Kangen Lezatnya Mi Kodon



Mi yang satu ini memang salah satu favorit warga Lampung.
Keistimewaannya adalah minya besar-besar dan dimasak bersama irisan
kol, sawi, suiran ayam kampung, dan udang ebi. Racikan bumbunya yang
manis gurih membuatnya selalu disukai dan bikin kangen. Coba yuk!

Pada
suatu minggu pagi di bulan Ramadhan, saya asik membaca sebuah tabloid
mingguan. Secara tidak sengaja mata tertumbuk satu artikel yang
membahas kuliner wajib coba apabila berkunjung ke Lampung. Tema yang
sedang dibahas adalah ikan bakar, tapi ingatan saya malah melayang ke
masa-masa saat suami masih berkantor di kota Bandar Lampung.

Apabila
ada acara kantor yang mewajibkan para istri datang maka datanglah saya
dari Jakarta menumpang kapal ferry. Nah, bila acara telah selesai ini
dia yang ditunggu-tunggu. Ada satu tempat kuliner wajib kunjung buat
saya karena rasanya yang ngangenin banget yakni mi Kodon.

Rupanya
mi Kodon sudah dikenal masyarakat Bandar Lampung sejak lama, yakni
sejak sekitar awal tahun 2000-an. Waktu yang yang tepat buat berkunjung
ke sini adalah jam 4 sore, karena memang baru buka. Tetapi jangan
terlambat, karena mi ini akan segera habis di waktu magrib sebab
diserbu para penggemarnya. Lokasinya ada di Jl. Ikan tenggiri, Teluk
Betung tepatnya di depan taman Dipangga, di seberang Polda Lampung.

Tempatnya
sih sederhana banget berupa gerobak mi dipinggir jalan dan tempat
makannya pun dibawah tenda terpal. Tapi tempat makan tersebut tidak
bisa menampung para penggunjung yang datang, sehingga banyak antrian
mobil parkir baik didepannya maupun diseberang jalan.

Sama
seperti kami ini yang selalu kebagian parkir di seberang jalan raya.
Cara pesannya cukup buka jendela mobil dan bilang sama tukang parkirnya
mau pesan mi, maka tak lama asisten tukang mi datang menanyakan
pesanan. Menu yang ditawarkan hanya dua yaitu mi goreng dan mi rebus.
Mi goreng tampil berwarna coklat dengan balutan kecap sehingga rasanya
cenderung manis gurih, sedangkan mi rebus berwarna putih tanpa kecap
sehingga terasa segar dan rasanya cenderung gurih asin.

Kami
berdua selalu memesan seporsi mi goreng dan mi rebus. Sambil menunggu
pesanan datang harus agak sabar menanti karena yang beli antri.
Biasanya sih saya membaca koran sore yang banyak ditawarkan tukang
koran keliling.

Nah, itu dia mas nya datang sambil membawa dua
piring pesanan kami yang terpaksa ditutupi kertas coklat karena harus
menyebrangi jalan. Mi Kodon adalah mirip dengan mi tek-tek kalau di
Jakarta atau mirip mi Jogja kalo di Jawa. Keistimewaannya adalah bentuk
mi yang gemuk-gemuk, lebih besar dari biasanya yang dimasak bersama
suwiran ayam kampung, udang ebi, irisan kol, sawi serta racikan
bumbunya itu loh meresap banget, pas gurih asin manisnya.

Taburan
ebi yang tidak pelit membuat rasa ebi menonjol, tapi tidak amis malah
menimbulkan rasa gurih mengelus lidah. Minya pun kenyal dan lembut
hmm... enaknya. Sampai sekarang saya belum pernah menemukan sajian
serupa di Jakarta, jadi wajar aja kalau mi yang satu ini ngangenin.

Tak
lama mi pun telah habis kami santap dan kami cukup membayar Rp 8.000,00
untuk seporsi mi. Rasa yang enak tak perlu selalu mahal kan? Setelah
perut kenyang biasanya kami jalan-jalan sebentar menghirup udara sore
di kota Lampung yang kecil, sambil menunggu azan Maghrib. Ah indahnya
memori ini! (dev/Odi/Kania kurniasari)

Mi Kadon
Jl. Ikan Tenggiri
(dekat bundaran patung gajah)
Teluk Betung
Bandar Lampung

Sumber: detikFood
KUNJUNGI SELALU http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke