Rantengan Bu Warno, sejak 1930

Empal tradisional istimewa ala Yogyakarta


Olahan empal yang satu ini kondang bukan main di Yogyakarta. Pelanggannya 
bahkan merambah kalangan artis dan pejabat. Tak sedikit pula penggemarnya yang 
menjinjing sang empal hingga ke Tokyo dan Afrika. Padahal lokasi berjualannya 
terletak di tengah Pasar Beringharjo yang relatif panas dan berdesak. Namun 
antrian selalu terlihat disana. Apa ya istimewanya?

DI Yogyakarta, olahan empal seperti ini lebih dikenal dengan nama Rantengan. 
Kata ini diambil dari bahasa jawa yang artinya kurang lebih bermakna lauk pauk 
yang sudah matang di goreng. kalau berbicara soal rantengan, tak luput dari 
nama rantengan Bu Warno yang paling kondang di Kota Pelajar. Maklum saja, usaha 
ini sudah dirintis sejak tahun 1930. "Dulu dirintis oleh nenek saya, Ny. Mangun 
Prawiro," terang Ny. marsih (59), salah satu generasi penerus usaha ini.

Berusia lebih dari 70 tahun

Banyak pembeli dari luar Yogyakarta kerap menyebut hidangan ini dengan nama 
empal. Namun kalau melihat wujud aslinya, sebenarnya ada perbedaan. Rantengan 
dijual dalam ukuran per kilogram. jadi bukan per iris seperti empal pada 
umumnya. Gaya berjualan seperti ini memang sudah berangsung sejak dulu.

Bongkahan daging ini baru diiris jika kita ingin menikmati langsung ditempat. 
Rantengan disajikan dengan sepiring nasi hangat plus sambal ndadak yang selalu 
membuat pelanggannya ingin kembali.

Rantengan diproduksi pertama kali oleh Ny. Mangun Prawiro lebih dari 70 tahun 
yang lalu. Ia dan sang suami merupakan salah satu pasangan abdi dalem pada 
Keraton Pakualaman. Tak jauh dari keraton inilah terdapat salah satu rumah 
penjagalan sapi yang cukup besar. 

Pemandangan daging segar yang dilihat setiap hari akhirnya justru menimbulkan 
ide untuk mengolahnya menjadi rantengan. "jadi itulah awal usaha rantengan 
dimulai," urai Marsih.
Untuk membuat rantengan dibutuhkan waktu yang tak sedikit. Setelah daging 
dibersihkan dan dipotong sesuai ukuran yang diinginkan, kemudian diungkep dengn 
beragam bumbu dapur alami. Namun tidak menggunakan panci atau alat berbahan 
logam lainnya, melainkan sebuah gentong besar berbahan tanah liat. Selain itu 
panas yang digunakan untuk memasak juga bukan kompor, melainkan kayu bakar. 
Bara yang menghasilkan panas konstan ini memungkinkan empal yang dimasak selama 
7-8 jam tanpa menhancurkan teksturnya atau membuatnya hangus. "Bumbunya 
merasuk, namun tekstur dagingnya tetap terjaga," imbuhnya.

Menurutnya, rantengan sangat digemari karena bumbunya yang melimpah, rasanya 
tak terlalu manis dan tidak menggunakan penyedap seperti MSG  sama sekali. 
"jadi empal ini tidakpakai banyak gula, namun mengandalkan bumbu rempah saja," 
tandasnya lagi.

Begitu pula bagian mencuci dan membersihkan daging bisa dilakukan sore hari 
sehabis pulang bekerja atau sekolah. Melalui proses inilah kemampuan membuat 
rantengan mengalami proses kaderisasi secara alami.

Dijual per kilogram

Usaha yang sudah berumur tiga generasi ini terus mempertahankan resep dan 
citarasanya agar tidak berbeda sejak pertama kali dibuat. Tempat produksinya 
pun tidak berpindah tempat. Letaknya disebuah dapur utama, bertempat dikawasan 
Pakualaman, tempat Ny. Mangun Prawiro merintis usaha ini. Dapurnya tidak 
terlalu luas. kesan dapur tradisional khas masyarakat Jawa terlihat sangat 
lekat. Dibagian tengah dapur terdapat 4 tungku batu yang terlihat sudah 
berumur. Dilengkapi wajan raksasa, gentong tanah liat, serta tumpukan kayu 
bakar yang tertata rapi disalah satu sudut dapur.

Jika ingin membeli di Pasar Beringharjo, Anda harus naik ke lantai 2. Disana, 
rantengan dijual dalam sebuah meja kaca dalam kondisi tertata rapi. Jika ingin 
menyantapya, Anda bisa mengirisnya dari bongkahan daging rantengan, lalu 
menggorengnya kembali. Harganya bervariasi mulai dari Rp 160.000 untuk jeroan. 
Sedangkan rantengan daging dibandrol Rp 180.000 per kilogram. Kalau memberi 
campuran daging dan jeroan harganya pun berubah menjadi Rp 170.000 per kilogram.

Jadi jika Anda ingin mengunjungi kota Yogyakarta, jangan lupa mencicipi atau 
membawa empal tradisional nan istimewa ini sebagai oleh-oleh.

Rantengan Bu Warno
Jl. Jagalan Beji PA I/423
Pakualam, Yogyakarta
Telp: (0274) 544407


Tabloid Saji - Rabu, 15 - 28 April 2009

Kirim email ke