Nasi Item dan Kabut Punclut 

Seperti kunang-kunang raksasa, warung-warung nasi bersinar terang di puncak 
perbukitan Punclut yang gelap. Di tempat itulah, setiap malam ratusan orang 
menyantap berbagai masakan Sunda sambil menatap kerlap-kerlip lampu kota di 
kejauhan. Ah, makan malam pun jadi terasa amat menyenangkan.

Malam itu, Rabu (2/12), kami memilih makan di warung Sangkan Hurip, satu dari 
sekitar 20 warung di perbukitan Punclut di kawasan Ciumbuleuit, Bandung, Jawa 
Barat. Pertimbangannya sederhana saja, Sangkan Hurip adalah warung yang lebih 
besar daripada yang lain dan saat itu lebih ramai pengunjung.

Soal menu, hampir semua warung menyediakan masakan yang nyaris sama. Jualan 
utamanya adalah nasi item yang berasnya didatangkan langsung dari Cibeusi, 
Subang, Jawa Barat, atau nasi merah.

Kedua jenis nasi yang menjadi ikon warung-warung di sana disajikan dengan 
beragam menu masakan Sunda, seperti pepes peda, pepes tahu, pepes jamur, pepes 
oncom, tuktuk oncom, ikan bakar, ikan goreng, tahu dan tempe goreng, aneka 
sambal, dan aneka lalapan mulai dari daun selada, timun, daun pohpohan, hingga 
pete bakar. Jenis minuman yang disajikan juga nyaris serupa, yakni teh, kopi, 
susu panas, dan bandrek.

Daya tarik warung-warung di Punclut barangkali bukan pada aroma makanannya, 
melainkan suasana alam di sekitarnya yang menawan, terutama pada waktu malam. 
Itu sebabnya, seusai santap malam, pengunjung umumnya tidak langsung pulang, 
tetapi memilih duduk berleha-leha sambil memandang kejauhan yang memesona.

Malam itu, kami memilih nasi item, pepes peda, pepes oncom, ayam goreng, tahu 
tempe goreng, lalapan, dan sambal terasi. Daging peda yang beraroma tajam 
terasa nikmat disantap dengan pulennya nasi item dan pedasnya sambal terasi.

Untuk minuman, kami memilih bandrek kental dicampur serutan kelapa muda. Rasa 
jahe dan kayu manis yang tajam berpadu serasi dengan manisnya gula merah dan 
gurihnya kelapa muda.

Setelah makan malam, kami duduk sambil memandang lampu-lampu yang 
berkerlap-kerlip di kejauhan perbukitan Dago. Jika sudah bosan, kami memandang 
langit yang malam itu pun bertabur bintang. Ah, alangkah besarnya karunia alam!

Warung-warung lesehan tanpa dinding yang sering disebut jongko itu memang cocok 
jadi tempat nongkrong. Umumnya jongko yang berdiri di tepi tebing itu cukup 
luas dan bisa menampung sekitar 100 orang sekaligus.

Sangkan Hurip, misalnya, terdiri dari tiga jongko dengan ukuran masing-masing 
sekitar 10 meter x 20 meter, sementara warung Mak Enik berukuran 8 meter x 18 
meter. Jongko-jongko itu juga buka 24 jam penuh.

Menjelang dini hari, udara dingin mulai menembus jaket tipis yang kami kenakan. 
Seiring dengan itu, kabut turun perlahan dan menyapu semua kerlap-kerlip lampu 
dan bintang. Pemandangan tiba-tiba didominasi putihnya kabut dan pekatnya malam.

Ketika hari berganti siang, pengunjung bisa melihat kemacetan lalu lintas, 
rumah-rumah, hotel, dan bangunan tinggi yang saling berdesakan, serta tiang 
listrik dan menara yang adu tinggi nun jauh di Kota Bandung.

Malam yang indah dan siang yang ruwet. Itulah sepenggal wajah Kota Bandung yang 
bisa disaksikan dari jongko-jongko di perbukitan Punclut. Dua pemandangan yang 
sama-sama mengejutkan, terutama buat orang yang baru pertama kali bertandang ke 
sana.

Bersusah payah

Sebenarnya, berbagai ”kejutan” itu sudah terasa sejak perjalanan menuju pusat 
jajan di perbukitan Punclut itu. Dari arah Kota Bandung, kami melalui Jalan 
Ciumbuleuit dan terus menanjak ke arah Rumah Sakit Paru TNI Angkatan Udara.

Selanjutnya, kami melalui jalan-jalan sempit, curam, dan berlubang-lubang. 
Menurut sejumlah orang, jalur itu sering dijadikan tempat latihan pengendara 
sepeda motor off-road.

Kami mengira telah kesasar ketika jalan yang kami lintasi memasuki kebun-kebun 
yang gelap dan bersemak. Namun, setelah lepas dari daerah itu, tiba-tiba kami 
sampai di depan deretan jongko yang terang benderang.

Letaknya di perbatasan Kota Bandung dan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. 
Suasana di sana cukup ramai. Rombongan pengunjung datang dan pergi dengan mobil 
atau sepeda motor.

Adiana (22), putra Pak Idas dan Nyonya Diah, pemilik Sangkan Hurip, mengatakan, 
banyak orang tidak mengira di kawasan tersembunyi di lereng bukit ada pusat 
nongkrong dan makan enak yang tidak pernah tidur. ”Di sini, hampir semua warung 
buka 24 jam,” ujar Adiana.

Pada pagi hari, tambahnya, warung-warung makan di Punclut ramai dikunjungi 
orang- orang yang pulang berolahraga. Pada siang hari, orang kantoran yang 
sengaja datang ke sana untuk bertualang kuliner.

Pada malam hari, giliran anak-anak muda yang nongkrong sampai pagi. Setiap 
akhir pekan, omzet Sangkan Hurip rata-rata Rp 9 juta. Pada hari kerja, omzet 
sekitar sepertiga atau setengahnya. ”Warung-warung di sini hanya sepi kalau 
hujan turun atau kalau ada pertandingan Persib,” katanya. Punclut membuktikan, 
makan tidak sekadar mengisi perut, tetapi selera juga harus dibangkitkan dengan 
lanskap alam yang memesona. Setelahnya, Anda siap menjadi penyantap 
terlahap.... (Budi Suwarna & Rini Kustiasih)

Sumber: KOMPAS
Kunjungi selalu BLOG BANGOMANIA di http://bango-mania.blogspot.com/


      

Kirim email ke