Menikmati Soto di Festival Makanan Kampoeng Tempo Doeloe

Jum'at, 22 Mei 2009 | 09:52 WIB



TEMPO Interaktif, Jakarta: "Bumbunya medok (berasa), nih," ujar Grace sembari 
bersantap. Karyawati sebuah bank swasta itu menggoda temannya agar mau 
mencicipi menu soto Betawi pilihannya. Tak mau kalah, temannya yang memilih 
soto Medan balik menawari, "Kamu juga mesti coba ini. Meskipun daging udang 
galah menu ini cuma secuil, lumayan enak."

Tak peduli lalu lalang orang di depan La Piazza-Mal Kelapa Gading, Jakarta 
Utara, dua sohib itu asyik bersantap. Sehabis bertemu klien, Grace mengajak 
menjajal menu soto di ajang Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) 2009. Dara 
berkulit bersih itu memang doyan soto Betawi. "Yang paling enak di Lippo 
Karawaci," ucapnya tersenyum kepada Tempo yang kebetulan satu meja dengannya.

Menempati dekat Fashion Village, festival makanan Kampoeng Tempo Doeloe yang 
berlangsung 14-24 Mei ini menghadirkan aneka menu dan djadjanan tempo doeloe. 
Dari rujak beubeuk, es goyang, tahu gejrot, kue serabi Solo, kerak telur, 
hingga kue putu Medan. Dan Aneka Soto Noesantara menjadi ikon yang menarik.

Saban hari, festival kuliner yang buka pada 16.00-21.00 WIB ini diserbu 
seribuan lebih orang. Seperti pengamatan Tempo, Rabu lalu, selepas magrib, 
cukup sulit mencari kursi kosong. Tua-muda, pria-wanita, dan anak-anak tumplek 
blek.

Soto, sroto, atau coto memang masakan khas Indonesia yang terbuat dari daging 
dan sayuran. Tiap daerah memiliki jenis soto sendiri. Yang pasti, beda jenis, 
beda penyajian. Soto bisa dihidangkan dengan berbagai macam lauk dan dengan 
tambahan, seperti telur pindang, sate kerang, udang, jeruk limau, dan koya 
(campuran tumpukan kerupuk dengan bawang putih).

Soto sering ditemani nasi. Sebagian soto dihidangkan terpisah dengan nasi, 
seperti soto Betawi dan soto Padang. Tapi ada pula bersama atau dicampur, 
misalnya, Soto Kudus. Di lokasi JF3 ada tujuh anjungan soto, yakni soto Betawi, 
soto Ambengan, soto Padang, soto Cirebon, soto Medan, soto Madura, dan soto 
Kudus.

Walaupun dalam wadah mangkuk plastik, soto Ambengan yang saya pilih mengepulkan 
aroma menggoda. Bisa diandalkan buat menumpas hawa dingin sore yang diselimuti 
mendung tebal. Soto yang berasal dari daerah Ambengan, Surabaya, ini satu menu 
khas Jawa Timur yang menggiurkan. Topping koya menjadi daya tarik utama.

Bumbunya campuran rempah-rempah, jahe, kunyit, serta bawang merah dan putih. 
Isinya adalah soto ayam, bihun, kol, hati-ampela, dan tanpa santan. Racikan itu 
di mulut cukup lezat sehingga lidah seperti menari-nari. Termasuk potongan 
telur muda yang terasa beda dengan telur biasanya.

Menurut Casmono, koki soto Ambengan, tiap porsi berisi tiga telur muda. Inilah 
telur yang belum keluar dari tubuh si ayam. "Susah memperolehnya karena ayam 
petelur yang disembelih belum tentu punya. Satu kilogram Rp 25 ribu," kata 
Casmono menunjuk tumpukan butir-butir telur belum jadi yang berwarna kuning.

Ingin sensasi berbeda, cobalah soto Padang. Soto yang digawangi dari Sate 
Mak'Syukur, Jakarta, ini sajiannya dari daging dendeng yang digoreng garing, 
sayuran, dan sambal yang terpisah. Paduan renyah dendeng dan bumbu khasnya 
menawarkan kelezatan bumi Sumatera.

Banyak yang menyangka soto Padang memiliki kuah bersantan, padahal soto ini 
menggunakan kuah kaldu ayam yang bening. Ciri khas soto ini adalah kerupuk sagu 
merah dan perkedel kentang yang dicelupkan ke dalam kuah soto.

Berikutnya, soto Madura yang menyajikan daging campur, soto Cirebon yang 
mengandalkan empal gentong dan lontong, serta soto Medan yang didominasi udang 
galah dan daging ayam.

Adapun soto Betawi punya kekhasan berupa kuah santannya. Selain daging dan 
kentang goreng, soto andalan Jakarta ini memuat tomat untuk sensasi segar yang 
mengimbangi "berat"-nya kuah santan. Sedikit wangi kayu manis ikut menyegarkan 
aromanya.

H. Abdul Manaf dari bilik Soto Betawi Si Babeh menuturkan, sotonya laris manis 
di JF3. Inilah kali pertama dia diajak ikut sejak membuka warung soto pada 
1998. "Tiap malam rata-rata terjual 150 porsi," kata Babeh dengan mimik cerah. 
Padahal, lebih mahal Rp 5.000 dari porsi yang ditawarkan di warungnya.

Selisih Rp 2-5 ribu dari biasanya ternyata bisa dimaklumi. Namanya juga 
festival. Dengan rasa yang terjaga dan istimewa bersama sajian jajanan lain, 
harga sepaket soto antara Rp 17 ribu dan Rp 27 ribu berikut teh botol cukup 
terjangkau.

Meskipun sajian jajanan JF3 2009 menarik selera, mestinya panitia bisa lebih 
merancang lokasi yang lebih luas, sehingga pengunjung nyaman tanpa berjubel dan 
mengantre. "Kurang nyaman. Sesak," kata seorang bapak mengkritik panitia. Dwi 
Arjanto.

Segenap Penjuru

Tak sulit mencari soto di Jakarta dan kota lainnya. Dari soto Betawi, Padang, 
Ambengan, Kudus, hingga coto Makassar. Sejumlah restoran yang mengandalkan menu 
ini juga sudah bertebaran dan bahkan menjadi usaha sistem franchise, seperti 
soto Bangkong. Anda yang tak sempat menjajal menu soto karena JF3 berakhir Ahad 
lusa bisa menyambangi tempat ini:


Soto Ambengan (khas Surabaya)
Jalan Danau Sunter Utara R12/33, Kelapa Gading, Jakarta.

Soto Padang Mak'Syukur (khas Padang) dari Sate Mak Syukur
-Jalan Kalibata Tengah XVII A No. 14, Warung Buncit, Jakarta.
-Outlet: Mal Kelapa Gading 3, Pasaraya Blok M, Pasaraya Manggarai, Roxy Square, 
dan lainnya.

Soto Si Babeh (khas Betawi)
-Jalan Puan Raya, Kelapa Gading, Jakarta (depan kantor Polsek Kelapa Gading).

http://www.tempointeraktif.com/hg/kuliner/2009/05/22/brk,20090522-177554,id.html

Please add my Facebook: 
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia

Kirim email ke