Kl yg saya pernah nanya, ke salah satu soto gubrak di jaktim (bener ga ya itu 
jaktim?) Katanya dulu dia sering mecahin botol dan tangannya sudah sampai bosen 
luka. Yg pasti sudut jatuhnya botol sgt menentukan. Salah sudut dan elevasi 
(wuih berat !) Bisa2 berabe boss, potong gaji ama Babeh !  Jd kata siapa 
sekolah dan ilmu fisika itu ga penting ! 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Abdur Rohman <[email protected]>

Date: Wed, 2 Sep 2009 23:34:46 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang?


Anehnya, itu botol kecap kok gak pecah ya...?! Padalah kan berulang kali 
dihantamkan ke meja untuk membuat bebunyian "DOK!" atau "BRAK!"-nya agar 
menarik perhatian pengunjung.

--- On Fri, 9/4/09, mediacare <[email protected]> wrote:

From: mediacare <[email protected]>
Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang?
To: [email protected]
Date: Friday, September 4, 2009, 2:44 AM






 




    
                  


Kalau di Jakarta, disebut Soto Gebrak.
 
Penjual menaruh botol kecapnya dengan kencang. Maka 
berbunyi: "Gebrak'
 
Kagetlah para pengunjung.. .
 
 
 

  ----- Original Message ----- 
  From: 
  Abdur 
  Rohman 
  To: bango-mania@ yahoogroups. com 
  
  Sent: Wednesday, September 02, 2009 9:24 
  PM
  Subject: [bango-mania] Soto Dok, Makanan 
  Khas Jombang?
  
  
  
  
  
    
    
      
        Soto 
        Dok, Makanan Khas Jombang? 
DULU ada seorang kawan yang ketika akan ikut mudik ke 
        Jombang, hal pertama yang dipertanyakannya adalah makanan apa yang enak 
        dan khas di Jombang? Pertanyaan yang kelihatan sederhana tetapi sulit 
        bagi saya untuk bisa menjawabnya dengan segera. Bagi saya butuh 
        hastabrata sebelum melakukan “penerawangan” dengan metode mutakhir 
untuk 
        dapat menemukan literatur-literatur makanan enak dan khas di 
        Jombang.

Bagaimana tidak, sebagai anak kost selepas SMP tahun 
        1993 lalu, bagi saya ada makanan yang bisa dimakan saja sudah sebuah 
        karunia yang luar biasa enaknya. Ini malah membedakan makanan itu enak 
        atau tidak enak. Bagai mengurai simpul-simpul benang kusut.

Di 
        Jombang, meskipun tak ada rumah makan atau restaurant sekelas KFC, McD, 
        atau HC seperti di dekat Air Mancur yang ada di Bogor dan kota-kota 
        besar lainnya, namun bukan berarti di Jombang tak ada makanan-makanan 
        enak. Di Jombang banyak sekali jenis-jenis makanan yang menggugah 
selera 
        seperti halnya di kota-kota lain. Persoalannya, makanan apa yang khas 
        yang sekaligus bisa menunjukkan “identitas nJombang”, itu yang membuat 
        saya tambah bingung lagi.

Ada Nasi Pecel tetapi masih kalah tenar 
        dengan Pecel Madiun meskipun penjual Nasi Pecel di Jombang jumlahnya 
        seabrek dari kelas emperan sampai kelas depot atau cafe. Bahkan mata 
        belum melek beneran atau pagi-pagi buta kita akan mudah mendapatkan 
Nasi 
        Pecel. Kaum ibu dan si mbok-mbok dengan sepeda onthel banyak yang 
        menjajakan Nasi Pecel ke kompleks-kompleks perumahan, tempat kost dan 
        ngetem di beberapa ruas jalan. Di Jombang penjual Nasi Pecel banyak 
yang 
        ngetem di perempatan Jalan Wahid Hasyim persis dekat Rumah Sakit Umum 
        Daerah. Sedangkan yang tempat berjualannya permanen yang paling enak 
        menurut lidah saya ada di Depot Giri Jaya di Jalan Merdeka. Lauknya 
        cukup komplet dan kebersihannya cukup terjamin.

“Kring kring 
        kring, cel pecel, pecele Mas!” Itu kata-kata yang sering saya dengar 
        dulu dari ibu-ibu dan si mbok-mbok penjual Nasi Pecel keliling setiap 
        pagi dengan sepeda onthelnya ketika melintas di depan asrama pondokan 
        saya.

Lalu di Jombang juga ada Soto, tetapi masih kalah 
        meng-Indonesia dengan Soto Lamongan meskipun di Jombang ada Soto Pak 
        Loso yang menurut lidah saya lebih enak dari pada Soto Lamongan yang 
ada 
        di kawasan Lingkar Kampus Darmaga Bogor yang rasanya gak ngalor gak 
        ngidul itu.

Berikutnya Sate. Di Jombang dulu ada Sate Ringin 
        Contong, sebab berjualannya di sekitar Ringin Contong. Kemudian juga 
        Sate H. Faqih di kawasan Pesantren Tebu Ireng, di seberang PG Tjoekir 
        yang pernah diulas oleh Raja Wisata Kuliner, Bondan Winarno. Namun 
kedua 
        jenis sate tersebut masih kalah mendunia dengan Sate Madura. Terkait 
        dengan Sate Madura ini, dulu ada guyonan kawan sekamar asrama pondok 
        yang asli Sumenep Madura. Mengapa pesawat jarang terbang ke Madura? 
        Jawabnya, sebab kalau terbang ke Madura, pesawat sering terjebak asap 
di 
        udara Madura karena penjual Sate Madura sedang membakar sate! Ini 
saking 
        banyaknya penjual sate di Madura.

Makanan berikutnya adalah 
        Bakso. Bakso masih kalah tenar dengan aneka Bakso Malang (di Jombang 
ada 
        Bakso Bakar Malang dan Bakso Cak Man Malang) atau Bakso Solo. Namun di 
        Jombang sebenarnya ada bakso yang sangat terkenal dan cukup legendaris 
        (setidaknya saya mengenalnya dan sering mencicipinya sejak saya 
        kanak-kanak) , yaitu Bakso Nuklir yang “digawangi” Haji Sumarto 
        alias Cak To Nuklir yang berada persis di seberang RSK atau Rumah Sakit 
        Kristen Mojowarno. Dulu ketika saya masih SD (1984-1990), saya sering 
        mendengar promosi Bakso Nuklir lewat Radio Khusus Pemerintah Daerah 
        (RKPD) Jombang. Disebut Bakso Nuklir sebab baksonya memang ukurannya 
        jumbo dan rasanya tak sekadar “nendang” tetapi “meledak” dahsyat, 
        sedahsyat letusan bom nuklir.

Selanjutnya ada Sego Sadhukan. Ini 
        mungkin khas Jombang, tetapi kayaknya tak etis menjamu tamu jauh dengan 
        Sego Sadhukan atau kalau di kawasan Malioboro Ngayogjakarta Hadiningrat 
        disebut sebagai Nasi Kucing. Makan Sego Sadhukan bisa menjadi 
alternatif 
        jika memang kantong benar-benar kering dan perut benar-benar 
        keroncongan.

Sego Sadhukan adalah nasi bungkus yang isinya 
        sekepal nasi, ada mie, lauk tahu-tempe diiris kecil-kecil, dan 
        kadang-kadang ada ikan terinya. Sadhukan artinya tendangan, mungkin 
        karena porsinya yang minimalize itulah dinamakan Sego Sadhukan, sekali 
        tendang langsung bisa mencelat jauh atau sekali santap langsung habis. 
        Dulu di kawasan Simpang Tiga atau Pertigaan Tugu Adipura dan juga 
        sekitar Stasiun dan Alun-alun kalau malam hari Sego Sadhukan mudah 
        didapatkan. Karena harganya murah maka sangat cocok bagi anak kost yang 
        uangnya pas-pasan.

Then, the next badhokan di Jombang yang sempat 
        saya ingat dan mungkin paling enak dan unik adalah makanan yang di masa 
        kecil sering saya santap, yaitu Soto Dok. Ya, Soto Dok ini tak jauh 
beda 
        dengan makanan sejenis soto lainnya, bahan dasarnya tetap dari daging. 
        Namun sepertinya ada bahan tambahan atau racikan yang agak beda dengan 
        soto lainnya. Soto Dok rasanya lebih “seksi” sebab kuahnya tak terlalu 
        mblenek seperti jenis soto lainnya. Dan yang tak pernah terlupakan, ada 
        taogenya yang menjadi “aksesoris” Soto Dok dan mungkin ini membuat beda 
        dengan soto lainnya.

Dinamakan Soto Dok karena penjualnya 
        melayani pembeli dengan cara yang unik yaitu setelah menuang kecap dari 
        botol ke dalam mangkuk langsung meletakkan kembali botol kecap dengan 
        cara yang keras seperti menggebrak atau membanting botol kecap ke meja 
        hingga menimbuklan bunyi: DOK! Pembeli pemula atau yang tak biasa tentu 
        akan kaget dan mengira penjualnya kasar.

Dulu, ketika masih kecil 
        saya seringkali diajak orang tua ke Pasar Lama Mojoagung, pasar di 
        kampungnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (sekarang sudah dipindah 1 km ke 
        arah barat). Di pasar itulah saya seringkali diajak andok menikmati 
Soto 
        Dok. Seingat saya, stand atau tempat berjualannya permanen di 
        tengah-tengah pasar. Penataannya, kursi panjang mengelilingi meja 
        panjang dan lebar yang di atas meja ditaruh berbagai abrakan atau 
        perkakas termasuk panci penjerang kuah, tempat nasi dan lainnya. 
        Bentuknya tetap mirip penjual soto keliling yang dipikul, apalagi 
        pikulan atau alat pemikul masih ditata sedemikian rupa di atas meja. 
        Bentuk pikulan-nya yang terbuat dari bambu dan berhias rotan melengkung 
        dan memanjang, terkesan mirip sekali lengkungan atap Rumah 
        Minang.

Selain itu, di sepanjang Jalan Wahid Hasyim kawasan 
        Jombang kota dulu juga banyak penjual Soto Dok, biasanya menjelang 
        petang penjual Soto Dok kaki lima mulai menggelar dagangannya. Apalagi 
        di Pujasera atau Kebonrojo, dulu banyak juga yang penjual Soto Dok. 
        Kebetulan selama hampir dua tahun, tahun 1993-1995, saya indekost di 
        seberang Pujasera, tepatnya di dekat pintu gerbang sebelah utara 
        Pujasera. Jadi dulu setidaknya tahu persis jenis makanan yang dijual di 
        situ, terutama jenis makanan yang murah!

Demikian juga, dulu di 
        Jalan Pattimura tepat di seberang SMP Negeri I Jombang atau SMK Negeri 
3 
        (dulu STM Negeri Jombang), juga ada penjual Soto Dok yang buka tenda 
        setelah maghrib, yang harganya ketika tahun 1995-1996 Rp. 400,- plus Es 
        Teh Rp. 150,-. Cukup terjangkau, apalagi Jalan Pattimura merupakan 
salah 
        satu kawasan sekolah yang ramai dan padat, jadi banyak pelanggan dari 
        anak sekolah yang indekost di sekitar situ.

Beberapa waktu yang 
        lalu, saya juga mendapati penjual Soto Dok di Jakarta, iseng-iseng 
tanya 
        ke penjualnya, ternyata penjualnya orang Jombang juga, tapi saya lupa 
        Jombang mana dia berasal. Sementara di Kota Surabaya juga banyak 
penjual 
        Soto Dok meskipun yang jualan bukan orang Jombang.


Nah, 
        beberapa waktu yang lalu ada grenengan yang saya dengar, kalau Soto Dok 
        ini akan ditetapkan menjadi makanan khas Jombang. Bahkan Bupati 
Jombang, 
        dengar-dengar mau membuat Perdanya, disamping Perda Ludruk (bukan 
Ludruk 
        Perda) sebagai upaya untuk melestarikan kesenian Ludruk yang memang 
        cikal bakalnya dari Jombang. Saya kurang begitu jelas Perda tentang 
Soto 
        Dok nanti seperti apa, dan pelaksanaannya nanti bagiamana, namanya juga 
        masih grenengan.

Namun yang jelas tujuan seperti itu sangat baik 
        untuk memperkenalkan salah satu jenis kuliner Jombang untuk lebih 
        mengindonesia. Mungkin juga dari Soto Dok ini bisa mencari “identitas 
        nJombang” yang selama ini masih remeng-remeng. “Pengakuan” atas Soto 
Dok 
        sebagai makanan khas Jombang setidaknya akan mendukung wisata Jombang 
        dan terutama secara ekonomi, akan mampu meningkatkan perekonomian warga 
        Jombang, setidaknya bagi penjual Soto Dok dan petani-peternak. Lho, kok 
        petani-peternak? Ya, sebab yang dijual adalah nasi dan bahan dasar 
utama 
        Soto Dok adalah daging, jadi jangan dilupakan 
        petani-peternaknya!

Sumber: http://pencangkul. blogspot. com
Kunjungi 
        selalu http://bango- mania.blogspot. com


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke