Kolom - Detail
 
Senin, 15/09/2008 15:10 WIB

Indonesia Tourism and Travel Fair 2008
oleh : Hilda Sabri Sulistyo
Wartawan Bisnis Indonesia

  a.. Cetak
  b.. Kirim ke Teman
  c.. Komentar
Memasuki kawasan Gelora Bung Karno Senayan suasana pameran terasa dengan 
banyaknya umbul-umbul bertuliskan Indonesia Tourism and Travel Fair 2008, The 
World Travel &Tourism Fiestavaganza, 11-14 September 2008 di Hall A & B Jakarta 
Convention Centre (JCC). 

Melihat semaraknya umbul-umbul , dalam hati penulis bernafas lega akhirnya 
Indonesia punya juga ajang consumer show. Di negara tetangga, pesta wisata 
bergensi yang membidik langsung konsumen adalah MATTA Internasioanal Fair di 
Malaysia yang diselenggarakan oleh Malaysian Association of Tours & Travel 
Agent serta di Singapura, bernama NATAS Holiday diselenggarakan oleh National 
Association of Travel Agents Singapore. 

Memasuki hall A, mata langsung tertumpu pada stand (booth) Firefly, maskapai 
anak perusahaan Malaysia Airlines yang akan masuk dan melayani penerbangan 
sejumlah rute di Indonesia Akhir Oktober mendatang dengan rute dari Penang ke 
Banda Aceh, Medan-Penang, Pekanbaru-Subang (Kuala Lumpur). 

Ekaspansi rute besar-besaran bakal dilakukan tahun depan dengan membuka rute 
dari bandara Subang, Johor Bahru ke banyak kota di Indonesia yaitu 
Pangkalpinang, Jambi, Bandung, Padang, Bengkulu, Jakarta, Batam dan Palembang. 

Saat jumpa pers usai pembukaan ITTF oleh Wapres Jusuf kalla, Menbudpar Jero 
Wacik mengklaim pesta wisata yang baru pertama kali dilaksanakan ini menjadi 
pukulan telak atau smes terakhir mengejar target Visit Indonesia 2008 sebanyak 
7 juta wisman. 

"Ibarat permainan bola voli, ITTF merupakan pukulan smes terakhir kita untuk 
meraih target jumlah wisatawan mancanegara pada akhir tahun 2008. Sampai bulan 
Juli, jumlah wisman sudah mencapai 3,47 juta orang, naik 11,43% dibandingkan 
periode yang sama pada tahun 2007," 

Apalagi ITTF digagas oleh kalangan dunia usaha sendiri yaitu Perhimpunan Hotel 
dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia 
(Asita), dan Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia (INCCA). Peserta asing 
dari ITTF sebanyak sebanyak 60 buyers dari 12 negara.a.l Jerman, Polandia, 
Hungaria, Cekoslowakia, Australia, Austria, China,Hongong, Thailand, Korea, 
Jepang dan Malaysia. 

Dalam pesta akbar ini para pesertanya memang banyak diikuti anggota ketiga 
organisasi itu, barulah menuju hall B ada booth Badan Pariwisata Malaysia 
(Tourism Malaysia) dan Badan Pariwisata Sabah yang mengajak masyarakat 
Indonesia berlibur ke Sabah, Genting, Kuala umpur dan Singapura. 

Selain menggelar aneka produk wisata daerah, termasuk produk destinasi Meeting, 
Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), penyelenggara memang mengadakan 
kegiatan ini bersamaan dengan kongres Asian Federasi Exhibition & Convention 
Association (AFECA) . Iqball Allan Abdullah. Ketua INCCA yang juga wakil 
presiden AFECA mengatakan peserta kongres ini jumlahnya 300 orang perwakilan 
negara anggota yang kedatangannya juga di dampingi sekitar 40 wartawan media 
asing. 

Keunikan dari pesta wisata ini adalah pada hari pertama tidak terbuka untuk 
umum tetapi difokuskan untuk transaksi antara para buyers dan sellers atau 
disebut business to business (B2B), barulah hari kedua-keempat ajang business 
to custumers (B2C) untuk menjaring masyarakat Indonesia membeli paket-paket 
wisata terutama untuk Natal dan Tahun Baru 2009. 

Ben Sukma, ketua penyelenggara ITTF mengatakan target transaksi yang terjadi 
diharapkan mencapai US$20 juta. Menurut dia kalau Malaysia pada ajang MATTA 
internasional Fair bisa membukukan transaksi US$5 juta dalam 3 hari kegiatan 
maka Indonesia dengan wilayahnya mencakup 34 provinsi dan empat hari pameran 
dengan target kasar 40.000 pengunjung maka optimistis angka itu tercapai. 

Sikap optimistis itu cukup beralasan karena jauh-jauh hari penyeleggara sudah 
melakukan roadshow ke mancanegara dari kegiatan yang diiproyeksikan menelan 
dana Rp12 miliar, di mana kalangan industri pariwisata menanggung 60% dari 
total kebutuhan dana, selebihnya 40% a ditanggung Depbudpar. Apalagi buyers 
asing juga diberikan post tour non Bali seperti ke Sumut, Bandung, Yogya dan 
Solo. 

Menbudpar Jero Wacik menegaskan pihaknya tak segan-segan mengucurkan kegiatan 
yang baru pertama kali, namun dukungan pemerintah untuk kegiatan selanjutnya 
akan berkurang seiring dengan kemampuan swasta mengelola event yang dijadwalkan 
menjadi acara tahunan ini. 

Meski bangga dengan hadirnya satu event akbar pariwisata di negeri ini, usai 
meliput ITTF kalangan pers pemerhati pariwisata menyisakan banyak pertanyaan 
rupanya. Bagaimana nasib dengan Gebyar Wisata Nusantara (GWN) yang tiap tahun 
di gelar di Jakarta sekitar awal Mei untuk menjaring masyarakat membeli produk 
wisata dalam negri menghadapi liburan sekolah? 

Kalau memang ITTF konsepnya consumer show, menjual langsung ke konsumen maka 
GWN seharusnya merger saja dalam event itu. Jadi masyarakat bebas membeli mau 
paket outbound ke luar negri, atau jalan-jalan di negri sendiri dalam satu 
atap. Bagaimana pula nasib Pasar Wisata Indonesia (PWI) atau biasa disebut 
Tourism Indonesia Mart and Expo (TIME) ke 14. Bursa pariwisata yang sudah masuk 
peta pariwisata dunia ini akan berlangsung 14-17 Oktober di Makasar. 

Meity Robot, ketua pengarah kegiatan PWI mengatakan pihaknya menargetkan 
transaksi US$20 juta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ajang travel trade (B2B) 
ini senantiasa melibatkan berbagai pihak antara lain BPPI (Badan Promosi 
Pariwisata Indonesia) sebagai penggagas dan pemilik konsep PWI, pemerintah 
daerah setempat maupun pemda di 34 provinsi beserta industri pariwisata. 

Rupanya rentang waktu 18 tahun menggeluti dunia pariwisata, belum membuat 
penulis bisa mudah memahami apakah ITTF ini mau mendorong orang Indonesia 
berwisata ke luar negri atau mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia? 

Di tengah teriakan Budpar dan industri bahwa pariwisata RI minim dana promosi, 
mengapa penggunaan dana itu tidak dilakukan dengan smart? Apakah menambah event 
tahunan menjadi solusi?. Keluar dari JCC yang terngiang-ngiang adalah ucapan 
Wapres Jusuf Kalla yang menekankan pentingnya kekompakan dalam mempromosikan 
pariwisata Indonesia. ([EMAIL PROTECTED])

  a.. Cetak
  b.. Kirim ke Teman
  c.. Komentar
bisnis.com



http://web.bisnis.com/kolom/2id1532.html








  ----- Original Message ----- 
  From: Anna Rainsakina 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Tuesday, September 16, 2008 9:16 AM
  Subject: [tourismindonesia] Indonesia Tourism and Travel Fair 2008



  <!--[endif]-->Memasuki kawasan Gelora Bung Karno Senayan suasana pameran 
terasa dengan banyaknya umbul-umbul bertuliskan Indonesia Tourism and Travel 
Fair 2008, The World Travel &Tourism Fiestavaganza, 11-14 September 2008 di 
Hall A & B Jakarta Convention Centre (JCC). 
  Melihat semaraknya umbul-umbul , dalam hati penulis bernafas lega akhirnya 
Indonesia punya juga ajang consumer show. Di negara tetangga, pesta wisata 
bergensi yang membidik langsung konsumen adalah MATTA Internasioanal Fair di 
Malaysia yang diselenggarakan oleh Malaysian Association of Tours & Travel 
Agent serta di Singapura, bernama NATAS Holiday diselenggarakan oleh National 
Association of Travel Agents Singapore. selanjutnya  

  Salam
  Anna R.


   

Attachment: 198&n=a6d31266
Description: Binary data

Attachment: showImage.php?imgDir=authors&imageFile=author20080915151236_1532.jpg&thumb=large
Description: Binary data

Kirim email ke