Soal makanan jawa timur, di daerah Jakarta Selatan, di depan rumah sakit 
fatmawati, tepatnya di halaman kantor pos jaksel. Ada warung tenda yang mak 
nyus… bukanya malam hari. Dan rame sekali pembelinya. Kalau makan di sana 
serasa di Jawa Timur saja..hehe

 

Selamat menikmati : Tahu campur-Rujak Cingur-Tahu Tek-Tahu Telor-Tahu 
lontong-Sate Kerang-dll

Alamat: 

Halaman Kantor Pos Jaksel, Depan RS Fatmawati

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of Abdur Rohman
Sent: Monday, February 01, 2010 3:38 PM
To: [email protected]
Subject: [bango-mania] Ngobati Kangen Pecel Madiun

 

  



Ngobati 
<http://bango-mania.blogspot.com/2010/02/ngobati-kangen-pecel-madiun.html>  
Kangen Pecel Madiun 


 <http://food.detik.com/images/content/2010/02/01/288/slpecelmadiunbsr.jpg> 
Image removed by sender.
JAKARTA | Bobot rasa kangen makanan bisa sama hebatnya dengan kangen pacar. 
Apalagi kalau mencicipi pecel khas Madiun ini. Sambalnya gurih pedas, mlekoh 
dengan taburan mlandingan, kemangi dan timun plus rempeyek teri. Setelah diaduk 
dan disuap dengan kerupuk gendar hmm... sensasinya memang jadi enak dan sedap!

Yang jadi gara-gara adalah BBMan larut malam dengan seorang teman. Bahasan 
gossip, suasana hati sampailah pada soal makanan. Topik yang agak detil dibahas 
ya pecel Kediri. Aduuh, diskripsi bumbu plus rempeyek dan kerupuk gendar yang 
renyah meriah benar-benar bikin air liur titik di larut malam!

Celakanya bayangan pecel Kediri tak juga lenyap keesokan harinya. Padahal kalau 
bicara soal pecel, makanan sederhana ini banyak jenisnya di Jawa. Ada pecel 
Blitar atau pecel Madiun yang sebenarnya lokasinya tak jauh-jauh benar dari 
kota Kediri, sebuah kota kecamatan di Jawa Timur. Di Jakarta juga bertebaran 
warung pecel tersebut.

Meskipun berlabel pecel Kediri tetapi tidak semua penjual benar-benar meracik 
bumbu dan tampilannya seperti pecel Kediri asli. Entah kebetulan atau memang 
keberuntungan, saat pagi itu saya menuju TMII untuk sebuah acara kuliner. 
Lokasinya tak jauh dari Pecel Madiun Taman Melati, tak jauh dari anjungan 
Kalimantan Tengah. Wah, ini dia pucuk dicinta pecelpun tiba! Taka da pecel 
Kediri, pecel Madiunpun jadi!

Sengaja tak mengisi perut terlalu banyak, usai acara sayapun langsung mampir ke 
warung makan yang sederhana ini. Interiornya serba bamboo dan kayu. Ada 3 meja 
dengan kursi segi empat menyambung di sisi kanan. Selebihnya meja kursi bersi 
berlapis rotan. Pelayan berseragam batik dan memakai blangkon langsung 
menghampiri meja dengan segelas air putih plus sepiring kecil kacang rebus. Air 
putih bisa ditambah langsung dair kendi tanah liat yang ada di tengah meja.

Menu yang utama ya makanan khas jawa Timue. Ada pecel madiun, sambal tumpang 
bandar kediri, rawon Purbolinggo, ayam/lele mujair penyet, tahu/tempe penyet, 
lempeng gapit, dan sambal brambang asem. Ada juga menu khas Suroboyo, tahu 
telor, tahu, gunting, rujak cingur plus gadon dan bothok.

Ya pilihan saya sudah pasti pecel madiun tanpa nasi, plus sambal brambang asem 
dan es dawet pagotan. Di tengah meja ada wadah plastik berisi side dish, lauk 
pendamping pecel: empal, bacem paru, bacem tahu dan tempe, telur asin, 
tahu-tempe goreng, sate ati ampela ayam. Stoples berisi rempeyek kacang/teri 
plus kerupuk gendar.

Pecel disajikan dalam porsi kecil di piring kaca beralas daun pisang. Ada 
kangkung, kacang panjang, daun singkong, daun papaya, plus tauge. Disiram bumbu 
pecel yang agak cokelat pucat dengan taburan irisan timun, kemangi, mlandingan 
alias petai cina dan rempeyek teri. Sedikit serundeng plus orek tempe 
disandingkan di sisinya.

Setelah diaduk rata, suapan pertama langsung terasa sengatan gurih-gurih pedas, 
tak ada jejak manis berlebihan, aroma daun jeruk plus kencurnya beriringan 
memperkuat rasa gurih kacang. Justru yang terasa agak kuat aksen asam Jawa di 
ujung lidah. Rasa renyah sayuran dan manis serundeng dan tempe orek memberi 
kombinasi sedap di lidah.

Sambal brambang asem khas Solo yang saya pesan disajikan dalam cobek sedang, 
warnanya cokelat kemerahan, encer didampingi sepiring daun singkong dan daun 
papaya muda rebus. Wah, tak sabar sayapun mencocolkan sambal brambang yang 
pedas dengan balutan manis gula Jawa yang kuat. Saya salah sangka ternyata lama 
kelamaan rasa pedas mulai menggigiti lidah. Ini mungkin lantaran saya menambah 
seporsi dedaunan rebus itu!

Rasa panas di lidahpun saya redam dengan es dawet yang wanrnanya hijau dnegan 
sirop gula aren dan irisan nangka yang royal. Sayang sekali dawetnya tidak 
dibuat dari air daun pandan suji asli sehingga tak seimbang dengan sirop gula 
yang sudah wangi dan nangka yang segar legit. Tetapi lumayanlah bisa menumpas 
rasa pedas di lidah.

Sepertinya lain kali saya harus mampir lagi untuk mencicipi sajian menu penyet 
yang saya lihat paling banyak dipesan orang selain pecel. Atau seporsi sambal 
tumpang bandar kediri. Untuk harga relatif tak mahal mengingat lokasinya di 
kawasan wisata, seporsi pecel Madiun Rp. 6.500,00, sambal brambang asem Rp. 
7.500,00 dan segeals es dawet Rp.6.000,00. (dev/Odi) 

Pondok Pecel Madiun
Taman Melati
TMII (di sebelah taman melati, di seberang Anjungan Kalimantan Tengah)
Jakarta Timur
Telpon: 021-8409462; 021-33418261
Jam Buka : 08.00 – 16.00

sumber: detikFood 
<http://food.detik.com/read/2010/02/01/132011/1290239/288/ngobati-kangen-pecel-madiun?882205284>
 
Kunjungi BLOG BANGOMANIA di http://bango-mania.blogspot.com/

 



<<~WRD000.jpg>>

<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke