Sensasi "Tamparan" Nasi Tempong Sukowidi



Selain
rujak soto yang sudah kondang, Banyuwangi, Jawa Timur, punya nasi
tempong. Sesuai namanya, ”tempong”, yang berarti tamparan, penikmat
kuliner rakyat ini akan serasa ditampar seusai makan. Aduh, apa benar?

Tamparan”
paling kentara dari sajian nasi tempong adalah sambal mentahnya yang
menggigit. Tetapi, tenang saja, sensasi ”tamparan” di Warung Nasi
Tempong Sukowidi itu dapat Anda pilih karena sambalnya dibuat saat
pembeli memesan. Tinggal bilang pada sang peracik sambal, Miyati (55),
mau yang lembut pedasnya, sedang, atau superpedas. Rasa pedas itu baru
akan sampai puncaknya saat Anda benar-benar berhenti menyantap nasi
tempong. Itulah pengalaman menyantap nasi tempong di warung yang
terletak di perempatan Sukowidi, Banyuwangi, Jawa Timur.

”Sudah
pernah di-tempong, Mas? Kalau belum ya seperti itu rasanya,” kata
Miyati seraya terkekeh kepada seorang pembeli yang terlihat kepedasan
di sudut warungnya. Satu gelas es teh di hadapan pembeli itu langsung
tandas.

Rasa pedas sambal ulek Miyati terasa khas. Di antara
rasa pedas itu tersaji juga rasa kecut dan segar sekaligus dari air
jeruk nipis yang diulek bersama serta daun kemangi yang ditambahkan di
hidangan. Belum lagi kesegaran ranti (Solanum lycopersicum), sejenis
tomat sayur, yang permukaan kulitnya bergelombang. Sebagian orang
setempat menyebutnya melinjan karena gelombang-gelombangnya mirip
dengan kumpulan buah melinjo. Sebagian yang lain menyebutnya blondotan.

Terasi teri

Terasi
yang digunakan di warung Miyati juga spesial. Jika umumnya terasi
berbahan udang kering, Miyati menggunakan terasi berbahan dasar teri
nasi. Terasi itu dipesan khusus melalui pedagang di Pasar Banyuwangi.
Terasi ini, kata dia, juga cukup banyak digunakan pedagang nasi tempong
lain maupun sejumlah warga di Banyuwangi.

Aroma dan rasa khas
terasi teri nasi itu dijamin menambah selera mereka yang hobi dengan
sajian berterasi, berpagut manis gula pasir yang ditambahkan di adonan
sambal.

Sambal ulekan Miyati akan menutup seluruh bagian kudapan
nasi panas dan kudapan sayur rebus yang disajikan. Jadi, bagi Anda yang
tidak terlalu doyan sambal, ingatkan sang penjual terlebih dulu.

Bumbu-bumbu
sambal langsung keluar aromanya, bersama dengan kepulan uap panas nasi
yang dikukus menggunakan kukusan dan dandang. Sayur terdiri dari
rebusan daun, batang dan bunga genjer, kacang panjang, terung, atau
bayam. Jika sedang tidak musim genjer, rebusan daun singkong dan atau
daun pepaya menjadi pengganti.

Lauk boleh memilih satu-dua jenis
atau membeli beberapa sekaligus, yakni ayam, telur, serta tongkol atau
lele goreng. Jangan lupa tempe, tahu, dan kerupuk renyahnya. Salah satu
kekhasan lainnya adalah cumi yang dimasak dengan tintanya.

Sengaja dipilih cumi yang bertelur dan ditusuk dengan lidi sehingga telurnya 
tetap berada di dalam tubuh cumi ketika matang.

Jika
Anda penyuka pepes, jangan khawatir. Pepes cumi dan tongkol bisa
menjadi pelengkap nasi tempong seharga Rp 10.000 per porsi ini. Bagi
mereka yang membeli dengan cara dibungkus, bungkusan daun pisang akan
menambah aroma khas yang lain. Bungkusan daun pisang Miyati khas
Banyuwangi, yakni bungkusan pincuk berbentuk segitiga.

”Klangenan”

Selain
nasi tempong sebagai sajian utama, warung Nasi Tempong Sukowidi juga
menyajikan hidangan lain, yakni nasi pecel, pecel lele, nasi lodeh,
serta ayam goreng. Juga ada sajian telur mata setan, yakni telur goreng
yang disajikan dengan saus sebagai alternatif.

”Langganan kami
beragam, mulai dari Jawa Timur hingga Jakarta. Beberapa bulan lalu,
misalnya, ada pelanggan yang sengaja datang ke sini dari Surabaya untuk
sekadar menyantap nasi tempong. Usut punya usut, ternyata istrinya
tengah hamil dan mengidam nasi tempong,” kata Sutardji, suami Miyati,
yang mendapat tugas menyiapkan minuman bagi para pembeli.

Berada
di jalur tembolok atau tempat singgah seperti Banyuwangi tidak sekadar
menjadikan nasi tempong sebagai makanan pengenyang perut, tetapi juga
sebagai makanan klangenan atau nostalgia.

Jaraknya hanya sekitar
tujuh kilometer di sebelah selatan Pelabuhan Penyeberangan Ketapang.
Mereka yang akan atau pulang berwisata ke Bali dapat selalu singgah di
warung-warung nasi tempong di Banyuwangi. Seperti ditegaskan Miyati,
dia hanya akan tutup alias tidak berdagang bila sakit atau kelelahan.
Itu artinya, warungnya buka setiap hari mulai pukul 15.00 WIB.

Pada
hari-hari biasa, seluruh hidangan rata-rata habis sekitar pukul 20.00.
Pada bulan puasa, warung ini dapat buka hingga pukul 00.00. Pada bulan
puasa, warung itu ramai dikunjungi pada saat atau setelah waktu berbuka
puasa. Jadi, jikalau musim mudik Anda lewat Banyuwangi, sempatkan diri
menyambangi Warung Nasi Tempong Sukowidi.

Bermula dari Jajanan Pasar

Akhir
tahun ini usaha keluarga Miyati (55) di perempatan Sukowidi,
Banyuwangi, Jawa Timur, sudah genap berumur 13 tahun meskipun
perjalanan bisnis Miyati sendiri sudah lebih dari 30 tahun.

Ia
mengaku harus merangkak dan tertatih menjalani roda usahanya, mulai
dari menjajakan aneka jajanan pasar di Pasar Banyuwangi sejak
pertengahan tahun 1980-an, lalu mencoba peruntungan berdagang nasi
pecel di terminal serta stasiun kereta api di kota itu.

”Lambat
laun kami berpikir juga, apa mau seperti ini terus dari satu
persinggahan ke persinggahan lain. Saya akhirnya mengambil keputusan
untuk manggon, berhenti di satu tempat khusus dan menetap,” kata
Sutardji (57), suami Miyati. Itulah awal berdirinya Warung Nasi Tempong
Sukowidi.

Tinggal tepat di jalan utama jalur Banyuwangi-Jember
menjadikan keluarga itu lebih mudah melaksanakan niat. Mereka mengambil
bagian muka rumah tinggal mereka untuk dijadikan warung.

Pilihan
nasi tempong semata-mata karena pertimbangan kekhasan daerah. Toh, pada
akhirnya mereka juga tetap mempertahankan menu nasi pecel yang
merupakan jejak sejarah perjalanan keluarga di bisnis mereka saat ini.

Miyati
mengaku tidak perlu waktu terlalu lama untuk menyatu dengan profesi
sebagai peracik nasi tempong. Alasannya jelas, sebagai makanan khas
Banyuwangi, Miyati sudah biasa membuatnya sebagai santapan keluarga di
rumahnya.

Lihat saja, meski pelanggannya meminta sambal tidak
terlalu pedas, lebih banyak manis, atau sebaliknya asin, Miyati tidak
perlu mencicipi sambal racikannya. Ia memang telah melakukan hal itu
sejak awal berdagang nasi tempong. Pelanggannya juga tidak pernah
mengeluh atau protes dengan sambal racikannya. Sensasinya menggoyang
lidah.

”Pokoknya datang dan nikmati sendiri nasi tempong istri saya,” kata Sutardji. 
(BEN/ANG)

Sumber: KOMPAS
Kunjungi blog Bangomania http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke