Saya juga punya pengalaman yang sama, dulu sewaktu ngurus passport di
Surabaya, sewaktu saya tanya kapan bisa diambil, malah dijawab dengan
enteng dan senyum2 bermaksut gitu... dan jawaban mereka " terserah mbak
mau selesai kapan, kita sih bisa kapan aja, bisa hari ini, bisa besok
bahkan bisa tahun depan... tergantung...." (duh,nyebelin banget deh)
kelihatan banget minta duitnya. 

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, November 14, 2008 9:55 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [bango-mania] Kantor IMMIGRASI Jakarta Barat: "Preman"
Berdasi?

 

Dear All,

Memang pengertian "Preman" terlihat begitu sempit, saya tak habis pikir
ketika kemaren berkunjung ke pameran komputer di Senayan, maka untuk
parkir saya diminta Rp 5.000- ( padahal untuk masuk hanya bayar Rp
3.000,- jadi tarif liar sudah mengalahkan tarif resmi. Saya mencoba
menolak, dengan mengatakan : "Mas tidak takut kena razia preman, karena
bagi saya ini sudah pemerasan juga sifatnya ". Dengan tenangnya ia
menjawab" Ah emang ini kan sudah biasa, saya kan mesti setor juga ,
setorannya naik nih pak !". 
Mungkin sekali preman penerima setoran, bukan preman yang berkeringat di
lapangan, bisa saja ia adalah oknum berdasi juga, yang menguasai Gelora
Senayan dan sekitarnya.
Mestinya yang sifatnya semacam pemerasan begitu, jangan dibiarkan dong
pak Polisi!.  
Anehnya , dulu di gelora senayan itu masuknya pake parkir jam jaman,
sekarang cuma Rp 3000,- saya pikir alangkah bijakanya pemda dki dan
pengelola gelora senayan, rupanya tetap saja mahalnya, karena didalam
kita ditotok Rp. 5.000,-  Mungkin dianggap semua pemakai mobil adalah
orang kaya raya semua!.

Wassalam

HH

 

  _____  

From: Berthy B Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[email protected]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; pineleng
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, November 13, 2008 11:41:16 PM
Subject: [bango-mania] Kantor IMMIGRASI Jakarta Barat: "Preman" Berdasi?


Dear All,

 

Kalimat sarkastik ini tampaknya belum punah di jiwa sebagian
penyelenggara birokrasi kita: "KALAU BISA DIPERSULIT, MENGAPA
DIPERMUDAH!? !? KALAU DIPERLAMA, MENGAPA MESTI DIPERCEPAT (URUSAN
WARGA-NEGARA) ??? Dst. Karikatur GM Sudharta, di harian KOMPAS, Selasa,
11 November, sesuai dengan kejadian di Kantor Immigrasi Jakarta-Barat. 

 

Pengalaman tak menyenangkan harus saya terima ketika mengurus passport
di Kantor Immigarasi JAKARTA BARAT dalam PROSES MENGURUS PASSPORT. 

 

Kronologinya: hari Senin, 3 November 2008, saya mengantar adik ipar
sekeluarga yang mengurus passpor lewat Biro Jasa (jadi hanya datang
foto). Dibantu kantor sosial, saya bertekad mengurus sendiri TANPA Biro
Jasa. Bertambah semangat juga, karena tertarik "biaya resmi" yang
tercantum TERANG dan RINCI di depan Kantor Immigrasi Jakarta Barat.

 

Pada hari pertama itu, saya menyerahkan semua item berkas berkas copy-an
yang diminta SECARA LENGKAP (tidak kurang). Saya menunggu kurang lebih
dari jam 08.30 hingga jam 13.30, hanya untuk mendapatkan TANDA TERIMA
(dengan CATATAN (TERTULIS), bahwa Rabu, jam 13.20, kembali lagi untuk
pengambilan foto-diri dan sidik jari, serta wawancara, didahului dengan
PEMBAYARAN-PELUNASA N total biaya sebesar Rp.270.000,- Saya mendapatkan
tanda pembayaran untuk ditunjukkan waktu foto dan pengambilan sidik jari
serta wawancara. Setelah diwawancarai sore itu, SECARA LISAN seorang ibu
yang cukup ramah mengatakan silahkan datang kembali hari Jumat, 7
November. Saya tanya jam pengambilan, dan meminta datang sorean (karna
saya datang jam hampir jam 15.00). Kepada ibu yang ramah itu, saya
mengatakan: "Saya akan datang Senen saja untuk mengambil passportnya" .
Ia mengiayakan. 

 

Hari yang tidak mengenakkan itu akhirnya tiba. Tidak jadi datang hari
Senin, 10 November, saya baru datang hari Selasa, 11 November. Setelah
dua kali salah ruangan, saya datang ke tempat PENGAMBILAN PASSPORT.
Setiba di situ, katanya data saya belum beres. Saya kembali menanyakan
ibu pewawancara itu, yang kemudian mengantar saya ke tempat pengambilan
passport (tentu dengan mengganggu klien yang antri). Sambil menunggu di
ruang yang lain, saya menanyakan berapa lama saya harus menunggu, karena
saya akan rapat pada jam 11.00 di Jakarta Selatan.

 

Pegawai yang tampak membawa berkas passport saya, kemudian mendekati
saya sambil mengatakan: "Pak, bisa dibereskan hari ini, asal
mengertilah. ..". Terpancing emosi saya mendengar perkataan orang
berkaca-mata yang berkumis itu. "Mengerti maksudnya apa?" tanyaku dengan
nada kesel. Akhirnya, pegawai yang saya baca bernama Dudung, MM itu
kemudian tampak kelabakan dan menuju ruang lain, katanya untuk
ditanda-tangani atasannya. Suasana sama-sekali sudah tidak mengenakkan,
ditambah saya harus mengejar waktu ke Jakarta Selatan. Saya meminta Pak
Dudung, MM itu untuk mengembalikan tanda-terima saya, sekaligus saya
meminta SECARA TERTULIS menulis HARI, JAM dan NAMA-nya, di atas
tanda-pembayaran (pelunasan) dengan setengah mendikte. Pak Dudung, MM
menulis nama dengan samar "Sugeng"

 

Saya baru mengambil passport Kamis, 13 November, jam 11.30. Pegawai di
loket pengambilan passport yang menyerahkan passport. Pak Dudung, MM,
yang menulis namanya dengan samar "sugeng", hari ini menggunakan nama
"ARDANI". Luar biasa: Dudung, MM, alias Sugeng, alias ARDANI.

 

Saya berpikir apa perlu mengirim SMS ke nomor pengaduan 08888300303,
yang dicantumkan di depan loket. Karena, keseluruhan pelayanan HANYA
TAMPAK TRANSPARAN. Tapi, sesungguhnya, dalam keseluruhannya praktik
birokrasi kantor Immiggrasi Jakarta Barat itu telah nyata sebagai sebuah
praktek yang GELAP, MAHAL dan LAMA. Semuanya hanya TERANG kalau secara
TERANG-TERANGAN MEMBAYAR DI ATAS HARGA YANG DITENTUKAN. SEMAKIN
MELAMBUNG MEMBAYARNYA, SEMAKIN SINGKAT JALANNYA. Waktu hanya sebuah daya
tawar. 

 

Kasihan saya pada ARDANI alias Sugeng, alias Dudung, tapi LEBIH KASIHAN
pada RAKYAT lain yang PUNYA KETERBATASAN dalam segala aspeknya.

 

wassalam,

ex toto corde,

Berthy B Rahawarin

[EMAIL PROTECTED] com <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 

 

Untuk sesuatu yang kuyakini sebagai benar, kuuji berulang-kali sampai
kebenaran itu kuanggap tetap perlu diuji.

(Oleh, Anak Ayahku yang bukan Saudaraku)

 

 

 

Kirim email ke