Tradisi Ramadhan Pesta Kolak Ayam Masjid Goemeno Gresik



PENYEBARAN
agama Islam sejak puluhan abad silam ke negeri kita tidak melulu
membawa kepercayaan, ritual dan amalan keagamaan, melainkan pula
memberi jiwa, corak dan warna pada kebudayaan bangsa kita. Tatkala
Islam berkembang di tanah air, ia sedari awal tidak serta merta secara
apriori menolak kebudayaan lokal masyarakat yang telah berkembang
sebelumnya. Karenanya kehidupan umat Islam dimanapun senantiasa
mengandung aspek globalitas dan aspek lokalitas sekaligus.

Apabila
kita cermati, para penyebar agama Islam di negeri ini dalam rentang
sejarah perkembangannya memiliki kearifan luar biasa. Mereka mempunyai
kesadaran budaya yang sangat tinggi. Budaya dan adat istiadat
masyarakat setempat yang mereka temui tidak begitu saja ditentang dan
dibuang. Bahkan mereka mampu mendorong terjadinya akulturasi budaya
yang melahirkan kebudayaan rakyat (Indonesia) bernafaskan Islam yang
khas. Kekhasan itu akan nampak pada keragaman ekspresi budaya dalam
bentuk tradisi-tradisi masyarakat yang telah berurat-berakar sejak dulu
kala dan lestari hingga kini.

Salah satu contohnya yakni tradisi
pesta kolak ayam di Masjid Goemeno yang terletak di Desa Gumeno
Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik Jawa Timur. Penggambaran mengenai
tradisi ini saya kutip dan ringkas kembali dari Buku Grissee Tempo
Doeloe, Penerbit Pemda Kabupaten Gresik Tahun 2004. Selamat membaca.

Acara
Pesta Kolak Ayam di Masjid Goemeno Gresik bernuansa religi diadakan
pada setiap tanggal 23 Ramadhan (bulan puasa) atau “malem patlikur”
(malam tanggal dua puluh empat). Dan telah berlangsung ratusan tahun
lamanya semenjak peristiwa pertama pada 1451 Masehi. Pada tanggal
tersebut masyarakat Desa Gumeno memiliki tradisi memasak kolak ayam
atau orang sana menyebut “sanggring”.

Tradisi ini bermula
tatkala seorang penyebar agama Islam, Sunan Dalem namanya, datang ke
Desa Gumeno dengan niat dakwah. Ia merintis pendirian sebuah masjid
pada 1451 Masehi di desa tersebut. Masjid itu sekarang dikenal dengan
nama Masjid Jami’ Sunan Dalem.

Sehabis bekerja keras mendirikan
masjid dan mempersiapkan perkampungan baru di desa tersebut, tiba-tiba
Sunan Dalem jatuh sakit. Ia memerintahkan warga yang baru pindah dan
menjadi santrinya untuk mencarikan obat. Namun setelah berbagai usaha
telah dilakukan, sakitnya tak kunjung sembuh. Akhirnya, melalui
“sesuatu yang gaib” Sunan Dalem menerima ilham agar sakitnya bisa
sembuh.

Pada moementum yang tepat, Sunan Dalem dengan arif dan
bijaksana akhirnya memerintahkan warga berkumpul di masjid dengan
membawa ayam jago. Lantas dititahkan untuk menyembelih semua ayam jago
yang telah terkumpul.

Kepada beberapa lelaki diperintahkan pula
mempersiapkan bumbu-bumbu untuk diracik menjadi resep masakan oleh
Sunan Dalem. Bumbu racikan ini antara lain daun bawang merah yang
diiris kecil-kecil, gula jawa, jinten dan santan kelapa. Kepada warga
Sunan Dalem mengumumkan kalau dirinya tengah membuat resep masakan
Sanggring, yang tak lain adalah Kolak Ayam.

Ayam yang telah
dipotong dan telah disiangi, hanya diambil dagingnya saja,
“disuwir-suwir” seperti orang “nyuwiri” daging ayam untuk soto.
Selanjutnya daging ayam dan resep masakan diolah memakai kuali dari
tanah liat dan bahan pembakaran dari kayu bakar. Tradisinya hingga
sekarang ini, hanya kaum lelaki saja dalam mempersiapkan dan mengolah
kolak ayam.

Sambil menunggu sanggring atau kolak ayam matang,
Sunan Dalem memerintahkan warga pulang ke rumah. Karena waktu itu bulan
puasa maka kepada warga diperintahkan kembali ke masjid menjelang sore
hari pada saat berbuka puasa dengan membawa nasi dan ketan.

Benar
juga, senja hari itu tepat tanggal 23 Ramadhan, Sunan Dalem
bersama-sama warga Gumeno berbuka puasa di masjid dengan menu spesial
yakni sanggring atau kolak ayam. Jadi kalau sekarang ada acara buka
bersama, bisa jadi mengikuti jejak yang pernah dilakukan Sunan Dalem
dengan warga Gumeno.

Setelah berbuka puasa bersama dengan menu
kolak ayam Sunan Dalem lantas mengumumkan kalau dirinya sembuh dari
sakitnya. Namun demikian Sunan Dalem tetap mengatakan kalau
kesembuhannya tak lain berkat hidayah dan inayah Allah SWT.

Sebagai
ungkapan rasa syukur Sunan Dalem berwasiat kepada warga Desa Gumeno
agar setiap tanggal 23 Ramadhan, yang biasanya disebut “malem
patlikur”, agar ditradisikan membuat kolak ayam tersebut. Dengan
demikian semenjak peristiwa pertama tahun 1451 Masehi itu hingga kini
tradisi kolak ayam selalu diperingati warga Desa Gumeno Kecamatan
Manyar Kabupaten Gresik.

Sumber: Kompasiana.com
Kunjungi selalu http://bango-mania.blogspot.com



      

Kirim email ke