Makan Siang di Warung Haji Nasun 

Jakarta - Makan siang ini sudah lama kami idam-idamkan. Tempatnya 
sederhana, di pinggiran Jakarta Selatan tetapi masakan racikan 
keluarga Haji Nasun benar-benar membuat kami berkeringat karena 
lezat. Pecak gurame yang 'mlekoh', gabus pucung yang eksotik sampai 
tempe goreng yang gurih renyah. Benar-benar dahsyat menggoyang lidah!

'Dekat Unas, daerah Jagakarsa', sepenggal ingatan itu mengantar saya 
dan teman-teman untuk mencari rumah Haji Nasun. Akhirnya sampai juga 
kami di rumah sederhana dengan papan nama kecil. Sengaja kami 
menelpon sejak jam 11.00 siang untuk memesan seporsi pecak gurame dan 
seporsi gabus pucung. Terus terang kami tak mau kecewa, jauh-jauh 
datang dan tak mendapatkan makanan favorit itu.

Ruang tengah yang lebar, diisi dengan 3 meja besar dan di teras luar 
pun dipasang meja bundar dengan beberapa kursi. Tak ada kesan rumah 
makan yang ditata serius. Di bagian tengah di taruh lemari kaca dan 
meja panjang untuk meracik makanan. Serasa kami singgah di rumah 
kerabat di pinggiran kota. Tumpukan ikan gurami dan gabus goreng 
ditata di atas piring lebar siap disiram bumbu.

Pecak gurami dan gabus pucung merupakan signature dish warung Haji 
Nasun. Tak terhitung jumlah media cetak dan elektronik yang pernah 
menulis soal masakan pak Haji ini. Maklum saja sajian tersebut 
merupakan makanan khas Betawi yang tak banyak dibuat orang.

Tampilan warung dan makanannya pun tak berubah. Pesanan kami mulai 
diracik. Kuah pucung dan pecak dipanaskan lebih dahulu. Kemudian 
gurami goreng dimasukkan ke dalam kuah, diaduk beberapa saat lalu 
dipindahkan ke piring oval besal. Demikian pula dengan gabus 
pucungnya. "Kalau tidak panas rasanya kurang enak," demikian alasan 
ibu yang melayani kami.

Sambil menanti gurami dan gabus disiapkan, kami pun menyambar tempe 
goreng yang tebal berukuran sekitar 10x5 cm yang diiris menyerong. 
Tekstur kacang kedelai yang bulat utuh bagai 'melotot' menantang 
kami. Kunyahan pertama tempe ini langsung memberi signal bahwa tempe 
goreng ini memakai tempe berkualitas bagus. Renyah, gurih, dan wangi! 
Tak terasa 4 potong tempe gorengpun lenyap dari piring.

Pecak Gurami, gabus pucung, semangkuk sup daging, sepiring tempe 
goreng, sambal, sebakul lalapan segar plus sepiring nasi putih hangat 
pun dijajarkan di meja sebagai makan siang kami. Gurami berukuran 
sedang, dikerat-kerat kedua sisinya, digoreng tidak terlalu kering 
dengan siraman kuah berwarna merah oranye menebarkan aroma harum 
kunyit cabai yang merangsang.

Saat tersentuh garpu, daging gurami terasa agak kenyal, menandakan 
guraminya masih sangat segar. Pada kunyahan pertama, terasa sangat 
gurih, tanpa jejak aroma tanah sama sekali! Lumuran bumbunya terasa 
gurih, sedikit pedas dengan aroma kunyit dan cabai yang kuat. Bumbu 
pecak ini diolah dengan cara manual, diuleg dengan tangan karena 
itulah aroma bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit dan kemirinya 
terasa sangat kuat. Dengan siraman sedikit kuah pada nasi, suapan pun 
terasa lebih cepat!

Kalau melihat gabus pucung, sebagai orang Jawa kami langsung teringat 
rawon. Ikan gabus yang berdaging tebal digoreng tidak kering dan 
direndam kuah hitam dengan sedikit semburat kuning. Di dalam kuahnya 
ada irisan kol, wortel dan daun bawang. Rasa kenyal daging gabus 
berpadu dengan gurih-gurih sedikit pedas.

Aroma pucung atau keluak yang eksotik menjadi ciri khas racikan bumbu 
gabus ini. Nasibnya tak jauh beda dengan pecak gurami. Dengan 
tambahan nasi putih, gabus pucungpun makin lancar sampai ke 
tenggorokan.

Sambal racikan Haji Nasun ternyata benar-benar mengguncang lidah! 
Pedas menggigit tetapi tak mampu menghentikan kami untuk berhenti 
mencocol. Apalagi jika dicocok dengan daun poh-pohan, wuihhh sedap 
nian! Sementara pengunjung lain, mencocol sambal ini dengan petai 
segar dari satu papan petai yang langsung 'dibedah' di tempat.

Kesederhanaan rupanya menjadi kunci utama kelezatan masakan keluarga 
Haji Nasun ini. Inilah yang kami temui dalam semangkuk sup daging 
sapi. Ya benar-benar potongan daging sapi, wortel, daun seledri dan 
daun bawang dalam rendaman kuah sup yang bening mengepul. Rasanya 
ringan, gurih dengan aroma daging yang tak terlalu tajam karena tak 
ada lemak berlebihan. Sup andalan warung inipun menjadi favorit 
pengunjung. Jadi kalau tak mau kehabisan sebaiknya memang menelpon 
dulu minimal satu jam sebelum sampai ke lokasi!

Harga makanan yang dipatok warung ini juga tak terlalu mahal. Seporsi 
pecak gurame ukuran sedang (bisa dimakan bertiga) Rp 40.000,00 , 
gabus pucung (bisa dimakan berdua) Rp 35.000,00 dan seporsi sup 
daging sapi Rp 15.000,00 dan tempe goreng per potong Rp 1000,00. 
Dengan biaya sekitar Rp 25.000 per orang kelezatan eksotik khas 
Betawi inipun bisa jadi pilihan makan siang yang asyik.

Keluar dari warung yang makin padat dengan pengunjung ini kami 
melihat jajaran empang di sisi rumah pak haji yang lebar. Ikan gurami 
agaknya diternakkan sendiri oleh pak haji. Mengalami guncangan 
kelezatan masakan putra Betawi ini kami pun bersyukur. Masih ada 
orang yang peduli menjaga kelestarian kuliner Betawi yang lezat ini.

Nah, jika Anda ingin merayakan HUT Jakarta ke 481, selain ke Ancol, 
bisa juga singgah ke warung pak Haji, hitung-hitung turut menjaga 
kelanggengan makanan Betawi yang enak dan dahsyat ini!

Warung Haji Nasun
Jl. Kanfi II No.21, Sawah Jagakarsa
Telp: 021-7870016
Jam Buka: 09.30 - makanan habis


Kirim email ke