta saat dipercaya ikut dalam tim Bango. Semuanya itu bagus, dari raw material-nya, standar produksinya, produknya, apa yang kita komunikasikan untuk melestarikan makanan tradisional Nusantara, kita juga bikin seneng pedagang kaki lima dan konsumen Bango. Jadi, ...rasanya kayak lima menit pertama deh waktu pegang brand ini haha.. indah banget pokoknya," tandasnya semangat. Wanita yang suka mencari tempat makan baru bersama suaminya saat waktu luang memiliki karier cukup cemerlang sejak awal karir hingga sekarang menduduki posisi Brand Manager. "Melihat karier, saya nggak merasa lebih cepat dari teman-teman. Lepas lulus kuliah tahun 2003 saya langsung ke Unilever, sempat di Sales 6 bulan pegang traditional trade di wilayah Bekasi, lalu masuk marketing Royco selama 2 tahun, baru ke marketing Bango tahun 2006 join di tim Bango sebagai Asisten Brand Bango selama satu tahun. Setahun kemudian pegang marketing Bangi untuk kawasan regional South East Asia. Lalu sejak akhir 2007 kembali ke marketing Bango lokal yang menyasar pasar ritel kalangan ibu rumah tangga dan penjual makanan kaki lima," jelasnya merendah. Marketing menurut Memor bicara soal logika, misalnya untuk komunikasi iklan Anda harus berpikir bagaimana konsumen menilai dan memahami tentang iklan tersebut. Dan cara Anda melakukan komunikasi juga harus diperhatikan. Bango yang sangat kuat ciri khas Indonesianya yaitu kecap manis juga pernah memberi pengalaman mengesankan bagi Memor. "Kalau biasanya di luar negeri produk kecap jenisnya banyak kecap asin, tapi kecap manis itu sangat Indonesia sekali. Saya sudah ke Filipina, Singapura, Thailand, di sana dominan kecap asin. Pernah satu waktu teman saya orang Filipina saya tanya mau dioleh-olehi apa, saya kira dia mau oleh-oleh batik atau yang lain, Eh dia bilang bawain dua Bango. Ada juga orang Indonesia yang tinggal di Amerika saya tanya mau dibawain apa, jawabnya Bango. Jadi salah satu personality Bango adalah asli Indonesia," ucapnya berbinar. Lalu bagaimana dengan munculnya pemain baru yang gencar memasarkan produknya? "Wah kita tetap pede dengan produk kita, yang saya lihat dengan masuknya pemain baru persaingan di dunia kecap akan lebih exciting, karena sebelumnya pemain yang dominan masih sedikit," cetus wanita yang mengaku tidak bisa bahasa Jawa Timuran karena lama tinggal di Jakarta. Kecintaannya pada makanan tradisional juga dimulai sejak di Bango. "Jadi saya harus nyobain semua, dan saya banyak belajar makanan baru sesaat pertama kali pegang Bango. Seperti Gabus Pucung, Pecak Gurame, Belabung Kuda, yang ditayangkan di BCRN. Sejak itu saya jadi makin suka makanan tradisional dan makin sering jajan. Kalau menilai makanan bagi saya yang ada hanya enak dan enak banget haha...Sejak di Bango saya juga jadi lebih cerewet sama pembantu yang masak meskipun bukan pengkritik karena nggak tahu caranya, jadi benar-benar murni penikmat makanan saja. Kalau urusan masak paling resep-resep sederhana saja yang saya bisa. Jujur saya jarang masak, soalnya kalau nggak enak kasihan sama suami yah," tuturnya tersenyum. Apa nggak takut kalau berat badan tiba-tiba melonjak dan kolesterol naik? "Ya takut juga sih, cara menyiasatinya kalau minggun ini saya makan yang kolesterolnya tinggi, minggu besoknya nggak lagi. Meskipun suka makan, badan juga tetap langsing tuh, mungkin saya susah gemuk ya. Olahraga sejauh ini juga belum ada yang rutin, jadi benar-benar karunia Tuhan," ucap Memor yang juga hobi belanja. Hari Sabtu biasanya Memor juga sudah memikirkan tempat makan baru yang akan jadi buruannya, apalagi keluarga besarnya juga suka makan. Beberapa tempat makan favoritnya kebanyakan berada di kawasan Jakarta Selatan. Salah satu penjual makanan yang jadi langganannya adalah penjual Nasi Goreng Otokowok. "Nasi gorengnya itu unik banget dicampur dengan mie goreng, rasanya uenaakk. Citarasanya beda dengan nasi goreng biasa. Penjualnya namanya Pak Tamsil. Dan uniknya lagi kalau jualan dia nggak pakai sandal atau tanpa alas kaki. Jadi kalau saya ingin nasi gorengnya saya bilang sama suami, cariin Tamsil dong. Cirinya yang nggak pakai sandal. Sampai-sampai saya pernah punya nomor HP-nya haha...," celetuk Memor yang suka banyak bercanda di kantor. "Di marketing itu harus berpikir sesuatu yang kreatif dan baru. Bawaannya kalau serius pasti kita jenuh. Makanya sampai baju pun di kantor sehari-hari bisa casual," cetusnya. Eka Rekomendasi tempat makan enak ala Memoria Dwi Prasita - Nasi Goreng Lalan, Jalan Bhakti Husada Jakarta Blok S, Jakarta Selatan (Nasi gorengnya dibuat dari nasi uduk, rasanya mirip nasi kebuli) - Depot Anda, menu favorit Rawon Buntut, dekat Stasiun Kereta Api Mojokerto - Tahu Campur, depan kantor pos Fatmawati, Jakarta Selatan - Sop Kaki Kambing, di Jalan Fatmawati Raya seberang SMA Cendrawasih - Bubur Barito, Jl Gandaria Tengah, Jakarta Selatan - Bakmi Villa, belakang Villa Cinere Mas, Jl Karang Tengah, Cinere - Bakmi Bangka, Jalan Cinere Raya dekat Mal Cinere Jakarta Selatan - Nasi Goreng Toro, di Pondok Labu, Jakarta Selatan - Rumah Makan Radja Kecil, di Tarogong, Pondok Indah, Jakarta Selatan - RM Sedap Malam (SM), menu favorit Ayam Bumbu Rujak, dekat pertigaan Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan - Kikil Waru di dekat fly over Wonokromo Surabaya, kiri jalan - Ayam Penyet Bu Kris, Jl Tenggilis Utara No 1, Surabaya - Gudeg Koyor Ibu Sukini, di Pasar Sapi, Salatiga Info Kuliner - Selasa, 28 April 2008
