Ada Nikmat di Balik Kerasnya Cangkang Rajungan



Tentu
bila pernah menikmati menu seafood ini pasti ketagihan, rasanya makan
rajungan tak akan berhenti bila piring berisi rajungan belum licin
tandas. Daging rajungan yang tersembunyi di balik kerasnya cangkang
binatang yang berkelana di laut itu sungguh lezat di lidah. Gurih,
empuk, dan uenak tenan!

SURYA
| Nama latinnya Portunus Pelagicus. Jenis kepiting ini bukan saja
sebagai sumber makanan, namun juga kaya kandungan gizi. Bahkan
kandungan protein rajungan lebih tinggi daripada kepiting. Antara lain 
karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, dan vitamin B1.

Yang
menggembirakan bagi penikmat makanan yang membatasi konsumsi pangan
berlemak tinggi, juga ada di dalam daging rajungan, karena kandungan
lemak rajungan sangat rendah. Pun sama halnya dengan kandungan
kolestrol.

Jadi, itulah yang saya lakukan ketika menikmati cuaca
mendung namun hawa terasa panas di tepi sebuah pantai di Desa Paciran
Lamongan. Udara yang tidak membuat saya dan beberapa rekan mulai gerah,
namun menu rajungan bumbu kare itulah yang membuat kami kegerahan.

Aromanya
langsung menyerbu hidung begitu tiga porsi rajungan dihidangkan.
Lengkap dengan kuah kare dan sambal kecap yang sengaja dipisahkan dari
rajungan yang sengaja dibiarkan utuh. Posisi ini tentu membuat kami
bebas menemukan rajungan besar berdaging empuk. Plus menyendokkan kuah
kare dan menambahkan bersendok-sendok sambal kecap ke atas nasi putih
nan pulen. Ah…masih ada kerupuk sebagai teman bersantap.

“Tambah
nasi, tambah lagi rajungannya,” ujar seorang teman, yang sudah
menyantap lebih dari tiga ekor rajungan kepada Pak an. Pak Man, sang
penjaja yang siang itu melayani kami, sigap kembali memasak rajungan.
Sungguh baik hati. Rajungan yang sudah dibelah menjadi dua di periuk
bumbu kare yang nyaris habis itu kembali dimasuki rajungan.

“Ayo masih banyak, tambah lagi,” katanya. Siapa takut Pak Man?
Kata Pak Man, konon air
rebusan rajungan yang sudah dibumbui kare ini mampu sebagai zat efektif
untuk menyerap zat-zat yang tidak diinginkan oleh tubuh. Ah… yang benar
saja Pak Man?

Gelontor dengan Legen
Usai
makan rajungan, jangan dulu beranjak. Sebuah bambu seukuran lengan
orang dewasa berisi sadapan air kelapa yang biasa dikenal legen, siap
mengusir dahaga. Air yang disadap dari buah siwalan itu tanpa dicampur gula 
sudah cukup manis dan nikmat.

“Ini sekaligus penawar bila alergi terhadap rajungan,” ujar Pak Man, 
menyodorkan gelas berisi air legen. Bagi yang belum pernah minun air
legen memang terasa asing saat pertama kali minum, namun justru rasanya
yang seperti ada semut dan sedikit asam itu, sangat pas sekali menemani
menu rajungan di tepi pantai. Mantap tenan rek!

Untung ada Jumpreg
Sebetulnya
selain rajungan dan legen, sembari menunggu racikan rajungan siap
disantap, cobalah mencicipi jumpreg. Apa pula itu? Jumpreg adalah
makanan khas dari Lamongan.

Jumpreg dibuat dari tepung teringu yang diuleni sedemikian rupa (dengan sedikit 
gula dan air
matang) lalu dibungkus rapi dalam janur kelapa dan dikukus matang.
Rasanya? Hmm… kenyal dan cukup untuk menahan rasa lapar sembari menanti
rajungan dihidangkan. Jangan isi perut kosong Anda dengan jumpreg
terlalu banyak. Cukup satu saja. Bukan karena apa, tetapi sisakan ruang
untuk rajungan. Rasanya ingin kembali menyantap rajungan Pak Man ini. (wiwit 
purwanto)

Sumber: Harian SURYA, Minggu, 15 Maret 2009
Baca juga di: Blog Bango Mania

Kunjungi juga FB-nya



      

Kirim email ke