Laksa Pengantin dan Bubur Ase JAKARTA | Meski sudah lama menetap di Jakarta, barangkali masih banyak orang yang belum mengenal makanan tradisional Betawi. Seperti makanan tradisional pada umumnya, makanan asli Jakarta ini juga sudah tergusur modernisasi. Dulu, sekitar tahun 1970 dan 1980, mereka yang tinggal di Jakarta masih mudah menemukan makanan tradisional, seperti laksa pengantin, kerak telur, bubur ase, dan selendang mayang. Makanan tradisional itu banyak dijual di pasar, pedagang keliling, atau rumah makan. Sekarang, makanan khas Betawi itu hanya bisa ditemui bila ada kegiatan khusus semacam Pekan Raya Jakarta atau bila ada acara pernikahan menggunakan adat Betawi. Bagi Anda yang ingin tahu seperti apa kuliner Betawi, tidak ada salahnya mampir ke arena Gambir Expo yang dulu bernama Pasar Gambir di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Di situ ada kedai khusus yang hanya menjual berbagai makanan dan minuman khas Betawi. Menjelang malam hari, kedai itu dipenuhi pengunjung. Titin (50), penjual bubur ase dan laksa pengantin, sibuk melayani pesanan pengunjung. ”Kebanyakan mereka memesan bubur ase dan laksa pengantin,” kata Titin. Terdorong penasaran, kami pun ikut memesan bubur ase dan laksa pengantin. Bubur ase ternyata asinan yang dicampur dengan bubur. Sebelum dihidangkan, bubur disiram dengan kuah semur kentang dan daging. Sayuran yang digunakan dalam asinan terdiri dari taoge mentah, mentimun, ikan teri asin, kacang kedelai, lobak putih, dan kucai. Rasa bubur ase ini manis, asam, dan asin. Menu lain yang dicari pembeli adalah laksa pengantin. Disebut laksa pengantin karena masakan ini merupakan bagian dari rangkaian upacara pernikahan adat Betawi. Tiga hari setelah menikah, mempelai perempuan diboyong ke rumah pengantin laki-laki yang lalu mengadakan pesta dengan hidangan laksa. Laksa pengantin isinya lontong, taoge, kemangi, kentang, telur, sawi asin, mentimun, bihun, dan ayam rebus yang diiris kecil-kecil. Kuahnya adalah kuah kari. Sebelum disajikan, biasanya ditaburi bawang merah goreng dan kerupuk. Kami juga mencoba minuman khas Betawi, yakni bir pletok. Meski namanya bir, minuman ini tidak beralkohol. Bir pletok dibuat dari 12 bahan rempah, antara lain jahe merah, jahe putih, cengkeh, pala, cabai jawa (cabai yang bentuknya seperti daun cemara), kayu secang, dan kapulaga. Bir ini warnanya merah karena kayu secang. Menurut Nanik Arsyad (43), yang mewarisi resep bir pletok ini dari ayahnya, ketika direbus kapulaganya merekah dan berbunyi ”pletok”. Setelah semua bahan direbus, lalu disaring agar jernih. Sehari-hari, bila tidak ada acara PRJ, Nanik hanya menerima pesanan bir pletok di rumahnya di Jatibening, Jakarta Timur. Selain memproduksi bir pletok, Nanik juga menerima pesanan berbagai makanan tradisional Betawi. (IND) Sumber: KOMPAS Foto: detikfoto Klik dan mampir ke http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org
