Sensasi Kuliner Nusantara

Di tengah serbuan makanan cepat saji dan restoran luar negeri, makanan 
Nusantara boleh dibilang justru makin naik daun. Warung makan khas Tanah Air 
berkreasi memodifikasi cita rasa, memodernkan penyajian dan pelayanan. Plus 
mengembangkannya dengan waralaba. Sejumlah festival makanan khas Indonesia pun 
makin gencar digelar.

Ikut menyemarakkan kemeriahan kuliner Tanah Air dann menyambut kemerdekaan RI 
ke-64, kami menyajikan Edisi Kuliner Nusantara, yang menampilkan makanan khas 
andalan sejumlah daerah berikut tempat makan yang menyediakan menu 
bersangkutan. Karena begitu banyaknya menu, tentu semuanya tak bisa kami 
sajikan.

"Terselenggaranya berbagai festival kuliner tentulah akan makin mendongkrak 
popularitas kuliner Nusantara".

Aroma sedap masakan Nusantara kini kian meruak. Kuliner lokal telah 
meninggalkan masa suram ketika beberapa tahun lalu terdesak oleh merebaknya 
resto-resto waralaba asing yang gencar berpromosi seiring dengan menjamurnya 
mal-mal di kota-kota besar. Saat itu, menurut pegiat komunitas kuliner Radityo 
Djajoeri, kehadiran resto-resto siap saji itu dapat dengan cepat mengubah gaya 
hidup mayarakat kota dalam bersantap. "Orang yang menyantap fast food seolah 
mencapai gaya hidup tingkat tinggi," tulis praktisi masakan Yuyun Alamsyah 
dalam bukunya, Bangkitnya Bisnis Kuliner Nusantara (2008).

Namun, kini, perlahan tapi pasti, restoran masakan tradisional mulai percaya 
diri bersanding dengan resto waralaba asing, yang menyediakan masakan siap saji 
macam pizza, yoghurt, hamburger, dan fried chicken. Bahkan, seperti kata pakar 
kuliner Bondan Winarno, kuliner Nusantara selama beberapa tahun terakhir ini 
"naik daun" di semua strata, mulai kaki lima hingga fine dining.

Masakan-masakan "kampung" itu masuk mal dan pusat belanja elite serta hotel 
berbintang. Dapur Sunda, musalnya, restoran yang memanjakan pengunjung dengan 
menu tradisional tanah Parahyangan, melebarkan sayapnya di tempat-tempat 
bergengsi, seperti di Pondok Indah Mall dan Mal Pacific Place. Begitu pula 
dengan Ayam Goreng Fatmawati, Waroeng Podjok, Warung Daun, yang menyuguhkan 
masakan Nusantara dengan desain dan suasana daerah.

Walau demikian, untuk mereka yang dompetnya tipis, rumah makan Nusantara juga 
hadir di luar mal, dengan harga yang murah meriah, dengan strategi yang berbeda 
dengan yang ada di mal-mal. Tak harus selalu di tempat bergengsi dan, seperti 
kata Bondan Winarno, tak perlu semua warung soto menjadi restoran. "Mereka juga 
akan kehilangan konsumennya yang tipikal. Di Jepang saja orang masih makan di 
kaki lima, kok. Bahkan, turis pun suka mencoba honest food seperti itu, yang 
disajikan secara orisinal," ujar Bondan kepada Tempo via e-mail.

Kreativitas para pengusaha warung makan Nusantara pun cukup menonjol agar tetap 
digemari. "Dalam bisnis kuliner, faktor kreativitas amat penting," ujar 
Radityo. Dalam pengamatan Radityo, pengusaha kuliner mengkreasi hidangan dengan 
cita rasa yang lezat selain menyadari segi higienitas dan penampilan menawan 
saat disajikan. "Selain mengandalkan resep yang otentik warisan leluhur, kini 
mulai bermunculan fusion food -makanan tradisional yang dikemas secara baru." 
Radityo menyebut contoh bebek rasa madu dan bakso keju.

Satu lagi kreativitas pengusaha kuliner Nusantara, mereka mengembangkannya 
dengan waralaba, sistem yang selalu identik dengan standar pelayanan, mutu 
produk, dan harga yang ditawarkan.

Dengan demikian, kuliner Nusantara pun naik daun dan dikenal luas, yang diakui 
oleh para pegiat kuliner tak lepas dari peran media, khususnya televisi. Dalam 
beberapa tahun belakangan ini, kuliner Nusantara telah jadi kemasan program 
televisi, seperti acara Wisata Kuliner di Trans TV asuhan Bondan Winarno, Bango 
Cita Rasa Nusantara di Indosiar dengan pemandu program aktor Surya Saputra, dan 
Santapan Nusantara di TPI. Adapun Metro TV juga punya acara serupa asuhan 
William Wongso.

Tak hanya membuat kuliner Nusantara dikenal luas, acara kuliner di televisi 
memunculkan kesadaran dan ketertarikan yang besar terhadap kuliner Nusantara. 
"Ketika kuliner mulai diwacanakan secara luas, masyarakat pun menyadari apa 
yang selama ini terabaikan," ujar Bondan.

Sementara, penyelenggaraan festival kuliner di sejumlah kota turut andil dalam 
menciptakan kegairahan masyarakat terhadap masakan daerah. Di Jakarta, pada 
pertengahan Mei lalu, diselenggarakan festival makanan Warisan Enak di UKM 
Gallery. Pada kegiatan itu, sejumlah makanan asli daerah memanjakan para 
pendatang untuk menikmati makanan daerah masing-masing. Bulan sebelumnya, 
pertengahan April, juga di Jakarta, digelar kegiatan serupa, yakni Gebyar 
Kuliner Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah, yang diikuti tim dari berbagai 
provinsi di Indonesia.

Kota-kota di luar Jakarta pun tak mau kalah. Di Kota Malang, Jawa Timur, 
misalnya, pada Mei lalu diadakan Festival Malang Kembali IV, yang menyuguhkan 
makanan tradisional, seperti sayuran dari tempe yang disebut orem-orem.

"Ini tren yang bagus," komentar Bondan. "Terselenggaranya berbagai festival 
kuliner tentulah akan makin mendongkrak popularitas kuliner Nusantara" ujar 
Bondan. Selain itu, event ini, kata Radityo. "dapat kian menumbuhkan kecintaan 
masyarakat terhadap makanan warisan leluhur."
Tak hanya festival , kuliner Nusantara dilengkapi juga oleh terbitnya 
buku-buku. Sejumlah penulis dan penerbit meluncurkan buku-buku dari resep 
sampai bisnis masakan Nusantara. Buku yang berisi resep, termasuk cara 
pembuatannya, antara lain Kuliner Nusantara Pilihan (2008) karya Yuni Pradata, 
dan 80 Warisan Kuliner Nusantara (2008) oleh tim Media Boga Utama. Ada pula 
buku yang mengungkap resep-resep aneka hidangan yang menjadi favorit Sri Sultan 
Hamengku Buwono VI hingga IX, yakni Warisan Kuliner Kraton Yogyakarta (2008) 
karya Nuraida Joyokusuma. Adapun buku yang menyingkap bisnis adalah Bangkitnya 
Bisnis Kuliner Tradisional (2008), ditulis Yuyun Alamsyah.

Sementara itu, munculnya komunitas-komunitas penggemar masakan Indonesia bisa 
dibilang turut mengukuhkan bangkitnya kuliner Nusantara. Komunitas-komunitas 
itu, yang bertujuan melestarikan kuliner Nusantara, di antaranya Komunitas 
Pecinta Kuliner Nusantara dan Komunitas Bangomania. Yang disebut terakhir 
terbentuk karena dipicu oleh kesamaan menyukai sebuah kecap dengan merek 
tertentu, walau tidak berada di bawah naungan produsen kecap tersebut. 
Komunitas pimpinan Radityo ini bermula pada Maret 2007 dari diskusi online di 
milis, kini anggotanya mencapai sekitar 4.300 orang. Tak cuma ngobrol soal 
makanan, komunitas ini juga melakukan kegiatan nyata, seperti menggelar wisata 
kuliner dan festival kuliner di sejumlah kota.

Ngarto Februana / Oktamandjaya Wiguna

Koran Tempo - Minggu, 16 Agustus 2009

Kirim email ke