Obsesi Waralaba Keripik Jamur Tiram



Tahun
2006 merupakan tahun perkenalan pasangan Tri Sugiatno dan Wiwik
Widiastuti dengan jamur tiram (Pleurotus ostreatus). Namun, hanya dalam
waktu tiga tahun, mereka berhasil membudidayakan jamur dan mengolahnya
menjadi keripik sehingga menghasilkan pendapatan jutaan rupiah.

Perkenalan
itu dimulai saat Wiwik datang ke acara lomba desa di Kecamatan Wungu,
Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Di sana, hasil budidaya jamur tiram
petani menjadi salah satu peserta lomba. Setelah melihat dan mengetahui
budidaya jamur itu mudah dan murah, Wiwik pun terdorong
membudidayakannya.

”Hanya coba-coba awalnya,” ujar Wiwik. Latar
belakang Tri adalah lulusan jurusan mesin Universitas Merdeka, Madiun.
Wiwik lulusan jurusan ekonomi Universitas Merdeka, Malang. Namun,
ketidaktahuan mereka mengenai budidaya jamur tidaklah menjadi
penghalang.

Dibelilah 200 bag log (campuran bibit jamur, serbuk
kayu, bekatul kapur kawur, dan pupuk dalam plastik) seharga Rp 300.000.
Bag log itu lalu disusun di kumbung (rumah jamur) berdindingkan anyaman
bambu seluas 42 meter persegi, di samping rumahnya di RT 29 RW 3
Jatirogo, Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.

Hanya
dengan disiram air bersih setiap hari, jamur berwarna putih bertumbuhan
di setiap bag log. Dalam waktu satu bulan, jamur sudah bisa dipanen.
Jamur itu terus muncul sampai empat hingga lima bulan berikutnya,
sebelum kemudian bag log harus diganti baru.

Jamur putih yang
dipanen sekitar lima kilogram setiap hari itu lalu dijual ke
tetangganya Rp 8.000 per kilogram. Tanpa dinyana, mereka tertarik
membeli guna dipakai membuat sayuran.

Banyaknya peminat itulah
yang mendorong Wiwik dan Tri menambah jumlah bag log sampai akhirnya
tahun 2007 sebanyak 1.000 bag log dibudidayakan di kumbung. Hasilnya,
setiap hari mereka panen sampai 30 kilogram jamur putih.

Namun,
banyaknya jamur putih yang dipanen itu justru membingungkan Wiwik dan
Tri. Pasalnya, dari 30 kilogram hasil setiap hari, hanya sekitar 5
sampai 10 kilogram yang bisa terjual. Sisanya, menumpuk di gudang, tak
ada pembelinya.

Dari situlah Tri lalu berpikir mengolah jamur
tiram menjadi keripik, tetapi tidak mudah diwujudkan. Percobaan membuat
keripik jamur tiram tidak kunjung berhasil. ”Ada yang keripiknya
melempem, ada yang rasanya enggak enak,” kata Tri.

Sampai pada
percobaan memasak ke-10, Tri dan Wiwik menemukan takaran yang pas.
Jamur tiram yang digoreng dengan dicampur tepung terasa gurih dan enak
rasanya.

Dengan pegangan ”resep rahasia” itu, keduanya memasak
sekitar lima kilogram jamur untuk dijadikan keripik. Ada dua jenis
keripik yang dijual, keripik berkualitas baik dijual Rp 70.000 per
kilogram. Keripik yang nomor dua dijual Rp 1.250 per kemasan kecil.

Keripik
jamur tiram awalnya dicoba dijual ke tetangga, warung, dan restoran
sekitarnya. Awalnya ada penolakan karena sejauh yang mereka tahu jamur
bisa membuat keracunan. Namun, setelah keripik dicoba dan aman, mereka
pun membelinya dan menjadi pelanggan tetap.

Permintaan mengalir

Penyebaran
dari mulut ke mulut membuat keripik kian dikenal. Awal 2009, permintaan
bertambah, tetapi produksi jamur tiram terbatas.

”Permintaan
datang dari luar Madiun, seperti Banjarmasin, Samarinda, Riau, dan
Madura. Ada eksportir dari Lumajang yang menawarkan ekspor produk saya.
Banyak juga tenaga kerja Indonesia yang membawa keripik saya untuk
dijual di luar negeri,” ujar Tri.

Tri pun mencoba bekerja sama
dengan 11 petani jamur di wilayah Dungus dan Kresek, Madiun. Jamur
petani dibeli Rp 8.500 per kilogram ditambah jamur budidaya sendiri,
Tri dan Wiwik mendapatkan jamur setengah kuintal per hari. Jamur
dimasak dengan enam penggorengan untuk menghasilkan setengah kuintal
keripik per hari.

Omzet penjualan keripik sekitar Rp 3 juta per
hari. Penghasilan bersih sekitar 10-20 persen dari omzet, antara Rp
300.000 sampai Rp 600.000. Padahal, tiga tahun yang lalu, omzet dari
menjual jamur tiram putih hanya Rp 40.000 per hari.

Ternyata
jumlah produksi itu belum cukup memenuhi permintaan, terutama seperti
mendekati Lebaran. ”Permintaan naik 100 persen. Butuh satu kuintal
jamur tiram putih per hari untuk memenuhi permintaan. Hanya separuh
permintaan yang dipenuhi,” kata Tri.

”Budidayanya mudah, murah,
dan potensi pasarnya besar, tetapi sayang tidak banyak warga yang
mengetahui hal ini sehingga ragu membudidayakannya,” tambahnya.

Karena
itu, setiap kali warga atau mahasiswa datang belajar budidaya jamur
tiram, dia memberikan pelajaran gratis. Biar semakin banyak orang mau
menanam jamur tiram. Jika pasokan jamur tiram itu terbatas, obsesinya
membuat waralaba keripik produksinya pun terganjal.

Dia harus
berkutat sendiri dengan usahanya karena perhatian Pemerintah Kabupaten
Madiun, terutama Dinas Pertanian pada pengembangan budidaya jamur
sangat minim. Padahal, budidaya itu bisa menambah kesejahteraan petani.

”Perhatian
pemerintah baru muncul kalau mengadakan acara. Kami diperebutkan oleh
dinas-dinas yang mengklaim kami sebagai industri binaan mereka,” kata
Tri sambil tersenyum. (A Ponco Anggoro)

Sumber: KOMPAS
Kunjungi selalu bloh BANGOMANIA di http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke