Sebenernya serem seh ngebayanginnya....tapi pas dah baca tulisan 
dibawah ini kok yah jadi penasaran...dulu2 ngak pernah makan 
kambing..tapi semenjak darah rendah daku semakin parah dan di suruh 
makan daging kambing...kok udahannya jadi tergila2 dengan sate 
kambing or sop kambing...heheheh ( abis kalo enggak dikasih hati ayam 
mulu hahaha )

Bondan Winarno
Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai 
tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan akan masih terus 
melanjutkan pengembaraannya. 
(Email : [EMAIL PROTECTED])
Jumat, 1 Agustus 2008 | 08:15 WIB
Baru-baru ini saya menemukan lagi kejutan menyenangkan dalam 
perburuan mencari masakan-masakan khas daerah. Kejutan ini saya 
temukan di sebuah desa di Muntilan, tidak jauh dari Candi Borobudur, 
Jawa Tengah.

Yang membuat saya heran, warung ini direkomendasikan oleh banyak 
orang yang mengetahui reputasi saya sebagai tukang makan. "Harus dan 
wajib ke sana, Pak. Pokoke mak nyuss tenin!" begitulah rekomendasi 
orang-orang kepada saya.

Ketika saya diantar ke sana pada suatu malam, ternyata tempatnya 
mblusuk-mblusuk di dalam kampung. Sudah pasti saya tidak akan dapat 
menemukannya kalau disuruh pergi sendiri ke tempat itu.

Sebetulnya tempat ini malah bukan warung, melainkan rumah penduduk 
biasa. Di samping rumah tinggalnya yang sederhana, dibangun ruang 
tambahan yang hanya terdiri dari dua ruangan. Ruang depan diisi balai-
balai beralas tikar, tempat untuk para tamu makan sambil lesehan. Di 
belakangnya adalah dapur dengan dua tungku kayu. Dapur ini baru mulai 
kegiatan setelah shalat magrib ditunaikan. Para tamu bukan jenis 
mereka yang datang bermobil, melainkan pelanggan bersepeda motor yang 
datang dari berbagai desa sekitar.

Dua orang kakak-beradik–Komarudin dan Salahudin–bekerja di dapur 
dengan uraian pekerjaan yang tidak pernah berubah. Yang satu hanya 
mengiris dan menyiapkan bahan, yang lain memasak. Konon, bila 
pembagian tugas ini diubah, rasa masakannya akan berubah. Kepintaran 
memasak kakak-beradik yang sama-sama dipanggil Din ini diturunkan 
oleh ayah mereka, Yadi, yang merintis usaha dan kini sudah meninggal.

Dapur ini hanya menyajikan satu jenis masakan, yaitu tongseng kepala 
kambing. Para tamu pun tidak mengharapkan masakan lain. Kebanyakan 
sudah memesan tempat melalui telepon genggam sebelum datang. Ketika 
saya datang sesaat lewat pukul enam petang, ternyata saya sudah 
mendapat giliran nomor tujuh. Semua tamu menunggu dengan sabar. 
Ketika mengetahui saya datang pun, Din tetap melayani tamu-tamu lain 
sesuai urutan. Padahal, beberapa tamu bahkan bersedia mengalah dan 
malah menyilakan saya memesan lebih dulu. Kakak-beradik Din mungkin 
tidak sadar bahwa itulah justru profesionalisme yang terpuji. Pejabat 
atau selebriti tidak punya hak untuk menyerobot antrean.

Setiap saat, dari dapur mengembang harum bawang putih yang sedang 
ditumis, kemudian aroma masakan tongseng yang khas. Setiap kali satu 
piring tongseng dibawa ke balai-balai untuk tamu yang menunggu, semua 
tamu yang lain mendegut ludah. Benar-benar satu bentuk "penyiksaan" 
yang efektif.

Penyajiannya cukup apik. Kepala kambingnya tidak hadir glundungan di 
piring saji. Semua bagian berdaging dari kepala kambing yang sudah 
direbus dalam bumbu – lidah, daging pipi, mata, kulit tebal, otak, 
dan lain-lain dipisahkan dari tulangnya, lalu dipotong kecil-kecil 
(bite size). Kita tidak terganggu dengan tulang-tulang ketika 
menyantapnya.

Kuahnya nyemek–setengah kental–dengan aroma bumbu yang mengesankan. 
Aroma daging kambingnya tidak tercium lagi. Mungkin karena kambing 
yang dipakai masih berusia muda atau karena unsur bawang putihnya 
cukup kuat untuk menyamarkan aroma kambing. Pemakaian kecap manis 
juga sangat tepat sehingga tone manisnya tidak menutup rasa bumbu 
gule kuahnya.

Tekstur dagingnya juga bagus. Semuanya empuk, tetapi masih terasa 
gigitannya. Potongan-potongannya yang kecil juga 
membantu "melunakkan" serat-serat daging ketika digigit. Pendeknya, 
mak nyuss!

Ini adalah untuk kelima kalinya saya dibuat mabuk kepayang oleh 
masakan sederhana yang langsung disajikan di dapurnya. Keempat dapur 
sebelumnya juga sudah pernah saya tulis di sini. Yang pertama adalah 
mangut lele di Desa Jetis, dekat Imogiri, Yogyakarta. Yang kedua 
adalah mangut lele yang lain lagi, di Desa Sewon, Bantul, Yogyakarta. 
Nomor tiga adalah "Gudeg Pawon", juga di Yogyakarta. Nomor empat 
adalah bakmi jawa "Mbah Mo" di Desa Code, Bantul, Yogyakarta. Hebat, 
ya? Kelima tempat itu berada dalam radius 50 kilometer. Orang Yogya 
rupanya punya keistimewaan untuk menampilkan honest food yang dahsyat 
langsung dari dapurnya.

Tongseng kepala kamping Pak Din di Muntilan ini mengingatkan saya 
pada palu basa masakan Daeng Udin di Jalan Serigala, Makassar. Daeng 
Udin juga memakai semua bagian berdaging dari kepala sapi untuk 
masakannya. Semuanya dipotong rapi, sehingga sudah tersaji tanpa 
tulang di piring para pelanggan, dalam kuah yang sungguh mulus dan 
gurih. Pilihan Daeng Udin untuk memakai kepala sapi–bukan kepala 
kambing–juga merupakan pilihan sopan. Satu kampiun kuliner lokal yang 
sungguh tidak boleh dilewatkan.

Masakan mengesankan dari bagian-bagian kepala hewan yang sudah 
dipisahkan dari tulangnya adalah bacem kepala kambing di daerah 
Kolombo di Yogya, salah satu pilihan favorit pedoyan makan Butet 
Kertaradjasa. Sebetulnya, dengan sedikit upaya memisahkan daging dari 
tulang, sajian pun tampak lebih menarik. Para tamu tidak perlu merasa 
ngeri melihat bagian daging dan lemak yang masih melekat pada bagian 
mata atau rahang kambing yang masih bergeligi.

Sekalipun terdengar dan tampak mengerikan bagi sebagian orang, kepala 
kambing rupanya merupakan daya tarik yang khusus bagi para penggemar 
makan. Di Solo, tengkleng alias gule encer tanpa santan hampir selalu 
memakai bagian-bagian dari kepala kambing, tetapi masih lengkap 
dengan tulang-belulangnya. Begitu juga yang disebut sop kaki kambing 
di Jakarta sebetulnya justru mengandung banyak bagian kepala kambing, 
seperti: mata, lidah, dan pipi.

Di Jombang, penjual sate dan gule kambing Ringin Contong sengaja 
memajang beberapa glundung kepala kambing utuh di atas kuali gulenya 
sebagai daya tarik. Pelanggan yang berminat bisa memesan kepala itu 
untuk "dibantai" dan disajikan sebagai gule kepala kambing. Ternyata, 
setiap hari selalu ada pelanggan yang memesan agar kepala kambing 
utuh disisakan untuk mereka.

Di Desa Mengoro, Tembarak, sedikit di luar Kota Temanggung, ada 
penjual brongkos kepala kambing yang sangat terkenal. Sebetulnya, 
Warung Makan "Punjung Jiwo" milik Pak Pujo ini sebelumnya sudah 
terkenal dengan sajian brongkos kikil kambing. Tetapi, setelah 
memerkenalkan menu baru, warung makan ini menjadi semakin laris-
manis. Tidak jauh dari tempat Pak Pujo, ada pula penjual brongkos 
lainnya yang setia menyediakan hanya brongkos kikil kambing.

Brongkos adalah masakan khas Yogyakarta, yaitu gule kental dengan 
kluwek. Kalau grombyang di Pemalang merupakan bastar antara soto dan 
rawon, maka brongkos adalah persilangan antara gule dan rawon. Karena 
kekentalannya, brongkos terasa lebih nendang. Seringkali brongkos – 
kebanyakan dibuat dari daging sapi dan koyornya – juga diberi kacang 
merah, sehingga memberi tekstur yang sangat khas.

Di "Punjung Jiwo", bagian-bagian kepala kambing disajikan dengan 
tulang-tulangnya. Otak dibungkus tersendiri di dalam daun pisang. 
Sekalipun masakannya gurih dan dagingnya empuk, tetapi aroma 
kambingnya masih cukup kentara menghampiri hidung. Karena itu, di 
warung ini saya justru lebih menyukai brongkos kikil kambingnya.

Yang paling mengerikan adalah cara menyajikan sop kambing di Jalan 
Tapanuli, Medan. Kepala kambingnya dimasak utuh dalam kuah sop, 
termasuk otaknya masih di dalam rongga kepala. Setelah matang, kepala 
kambing dikeluarkan dari kuah dan di-display di atas piring-piring 
besar. Pelanggan memilih kepala kambing yang disukainya, lalu 
dipanaskan lagi di dalam kuah sop, dan disajikan utuh sak glundung 
dalam piring.

Ya, saya akui, saya pun pernah mencicipinya. Tetapi, Anda tidak perlu 
bertanya apakah saya ingin mengulangi pengalaman itu. Entahlah, kok 
rasanya saya jadi sangat barbarian ketika melakukannya. Horor banget 
rasanya!

Bondan Winarno 




Kirim email ke