Dear All

Sewaktu berlangsung acara Serbu Serba Kejumooo yang digelar oleh Kraft di 
Jakarta, saya sempat bersua dan berbincang dengan Ibu Nadia Damara, pemilik 
Martabak Bolu (MarBol). Ia begitu sibuk melayani pembeli yang antre di 
tendanya. Sebelumnya cuma sempat "ngobrol" lewat email. Kebetulan Bu Nadia 
menjadi anggota milis KoBaMa (Komunitas Bango Mania).  Ia punya trik jitu dalam 
mempromosikan produk andalannya. Secara berkala, MarBol bagi-bagi martabak 
gratis kepada anggota KoBaMa yang pas memberikan ilustrasi tentang makanan 
tersebut. Sudah berpuluh-puluh kotak MarBol ia bagikan kepada Bangoers yang 
mukim di berbagai kota. 

http://www.yahoogroups.com/group/bango-mania

http://kecap-bango.blogspot.com


www.martabakbolu.com 


Berikut sebuah artikel tentang kiprah bisnis Ibu Nadia Damara di tabloid Saji:



------------------------------------------------------------


Martabak Bolu Golden Bell: Martabak rasa bolu yang lembut dari Bandung 

Dulu zaman oma opa kita masih sering nongkrong kayak anak muda, pasti mengenal 
betul nama Golden Bell. Terlebih jika tinggal di kota Bandung. Sebelum jadi 
nama merek martabak, Golden Bell dijadikan nama restoran di kawasan Suniaraja, 
Bandung. Kini nama tersebut "hidup" kembali lewat merek martabak. Bukan 
martabak sembarang martabak, lo, tetapi martabak unik. Namanya saja Martabak 
Bolu. Lo, kok, bisa?

Martabak karya Surawiria Saputra (38) dan Nadia Damara Saputra (40), memang 
beda. Perbedaan utama terletak pada kelembutannya. "Martabak kami lembut 
seperti bolu. Makanya kami namakan Martabak Bolu," terang putri pasangan Jaya 
Saputra (alm) dan Ratnawati, pendiri resto Golden Bell ini.

Perbedaan lain, kalau martabak manis lainnya sarat minyak, yang ini tidak 
berlumur minyak. Kulit martabaknya pun tipis. Sampai tercipta martabak seperti 
ini, I Cie, panggilan akrab Saputra, harus bereksperimen cukup lama. "Terutama 
pada proses pengadonannya. Kalau bahannya, sih, sama saja dengan bahan martabak 
pada umumnya, terigu, telur, dan susu," jelasnya.

Kebetulan I Cie tidak asing dengan komposisi bahan martabak karena sebelumnya 
pernah berjualan martabak ala Bandung. Namun karena usaha tersebut tidak 
berlanjut, peralatan pembuatan martabak teronggok begitu saja. Makanya, Nadia 
menyarankan untuk membuka kembali usaha martabak, tetapi dalam versi lain.

Setelah coba sana coba sini, ketemu juga cara pembuatan martabak yang pas. 
Tetapi kakak beradik ini tak sudi muncul tanpa konsep yang jelas. Maka 
dipikirkanlah konsep yang pas.

"Saya melihat, Bandung banyak dikunjungi turis dari Jakarta dan kota lainnya. 
Maka saya terpikir untuk membuat martabak yang bisa dijadikan oleh-oleh," kisah 
Nadia.

Nah, supaya pas dijadikan oleh-oleh, martabak tentu harus tahan lama. 
Maksudnya, tahan lama keempukannya, juga bertahan lama tanpa rusak. Nyatanya 
Martabak Bolu ini bisa bertahan 3 hari tanpa perubahan rasa dan 1 minggu di 
dalam lemari pendingin. Satu lagi syarat yang mereka pikirkan. "Sebaiknya, kan, 
tidak berminyak-minyak supaya terlihat menarik ketika diantarkan kepada orang 
lain," kata I Cie.

Walaupun syarat kedua juga bisa dipenuh, toh, dua syarat itu belum membuat I 
Cie dan Nadia puas. Masih ada lagi yang dipikirkan. Namannya oleh-oleh, tentu 
tidak bisa disantap panas-panas. Sesampai di luar kota, pasti sudah dingin. 
Tampaknya syarat ini bisa dipenuhi juga oleh mereka. Meski sudah dingin, 
Martabak Bolu tetap sama lembut seperti waktu panas. Bahkan I Cie menjanjikan, 
martabak garapannya tetap lezat meski disimpan di lemari pendingin. "Kalau 
sudah dikeluarkan dari lemari pendingin, biarkan saja sebentar dalam suhu 
ruang, tak perlu dipanaskan. Rasanya tetap enak, kok."

Beres soal kendala di martabak, masih ada hal lain yang mereka pikirkan yakni 
kemasan. Sebagai oleh-oleh, kemasan bukan hanya harus indah dipandang mata, 
tetapi juga enak ditenteng. Maka terciptalah kemasan persegi panjang yang 
berbentuk laci. Untuk merek, mereka sepakat diberi nama Golden Bell, untuk 
mengabadikan nama yang pernah menjadi kebanggaan orang tua mereka.

Bagi icip-icip

Untuk mempromosikan Martabak Bolu yang unik ini, Nadia yang memegang urusan 
marketing, tidak pasang strategi macam-macam. Bahkan juga tanpa gerobak berhias 
meriah atau spanduk besar. Nadia hanya aktif menawari segenap kerabat dan 
keluarga, martabak garapan mereka. Bahkan ia tak ragu membagikan Martabak Bolu 
ini pada hari ulang tahun salah satu anaknya di sekolah.

"Pokoknya siapa saja saya kasih icip-icip," tuturnya bersemangat.

Tak sampai di situ, Nadia juga rajin mengirimi hotel-hotel di Bandung saat 
akhir pekan. Kalau perlu, setiap penghuni kamar di hotel tersebut dapat 
seloyang martabak. "Pokoknya saya tak berhitung soal untung-rugi. Yang penting 
orang coba dulu martabak saya," terang Nadia

Usaha Nadia tak sia-sia. Martabak Bolu yang dirintis 2 tahun lalu ini, mulai 
melejit sekitar 4 bulan lalu. Pasalnya, di internet Nadia mulai memberanikan 
diri membuat website khusus martabak ini. Dari tak punya komputer, ia pun tak 
ragu membeli dan mempelajarinya, termasuk membuat website sendiri. "Pokoknya 
nekat saja," tuturnya.

Di internet pula Nadia yang kreatif ini terinspirasi untuk bergabung di 
beberapa milis. Di milis ini pun Nadia membuat ide kreatif, dengan 
menyelenggarakan kuis seputar Martabak Bolu. Misalnya, pertanyaan, apa beda 
Martabak Bolu dengan martabak biasa. Sontak saja ratusan email merespon kuis 
yang dibuatnya. 

"Tujuan saya meningkatkan hits pengunjung yang membuka website saya," terang 
Nadia yang kemudian mengirimi hadiah Martabak Bolu kepada peserta yang memberi 
jawaban dengan benar.

Kreativitas Nadia dalam berpromosi akhirnya mempopulerkan nama Martabak Bolu 
Golden Bell meski hanya dijual di garasi rumahnya di kawasan Pasteur, Bandung.

Harga per loyang dipatok Rp 30 ribu. Pilihan isinya keju, cokelat, kismis dan 
kacang atau padu padan di antaranya, sesuai pesanan pembeli. Jenis kacang yang 
digunakan berupa pasta selai yang sudah diolah kembali agar rasanya lebih enak. 
Jadi bukan cincangan kacang seperti pada umumnya.

Kini mereka bisa menjual tak kurang dari 250 loyang setiap harinya. Pembelinya 
datang dari luar mana-mana, termasuk dari luar kota seperti Mojokerto, 
Surabaya, Semarang, Bali, Bogor, Banjar, tegal, Pekalongan, Kebumen, Sragen, 
Solo, hingga ke luar negeri seperti Singapura, Hongkong, Filipina, dan Belanda. 
Hebat bukan?

Martabak Bolu Golden Bell:
Jl Dangdeur Indah II No 1 (Suryasumantri) Bandung 40163 
Telp 08164214477 - (022) 70760391

Saji edisi 20 Agustus 2008

Kirim email ke